<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934</id><updated>2011-12-07T04:09:50.663-08:00</updated><category term='SERBA SERBI'/><category term='MUSIK'/><category term='KESEHATAN'/><category term='MATEMATIKA'/><category term='ANAK GUNUNG'/><category term='PENDIDIKAN'/><title type='text'>My Long Journey</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>49</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-2937541206048533625</id><published>2010-07-09T02:38:00.000-07:00</published><updated>2010-07-09T02:38:33.484-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><title type='text'>Cara Cepat Menghafal</title><content type='html'>Setiap orang pasti ingin pintar. Gak ada insan di dunia ini yang mau menjadi bodoh, ataupun memperbodohi diri sendiri. Sebagai mahasiswa dan pelajar, ataupun semua yang masih menuntut ilmu, pasti pernah merasakan sulitnya belajar, sulitnya menghafal. Apalagi yang di hafal mengenai tulisan atau bacaan yang jarang kita konsumsi, contohnya seperti menghafal bait-bait al-quran, rumus-rumus matematika, kimia, fisika, istilah-istilah yang gak ngerti apa artinya, dan yang lain yang membuat kita jengah, ya kan???&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Nah kali ini, saya akan berbagi bersama teman-teman semua, gimana agar kita semua mudah menghafal. Yah, sebenarnya saya juga belum sempurna mempraktekkannya, jadi hasilnya belum maksimal. Tapi insyaallah akan lebih di maksimalkan lagi, mengingat sekarang saya dah duduk di semester VI, mata kuliah dah mulai ngejelimet dan memeras otak saya banget.&lt;br /&gt;1. Bersungguh - sungguh dan kontinuitas dalam mempelajari semuanya.&lt;br /&gt;Segala sesuatu harus dimulai dengan niat yang sungguh-sungguh. Jika ingin&lt;br /&gt;mendapatkan hal yang maksimal, tentu kita harus berusaha maksimal juga kan?? :o&lt;br /&gt;Trus,,hal itu harus dilakukan secara kontinue, jangan cuma mentok disana2 aja.&lt;br /&gt;2. Menyedikitkan makan&lt;br /&gt;Menurut dr. Syafrina, banyak makan membuat kita merasa ngantuk, Kenapa??? Karena&lt;br /&gt;stimulasi makanan yang kita makan akan mempengaruhi kerja sistem otak kiri, yang&lt;br /&gt;cenderung berpikir enak. Stimulus itu akan mempengaruhi daya otak, menjadi cepat&lt;br /&gt;lelah, dan akhirnya mengantuk. Hehehehe&lt;br /&gt;3. Membiasakan melakukan shalat sunah di sepertiga malam yang akhir, seperti: Tahajud&lt;br /&gt;Disaat ini lah kita memohon dan berdoa kepada Tuhan yang maha mengetahui, kaya&lt;br /&gt;akan ilmu.&lt;br /&gt;4. Membiasakan diri membaca Alquran&lt;br /&gt;Setelah membaca al-quran, biasanya pikiran kita akan tenang, dan otomatis akan&lt;br /&gt;membuat kita tenang dalam mempelajari dan menghafal pelajaran.&lt;br /&gt;5. Membiasakan membaca bacaan berikut sebelum membuka, membaca, dan atau menghafal&lt;br /&gt;kitab/pelajaran:&lt;br /&gt;"Bismillaahi wa subhaanallaahi wal hamdu lillaahi wa laa ilaa ha illallaahu&lt;br /&gt;wallaahu akbar wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahil 'aliyyil 'adhiim. al- 'aziizil 'aliim"&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;"Dengan menyebut nama Allah, Mahasuci Allah dan segala puji bagi Allah, tiada&lt;br /&gt;Tuhan selain Allah dan Allah Mahabesar, dan tiada daya dan kekuatan melainkan&lt;br /&gt;dari Allah Yang Mahaluhur lagi Mahaagung, Mahamulia, dan Maha Mengetahui."&lt;br /&gt;6. Setiap selesai shalat fardhu lima waktu membaca:&lt;br /&gt;Aamantu billaahil waahidil ahadil haqqi wahdahu laa syariikalahu wa kafartu bimaa&lt;br /&gt;siwaah&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;"Aku percaya kepada Allah Yang Mahaesa ZatNya, sifat-sifatNya, dan perbuatanNya,&lt;br /&gt;yang hak berdiri sendiri, tiada sekutu bagiNya, dan aku mengingkari sesuatu&lt;br /&gt;selain Allah."&lt;br /&gt;7. Memperbanyak bershalawat kepada Nabi saw, menghindari dosa, dan meninggalkan&lt;br /&gt;maksiat&lt;br /&gt;8. Membiasakan diri sikat gigi (bersiwak)&lt;br /&gt;9. Meminum madu, memakan anggur merah 21 buah setiap pagi sebelum makan apa-apa,&lt;br /&gt;juga makan kurma minimal 7 buah setiap hari&lt;br /&gt;10 Tidak membicarakan sesuatu yang sia-sia, sedikit bergurau, bergaul dengan ulama&lt;br /&gt;dan orang-orang sholeh&lt;br /&gt;11 Ilmu yang didapatkan tidak semata untuk memperoleh kenikmatan duniawi, namun juga&lt;br /&gt;diniatkan untuk memperoleh ridho ilahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, itulah sedikit tips yang saya peroleh dari Kitab"Ta'limul Muta'allim Thariqit Ta'allum karya Syeikh Tajuddin Nu'man bin Ibrahim bin Al-Khalil Zarnuji, yang disyarah(diberi komentar) oleh Syeikh Ibrahim bin Ismail. Semoga bisa diamalkan, dan mendapat kemudahan dalam menggapai cita-cita. Amin.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-2937541206048533625?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/2937541206048533625/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/07/cara-cepat-menghafal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/2937541206048533625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/2937541206048533625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/07/cara-cepat-menghafal.html' title='Cara Cepat Menghafal'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-8273254090961830884</id><published>2010-07-09T02:33:00.000-07:00</published><updated>2010-07-09T02:33:36.904-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MATEMATIKA'/><title type='text'>Rahasia Rumus-rumus “Cepat” Matematika</title><content type='html'>Dulu, ketika saya masih baru menjadi mahasiswa baru tingkat pertama, saya berkenalan dengan salah seorang mahasiswa baru lainnya yang di kemudian hari menjadi teman baik saya. Ketika awal perkenalan, kami pun ngobrol kesana-kemari. Tanya sana-tanya sini. Jawab sana, jawab sini. Hingga ia pun akhirnya bercerita bahwaa nilai tes Matematika Dasar-nya, yaitu salah satu mata pelajaran yang diujikan di UMPTN*, adalah 100 alias benar semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar ceritanya tersebut, saya pun terkagum-kagum dibuatnya. Dalam pikiran saya, saya berkesimpulan “Wah ia pasti orang yang sangat pandai”. Rasa kagum saya mendorong rasa ingin tahu saya tentang pengetahuannya dalam matematika. Akhirnya, dalam masa awal perkenalan itu, saya ajak ia ngobrol tentang matematika yang sudah pernah kami pelajari ketika semasa SD sampai SMA dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari obrolan tersebut, saya jadi tahu, ternyata ia benar-benar luas pengetahuan tentang matematika yang sudah dipelajarinya. Hingga akhirnya, mungkin untuk menunjukkan kepiawaiannya, ia mengajak saya adu cepat mengerjakan soal matematika.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapat tantangan itu, sebenernya saya ngeper juga. Karena saya merasa tak sepandai dirinya. Namun, karena ini namanya juga bukan lomba dan bukan apa-apa, saya sih mau saja waktu itu. Soal-soal pun dipilih secara acak dari buku kumpulan soal-soal latihan tes UMPTN* dan EBTANAS** beberapa tahun sebelumnya yang masih rajin ia bawa ke mana-mana. Kemudian, adu cepat menyelesaikan soal matematika pun dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana hasilnya? Siapa yang tercepat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata benar, dalam beberapa menit saja, teman saya itu berhasil menyelesaikan semua soal yang sudah dipilih tadi (karena yang dipilih cuma 3 soal sih). Dan ia keluar sebagai yang tercepat, menjadi pemenang. Sedangkan saya, satu soal pun belum mampu saya selesaikan. Waktu itu, saya terlalu berkutat dengan soal nomor pertama yang lumayan sukar untuk ukuran saya waktu itu. Walau sudah dengan segenap kemampuan saya berusaha menyelesaikannya, tapi ternyata, sampai waktu habis belum ketemu juga. Saya pun mengakui kelebihan dan kehebatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sedikit malu-malu, saya bertanya padanya tentang soal yang belum bisa saya selesaikan tersebut. Sambil saya tanyakan pula kenapa ia begitu cepat bisa menyelesaikan soal-soal tersebut. Soal yang waktu itu belum bisa saya selesaikan adalah seperti berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal: Bila a + 1/a = 5, maka nilai dari a3 + 1/a3 =…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cepat teman saya itu pun menyelesaikan soal tersebut seperti berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a3 + 1/a3 = (a + 1/a)3 – 3a.1/a(a + 1/a) = 53 – 3(5) = 125 – 15 = 110.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat cara penyelesaiannya, saya hanya bisa melongo waktu itu. “Cuma satu baris? Padahal saya mencoba menyelesaikannya berbaris-baris, dan belum ketemu juga”, itu yang ada di pikiran saya. Kemudian, saya pun bertanya ke teman saya itu, kenapa cara pengerjaannya seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan senang hati, ia pun menjelaskan ke saya. Ia katakan bahwa, soal semacam tersebut dapat dengan mudah diselesaikan dengan rumus “cepat” berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a3 + b3 = (a + b)3 – 3ab(a + b) ………………………………..(1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengganti b dengan 1/a, katanya, maka soal tadi dapat diselesaikan dengan cepat seperti yang sudah dikerjakannya tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang tak terbiasa menggunakan rumus “cepat” ketika di SMA dulu, penasaran ingin tahu alasan kenapa rumus “cepat” tersebut bisa dipakai. Tapi sayang, teman saya itu tak memberi tahu saya. Malahan ia menambah lagi rumus cepat yang sudah ia ketahuinya, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a3 – b3 = (a – b)3 + 3ab(a – b)……………………………….(2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, ngobrol-ngobrol pun beres. Ia bergegas pulang menuju kost-kost-annya. Saya pun begitu, pulang dengan rasa penasaran yang mengganjal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kost-kost-an, dengan penuh rasa penasaran ingin tahu, saya pun mengutak-atik rumus “cepat” yang telah ia gunakan tersebut. Setelah beberapa waktu lamanya, akhirnya, terpecahkan juga rahasia rumus “cepat” yang dipakai teman saya tersebut. Saya berhasil menelusuri asal-muasal rumus “cepat” tersebut, berhasil menguak rahasianya. (Duh rasanya begitu senang sekali, tak bisa saya ekspresikan dengan kata-kata).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelusuran saya tersebut, setelah saya rapikan, seperti berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(a + b)3 = (a + b)2(a + b)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= (a2 + 2ab + b2)( a + b)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= a3 + a2b + 2a2b + 2ab2 + b2a + b3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= a3 + b3 + 3a2b + 3ab2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= a3 + b3 + 3ab (a + b)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, (a + b)3 = a3 + b3 + 3ab (a + b).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, a3 + b3 = (a + b)3 – 3ab (a + b). Rumus “cepat” (1) dapat saya buktikan kebenarannya. Kemudian, dengan cara serupa, saya pun berhasil menelusuri asal-muasal rumus “cepat” (2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun apa yang telah saya lakukan tersebut sederhana, tapi bagi ukuran saya waktu itu adalah sesuatu yang menggembirakan hati, menyenangkan pikiran, dan memuaskan dahaga keingin-tahuan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, bila ada rumus-rumus “cepat” yang saya temui di buku-buku bimbingan tes, saya pun terpacu untuk menelusuri asal-muasalnya. Dengan cara seperti itu, saya seringkali berhasil memecahkan rahasia rumus-rumus “cepat” yang selama ini beredar luas di kalangan siswa yang mengikuti bimbingan test.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, segitu dulu saja ceritanya ya…, lain kali insya Allah saya akan membahas baik-buruknya penggunaan rumus “cepat”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sampai di sini dulu ya…, mudah-mudahan bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bahan latihan untuk Anda, cobalah telusuri asal-muasal rumus-rumus “cepat” berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persamaan garis yang melalui titik (0, a) dan (b, 0) adalah ax + by = ab.&lt;br /&gt;Perhatikan gambar berikut. Panjang PQ dapat ditentukan dengan mudah, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PQ = (AP. DC + DP. AB)/(AD)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/TDbsRy5FxbI/AAAAAAAAAHY/-SWd7vIodZo/s1600/rumus-cepat.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/TDbsRy5FxbI/AAAAAAAAAHY/-SWd7vIodZo/s320/rumus-cepat.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-8273254090961830884?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/8273254090961830884/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/07/rahasia-rumus-rumus-cepat-matematika.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/8273254090961830884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/8273254090961830884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/07/rahasia-rumus-rumus-cepat-matematika.html' title='Rahasia Rumus-rumus “Cepat” Matematika'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/TDbsRy5FxbI/AAAAAAAAAHY/-SWd7vIodZo/s72-c/rumus-cepat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-4958744625245696136</id><published>2010-05-02T10:12:00.000-07:00</published><updated>2010-05-02T10:12:25.204-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MATEMATIKA'/><title type='text'>Fenomena Pi, si Bilangan Adikodrati</title><content type='html'>Berikut ini adalah penggalan-penggalan dari sebuah artikel karya Richard Preston, soerang doktor dari Universitas Princeton dan penulis artikel untuk The New Yorker. Artikel berjudul Gunung Pi ini merupakan tulisan yang unik sekaligus mencengangkan (dalam arti sangat membuka lebar wawasan kita). Di Indonesia tulisan ini diterbitkan oleh Banana Publisher berupa buku Seri Penulisan Kreatif dengan judul cover yang diambil dari judul artikel ini, Gunung Pi. Diterjemahkan oleh Hikmat Darmawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Banyak kata yang bikin kita geleng-geleng.... )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Gunung Pi&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ &lt;i&gt;Mungkin di mata Tuhan, pi tampak sempurna,” ujar David Chudnovsky .... (Hal.107)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak sekolahan pasti tau bilangan pi atau yang dilambangkan dengan π, kalau dinyatakan dengan angka: 3,14. Sebenarnya udah banyak blog yang membahas tentang pi, tapi gw mau menjelaskan juga tentang hal yang belum pernah dibahas di blog-blog yang pernah gw liat (tentunya berdasarkan artikel terjemahan ini).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yak, tau kan, kalau bilangan 3,14 itu masih ada lanjutannya? 3,14159265358979323846264338327950288419716939993751 .... (huh, capek deh). Tentu saja masih ada lanjutannya lagi. Tak berhingga. Pi disebut sebagai bilangan adikodrati. Apa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;Bilangan adikodrati adalah sebuah bilangan yang ada, tapi tak dapat diungkapkan dalam sebuah ran&lt;/i&gt;gkaian terbatas dari persamaan aljabar maupun aritmetika apapun. (Hal.107)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain pi tak bisa dinyatakan dengan rumus. Tidak dengan persamaan apapun. Ia hanya bisa dinyatakan dengan simbol. Simbol yang umum kita gunakan yaitu π. Sebenarnya dulu pertama kali digunakan simbol ð (dari huruf Yunani) oleh William Jones, seorang matematikawan Inggris. Makanya, 22/7 itu sebenarnya ga bisa disebut pi, karena pi bilangan adikodrati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oiya, pi juga disebut bilangan Ludolphian, mengambil dari nama Ludolph Van Ceulen, seorang matematikawan yang menghabiskan sisa hidupnya untuk mendapatkan pi dengan 35 digit di belakang koma. Bagaimana caranya? Beliau menggunakan poligon teratur dengan 96 sisi! Ga kebayang cara ngitungnya ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saat dunia sudah mengenal komputer, perhitungan pi dilakukan oleh superkomputer. Bukan komputer biasa lho, tapi superkomputer!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Definisi superkomputer, sederhananya, adalah: salah satu komputer saintifik tercepat dan terkuat di dunia, untuk semasanya. (Hal.120)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, pada abad 19 inilah terjadi balapan pi. Hohoho... para ahli matematika yang bekerja sama dengan perusahaan pembuat superkomputer menggunakan superkomputer itu untuk menemukan pola dalam bilangan pi yang tak berhingga. Awalnya, tahun 1949 George Weitriesner melakukan perhitungan pi sampai dua ribu tiga puluh tujuh tempat desimal dengan ENIAC. Lalu Daniel Shanks dan John W. Wrench Jr. Menghitung sampai seratus ribu desimal dengan sebuah superkomputer mainframe IBM. Ada juga yang dari Jepang, Yasumasa Kanada dari Universitas Tokyo, menggunakan superkomputer NEC mendapatkan dua juta digit pi. Balapan masih terus berlanjut sodara-sodara.... Publikasi terakhir, tahun 1991, David dan Gregory Chudnovsky (kakak adik matematikawan, lho) mendapatkan dua milyar dua ratus enam puluh juta tiga ratus dua puluh satu ribu tiga raus tiga puluh enam tempat desimal (Wuih….!). Mereka pakai superkomputer rakitan sendiri yang diberi nama m zero (jenius bgt gk sich...?). Tapi polanya ga ketemu juga ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kaum fisikawan mencatat keberadaan pi dimana-mana di alam ini. Pi amat nyata ada pada piringan bulan dan matahari. Sumbu dobel DNA berputar di sekeliling pi. Pi bersembunyi dalam pelangi, dan duduk di pupil mata; dan saat setetes air hujan jatuh ke air, pi akan muncul dalam lingkaran-lingkaran yang dihasilkan tetes itu. (Hal.110)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar, bentuk lingkaran bisa kita temukan di manapun di alam ini. Itu artinya, pi ada di mana-mana. Bisa dibilang para matematikawan dan ahli fisika sangat memuja pi. Sampai-sampai ada pernyataan seperti ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kebanyakan matematikawan mungkin akan setuju bahwa rasio lingkaran terhadap diameternya (pi) ada secara terang benderang dalam alam yang mengatasi alam kita, dan akan ada bahkan jika benak umat manusia tak menyadarinya; ia mungkin tetap ada bahkan jika Tuhan tak ambil pusing untuk menciptakannya. (Hal.143)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Leopold Kronecker (seorang matematikawan senior yang berpengaruh) pernah berkata dalam sebuah ucapan tekenal, ”Tuhan menciptakan bilangan bulat, dan selebihnya adalah pekerjaan manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.... dan hari ini perdebatan apakah bilangan adikodrati itu karya Tuhan atau karya manusia telah menepi – para matematikawan telah memutuskan untuk bekerja pada bilangan-bilangan adikodrati , tak peduli siapapun penciptanya. (Hal. 152)&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm .... Tuhan menciptakan bilangan-bilangan melalui otak manusia yang Dia ciptakan juga, itu pendapat gw pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi memangnya bilangan adikodrati itu ga cuma pi saja ya? Belum tau yang lainnya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Bilangan adikodrati itu beda dengan bilangan irasional lho. Contohnya akar kuadrat dari 2. Akar kuadrat dua bukan bilangan adikodrati, karena ia dapat ditemukan dalam sebuah persamaan. Ia adalah penyelesaian (akar) dari sebuah persamaan : x2 = 2, dan hasilnya adalah akar kuadrat dua (mengerti tak?). Bilangan itu disebut bersifat aljabar. Ingat, pi ga bisa dinyatakan dengan aljabar, karena aljabar itu terbatas.) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-4958744625245696136?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/4958744625245696136/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/05/fenomena-pi-si-bilangan-adikodrati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/4958744625245696136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/4958744625245696136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/05/fenomena-pi-si-bilangan-adikodrati.html' title='Fenomena Pi, si Bilangan Adikodrati'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-3060809371748051512</id><published>2010-04-30T06:05:00.001-07:00</published><updated>2010-05-02T10:00:11.533-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><title type='text'>Jaringan Komputer di Indonesia dan Perangkatnya (tugas kelompok siskomdat jam 5-6)</title><content type='html'>Surat kabar, buku, radio dan telelvisi sudah merupakan bagian kehidupan sehari-hari bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Dengan bertambah canggihnya teknolgi mikroelektronika, Fax dan komputer akan mengambil porsi yang cukup besar dalam dunia informasi di Indonesia. Lima tahun yang lalu, nomor telepon di perkantoran yang khusus digunakan untuk fax masih sangat langka. &lt;br /&gt;Saat ini, nomor telepon Fax sudah merupakanhal yang lazim digunakan di perkantoran. Hal ini menunjukkan bahwa informasi memegang peranan dalam beberapa bidang penting seperti bidang usaha, industri dan pendidikan. Kelancaran proses aliih informasi dan pengolahan data akan sangat membanu berkembangnya dunia usaha, industri dan pendidikan untuk banyak hal, proses alih informaaasi dan pengolahan data akan lebih cepat jika berlangsung antar komputer dibandingkan dengan fax. Bukan tidak mungkin, saluran khusus untuk komunikasi antar komputer (lebih dikenal sebagai jaringan komputer) merupakan hal yang lazim di masa mendatang.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memungkinkan komunikasi antar komputer, prasarana jaringan komputer yang meliputi wilayah luas perlu dikembangkan. Beberapa alternatif telah dicoba dikembangkan, seperti SKDP (PT Telkom) dan tak lama lagi di beberapa daerah kecil akan beroperasi sistem ISDN (juga dikelola oleh PT Telkom). Alternatif lain yang cukup menarik untuk dikaji adalah jaringan komputer paket radio yang saat ini digunakan oleh tidak kurang dari 2400 orang di seluruh Indonesia, dengan komposisi pengguna : 69% pengguna di perguruan tinngi, 18% pengguna di lembaga pemerintah, 4% pengguna di lembaga pemerintahan, 4% pengguna di lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan 5% pengguna berada di industri/badan kooomersial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi yang digunakan pada jaringan komputer, merupakan perkembangan teknologi SKDP (PT Telkom). Protokol AX.25 digunakan pada link layer, yang merupakan perkembangan protokol X.25 (SKDP). Diatas protokol AX.25 digunakan protokol/InterNet Protokol) yang memungkinkan integrasi berbagai jenis komputer ke dalam jaringan. Adapun aplikasi utama yang dijalankan dalam jaringan komputer ini adalah : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Surat elektronnik.&lt;br /&gt;* Diskusi / konferensi secara elektronik.&lt;br /&gt;* Pengiriman berkas / file secara elektronik&lt;br /&gt;* Akses pada distributed database.&lt;br /&gt;* Fasilitas talnet untuk kerja pada komputer yang berjauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang membedakan aplikasi jaringan komputer dengan teknologi lainnya adalah tidak adanya batasan dimensi ruang &amp; waktu. Sebagai contoh, diskusi / seminar / konferensi secara elektronikdapat berlangsung kapan saja, di mana saja bahkan tidak terikat pada batas-batas negara. Globalisasi sangat terasa dengan adanya jaringan komputer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan ini akan dibahas secara garis besar beberapa alternatif perangkat keras yang dapat digunakan di PaguyubaNet. Usaha-usaha yang tengah kami lakukan untuk membuat prototipe sederhana perangkat ini akan dilaporkan. Prototipe perangkat keras yang akan dikembangkan sangat sederhana sehingga mudah diadopsi oleh industri elektronika di Indonesia dan bahkan sebetulnya para hobby elektronnika dapat merakit sendiri dengan mudah. Akhirnya, pemikiran tentang standarisasi arsitektur jaringan akan diketengahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 2&lt;br /&gt;Tiga alternatif konfigurasi perangkat keras untuk mengkaitkan komputer mikro ke jaringan komputer wilayah luas menggunakan radio komputer mikro  terminal node controller  radio  &lt;br /&gt;komputer mikro  medan kecepatan tinggi  radio  &lt;br /&gt;komputer mikro&lt;br /&gt;I/O card  modem kecepatan tinggi  radio  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alternatif perangkat keras untuk bergabung dalam PaguyubaNet secara umum dapat dibagi dalam tiga pilihan seperti tampak pada Tabel  2. Perbedaan utama alternatif satu dangan yang lain adalah pada perangkat keras perantara komputer mikro dengan radio. Tiap alternatif mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan pertama adalah konfigurasi yang umum digunakan oleh stasiun PaguyubaNet di Indonesia. Alternatif ini terdiri atas kombinasi komputer mikro-Terminal Node Controller ( TNC)-radio. Perangkat TNC yang digunakan umumnya dibeli dari luar negeri. Prosesor mikro dalam TNC menjalankan program yang mengatur tata cara komunikasi antar dua komputer dalam jaringan. Tata cara ini dikenal dengan sebutan AX.25. Selain prosesor mikro dalam TNC, terdapat rangkaian modem untuk memungkinkan pengiriman data menggunakan radio. TNC sudah dapat kita buat sendiri di ITB dengan biaya setengah dari harga jual TNC buatan luar negeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan konfigurasi 1 memungkinkan pengkaitan bermacam-macam jenis komputer mikro dalam jaringan PaguyibaNet melalui perangkat TNC. Perangkat lunak yang digunakan dikenal sebagai Network Operating System (NOS) yang memungkinkan menjalankan TCP/IP sehingga bisa mengkaitkan network menggunakan radio dengan sistem jaringan lainnya. Perangkat NOS dapat diperoleh secara cuma-cuma dari kami di Computer Network Research Group, IUC Micro-electronics ITB. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, jenis komppputer mikro yang umum digunakan di Indonesia adalah PC kompatibel. Melihat keseragaman jenis komputer mikro, maka rpogram AX.25 yang dijalankan dalam TNC sebetulnya dapat kita pindahkan ke komputer mikro. Cukup dengan menambahkan "medem berkecepatan rendah" (1200 bit per detik), komputer mikro dapat disambungkan ke PaguyubaNet seperti tampak pada alternatif 2. Modem kecepatan rendah ini sangat sederhana dan mudah dirakit oleh industri kecil elektronika bahkan oleh para hobby elektronika. Rangkaian untuk modem sederhana 1200bps sudah cukup luas dipublikasikan di Indonesia, seperti majalah InfoKomputer dan majalah Elektron. Beberapa industri kecil sudah mulai memproduksi modem ini dengan harga jual sekitar Rp 150.000/modem. Saat ini, modem 1200bps sederhana ini yang menjadi tulang punggung perkembangaan jaringan di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alternatif terakhir (3) adalah konfigurasu stasiun paket radio untuk operasi kecepatan tinggi. Kecepatan modem yang tengah dijajaki adalah 56Kbps minimum (sekitar lima puluh kali lipat kecepatan yang digunakan pada alternatif 1 dan 2). Alternatif ini diperlukan untuk menyambung berbagai jaringan komputer lokal di gedung-gedung yang umumnya berkecepatan tinggi (sekitar 10Mbps). Juga sebagai tulang punggung saluran komunikasi data kecepatan tinggi antar kota. Pembuatan prototipe alternatif 3 tengah dijajaki oleh beberapa staff peneliti di jurusan Teknik Elektro ITB dengan mengadopsi teknologi di PaguyubaNet. Prototipe perangkat yang perlu dikembangkan adalah, card komunikasi khusus pada mikro komputer untuk bekerja pada kecepatan tinggi; Modem kecepatan tinggi; dan perangkat radio khusus yang mampu bekerja pada kecepatan tinggi. Proses perancangan dan perangkat-perangkat ini relatif cukup rumit dibandingkan dengan alternatif-alternatif sebelumnya. Walaupun demikian, kami yakin industri elektronika yang cukup besar seperti PT INTI, PT LEN Industri, PT Elektrindo Nusantara dan PT Elnisa mampu melakukan hal-hal ini dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata cara komunikasi merupakan faktor penting pada pengkaitan jaringan komputer lokal digedung-gedung menggunakan alternatif 3. Pemilihan tata cara komunikasi dilakukan dengan memperhitungkan kompatibilitas dengan cara komnukasi yang umum digunakan. Saat ini, tata cara komunikasi TCP/IP merupakan standar yang digunakan di jaringan-jaringan komputer lokal di gedung-gedung. TCP/IP mulai dikembangkan sekitar sepuluh tahun lalu atas biaya angkatan bersenjata Amerika Serikat. TCP/IP mengatur pengkaitan berbagai komputer dalam jaringan yang terkait wilayah luas tanpa tergantung pada jenis saluran fisik yang digunakan. Keandalan jaringan diawasi secara seksama selama prosees komunikasi berlangsung. Berbagai penggunaan seperti pengiriman surat elektronis dan file antar komputer dapat dilakukan dengan mudah menggunakan TCP/IP. Jelas bahwa proses pengembangan jaringan komputer wilayah luas akan sangat dipermudah dengan mengadopsi tata cara komunikasi standar seperti TCP/IP. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TCP/IP saat ini tengah giat dipelajari dan dikembangkan antara lain di Computer Network Research Group, PAU Mikroelektronika ITB. Keterangan cukup lengkap, berupa buku dan file di disket komputer, source code perangkat TCP/IP dapat diperoleh secara non-komersial dari lembaga di atas. Perangkat lunak beserta source code (file program) TCP/IP untuk komputer mikro dapat diperoleh secara non-komersial untuk penggunaan di dunia pendidikan dan amatir radio. Pengambangan perangkat lunak ini tengah dilakukan di lembaga di atas untuk membuka kemungkinan pengkaitan jaringan komputer lokal di berbagai gedung perkantoran menggunakan radio. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berharap tulisan ini dapat memberikan gambaran tentang perkembangan jaringan komputer di Indonesia maupun prospek bisnis khususnya dalam dunia elektronika.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-3060809371748051512?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/3060809371748051512/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/04/jaringan-komputer-di-indonesia-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/3060809371748051512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/3060809371748051512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/04/jaringan-komputer-di-indonesia-dan.html' title='Jaringan Komputer di Indonesia dan Perangkatnya (tugas kelompok siskomdat jam 5-6)'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-5721937427581424428</id><published>2010-04-10T18:57:00.000-07:00</published><updated>2010-04-10T19:04:00.124-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MUSIK'/><title type='text'>Kedahsyatan Raja Bass Introvert</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S8EsTNgsBbI/AAAAAAAAAHQ/p8Wf01WcIR4/s1600/JOHN_MYUNG_N13_23JUNE2005.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S8EsTNgsBbI/AAAAAAAAAHQ/p8Wf01WcIR4/s320/JOHN_MYUNG_N13_23JUNE2005.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;John Myung&lt;/b&gt; salah seseorang yang berhasil mencapai prestasi dalam bidang dan cara yang diinginkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bass guitar&lt;/i&gt;. Dalam bahasa Indonesia dapat disebut "gitar bass", alat musik yang baru "dilahirkan" pada abad kedua puluh oleh Leo Fender, alat musik yang menjadi kebutuhan standar band (kelompok musik) dengan format &lt;i&gt;combo &lt;/i&gt;(untuk membedakan dari format big band maupun concert/symphonic band). Perannya amat penting: membunyikan nada rendah (bass) yang menjadi "akar" dalam harmonisasi musik. &lt;br /&gt;Karena format combo menjadi amat populer dan merakyat (menjelang akhir abad kedua puluh pengertian "band" dalam penggunaan sehari-hari hampir pasti ber-konotasi format combo), maka kebutuhan akan gitar bass menjadi sangat tinggi. Pada awalnya, hal ini tidak terlepas dari kepraktisan menggunakan gitar bass dalam band untuk memerankan fungsi bass di atas, dibanding instrumen bass lainnya seperti kontrabass atau tuba. Lebih mudah dirawat, dibawa, relatif murah, dan dapat diamplifikasi. Pada masa kini, kata bassist dalam penggunaan sehari-hari hampir pasti berarti pemain gitar bas dan bukan pemain alat bas lain di atas. &lt;br /&gt;Sekalipun dalam musik Barat peranan instrumen bass sebagai instrumen solo sudah relatif lazim sejak sebelum gitar bas lahir, pada awalnya peranan gitar bas umumnya terbatas dalam memberikan fondasi bas dalam struktur harmoni musik. Sebenarnya hal ini bukanlah kekurangan, bahkan sangat esensial. Namun, dalam perkembangannya, keinginan mengeksplorasi gitar bas lebih dari fungsi tradisionalnya tak terbendung. Pembatasan fungsi tersebut kadang terasa membosankan bagi pemainnya.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Maka, sejak gejala counterculture menjelang akhir dekade 1960-an, muncullah para pionir seperti Jack Bruce, Jaco Pastorius, Chris Squire, dan Stanley Clark, yang belakangan diikuti sederetnama lain seperti John Pattitucci, Victor Wooten, atau Stuart Hamm yang telah mengangkat fungsi gitar bas sehingga menjadi instrumen yang lebih menonjol, sehingga pemainnya tampil sebagai virtuoso (simak concerto bass guitar dengan orkestra ciptaan Jon Lord dengan soloist Roger Glover sebagai movement dari Gemini Suite). John Myung, bassist band progressive metal Dream Theater, adalah salah satu penganut tradisi bassist virtuoso ini. &lt;br /&gt;Dream Theater lahir pada dekade 1980-an dengan konsep menggabungkan warna musik metal hair band yang trendi (saat itu) dengan warna pop AOR dan progressive rock gaya 1970-an. Karena progressive rock itu sendiri sudah merupakan konsep musik liberal dan merupakan dialektika yang dapat mengandung elemen tradisi musik seriosa ("klasik") barat, jazz, musik etnis maupun eksperimentasi avant garde, maka penggabungan progressive rock dengan metal menjadikan musik mereka terdengar rumit. Namun, karena faktor dominan dalam musik mereka tetap unsur metal dan AOR-nya (disertai penghindaran elemen avant garde maupun jazz dalam warna progressive rock-nya), Dream Theater menjadi sebuah band yang populer dan kerumitan musiknya malah menjadi sesuatu yang menambah daya tariknya (tidak terasa "asing"). Bahkan Dream Theater kemudian dianggap memelopori subgenre baru, yaitu progressive metal (prog metal). Myung, sebagai bassist-nya, menjadi terkenal sebagai salah satu virtuoso gitar bass kelas dunia. &lt;br /&gt;Introvert dan tidak banyak bicara, John Myung tampak lebih suka berbicara dengan instrumennya. Demikian kesan saat menyaksikan workshop Myung di Balai Sarbini yang diselenggarakan oleh Yamaha Corporation Japan bekerja sama dengan PT Yamaha Musik Indonesia Distributor, Jumat 25 Februari yang lalu. Myung memperagakan kepiawaian teknis yang memukau. Ia memiliki teknik fingerpicking seperti teknik gitar klasik, namun menggunakan tiga jari tangan kanan untuk memainkan tangga nada (jari manis, tengah, dan kelingking), di luar standar gitar klasik yang umumnya melakukannya dengan dua jari. Dengan demikian, Myung lebih mudah bermain dengan kecepatan tinggi. Petikannya pun bertenaga sesuai dengan warna musik metal yang dimainkannya. &lt;br /&gt;Kelebihan Myung memang pada teknik bermain dengan kecepatan tinggi, sesuai tuntutan musik Dream Theater. Kemampuan sedemikian sudah barang tentu menuntut disiplin berlatih yang tinggi. Disiplin tersebut tampaknya sudah mendarah daging dalam diri Myung, yang sejak usia lima tahun mempelajari biola selama 10 tahun. &lt;br /&gt;Sejatinya Myung adalah seorang rocker, dan idiom bermainnya pun tunduk pada tradisi bassist rock. Tiga bassist besar yang diakuinya paling mempengaruhinya adalah &lt;i&gt;Chris Squire (Yes), Geddy Lee (Rush)&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;Steve Harris (Iron Maiden)&lt;/i&gt;, semuanya bassist rock. Namun, sebagai musisi yang tumbuh di era modern, Myung pun mempelajari teknik para bassist jazz, seperti ditunjukkannya dalam workshop-nya dengan memainkan harmonics yang diambil dari konsep Jaco Pastorius. Sebagai mantan mahasiswa Berklee College of Music, tidaklah mengherankan apabila Myung dapat memainkan berbagai gaya musik. Ia pun dapat, misalnya, melakukan teknik slapping seperti ditunjukkannya pada workshop-nya terdahulu di Jakarta beberapa tahun silam. Namun, ia tetap seorang rocker dan telah memiliki kematangan jiwa seorang artis untuk mengambil sikap. Penolakannya memainkan slapping kali ini (sekalipun diminta) dengan alasan tidak menyukai teknik tersebut (seraya mengingatkan bahwa ia telah mendemonstrasikannya di Jakarta pada workshop-nya terdahulu), menunjukkan kematangan sikap tersebut. &lt;br /&gt;Myung adalah seorang technical virtuoso, namun tidaklah menonjol sebagai penjelajah harmoni dan melodi. Dream Theater cenderung selektif dalam menyerap elemen-elemen progressive rock. Seperti layaknya band progresif, Dream Theater juga mengadopsi teknik komposisi musik seriosa barat modern, namun dari tiga mazhab utama awal abad kedua puluh (neoklasik, ekspresionisme, dan impresionisme), hanya unsur neoklasik (Stravinskian)-lah yang diserap dalam bentuk kerumitan ritmis dengan hitungan ganjil atau subdivisi yang berubah-rubah. &lt;br /&gt;Myung, sebagai mantan pemain biola, tentu pernah terekspose terhadap musik ini, sekalipun tidak dapat dipastikan bahwa Myunglah pelopor kerumitan ritmis dalam musik Dream Theater. Sementara itu, dalam sintaks harmoni, Dream Theater tidaklah sekompleks beberapa band progresif lain yang mengadopsi eksplorasi avant garde atau harmonisasi voicing jazz, kromatisisme, atau atonalisme. Dream Theater lebih cenderung bertahan di harmoni fungsional dengan dasar diatonis (catatan: tidak semua musik barat diatonis) dan mempertahankan estetika industri musik pop modern. Oleh karenanya, Myung lebih banyak memainkan fungsi bass tradisional (lebih konservatif dibandingkan Chris Squire dan Geddy Lee), namun meningkatkan visibilitas auralnya dengan kedahsyatan teknis. Fungsi gitar bas terutama untuk memainkan metal riffs. Ia relatif jarang mengeksplorasi melodi dan harmoni dibandingkan beberapa bassist ternama lainnya. &lt;br /&gt;Pun ketika tampil sebagai soloist, Myung cenderung menampilkan keterampilan teknis daripada aspek melodis untuk memperkuat harmoni, sementara ada sebagian bassist lain yang mengadopsi transkrip-transkrip solo John Coltrane dan jazz legend lainnya untuk mengembangkan aspek improvisasi mereka. Kemungkinan besar Myung pun pernah mempelajari transkrip-transkrip tersebut. Yang jelas, ia memainkan transkrip cello suite J.S. Bach. Namun, dalam kariernya ia cenderung tidak tampil demikian, melainkan ketika tiba saatnya tampil sebagai soloist, ia cenderung tampil sebagai rock virtuoso ala Eddie Van Halen (tetapi pada gitar bas). Tidak begitu kaya melodi atau harmoni tetapi sarat teknik seperti two handed tapping serta teknik memetik berkecepatan tinggi. Bukan berarti Myung tidak mampu melakukan eksplorasi melodi dan harmoni. Ia melakukannya juga secara sporadis. Namun, di deretan bassist kelas dunia, ia tidak menonjol sebagai spesialis dalam bidang tersebut. &lt;br /&gt;Hal lain yang patut dicatat adalah keterlibatan Myung dalam desain instrumen yang digunakannya, yaitu gitar bas berdawai enam Yamaha RBXJM2 ("JM" pada RBXJM2 adalah inisial Myung). Myung memilih gitar bas berdawai enam (bukan hal baru) karena memiliki kisaran nada yang lebih lebar dari gitar bas standar berdawai empat. Myung memilih pickup (komponen penangkap frekuensi dawai) yang didesain oleh Seymour Duncan untuk menghasilkan warna suara yang dapat digunakan dengan fleksibel di studio rekaman dan dapat beradaptasi dengan berbagai situasi musikal. Di luar itu juga dilengkapi dengan 3 band EQ yang membuat Myung leluasa mengatur variasi suara. &lt;br /&gt;John Myung adalah contoh seseorang yang berhasil mencapai prestasi dalam bidang dan cara yang diinginkannya. Musisi Indonesia dapat belajar dari kedisiplinan dan komitmen tinggi yang membuat Myung berhasil menjadi musisi besar.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-5721937427581424428?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/5721937427581424428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/04/kedahsyatan-raja-bass-introvert.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/5721937427581424428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/5721937427581424428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/04/kedahsyatan-raja-bass-introvert.html' title='Kedahsyatan Raja Bass Introvert'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S8EsTNgsBbI/AAAAAAAAAHQ/p8Wf01WcIR4/s72-c/JOHN_MYUNG_N13_23JUNE2005.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-3404116901902810948</id><published>2010-04-10T18:46:00.000-07:00</published><updated>2010-04-10T18:47:26.791-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SERBA SERBI'/><title type='text'>MENGATASI GROGI BICARA DIDEPAN UMUM.</title><content type='html'>Untuk mengupas masalah grogi dan cara mengatasinya  saya akan menggunakan dua pendekatan.Pendekatan pertama saya menggunakan pendekatan neurologis yakni bagaimana pikiran kita mencerna "keberadaan publik" (audience); dan pendekatan kedua adalah pendekatan praktis yakni bagaimana kiat-kiat praktis  menghadapi grogi.&lt;br /&gt;Setidaknya, dua pendekatan itu sudah saya praktikkan dalam hidup saya. Saya dulu yang pemalu luar biasa (bayangkan dulu saya tidak berani bilang "Kiri" pada saat naik bus/angkutan umum. Takut/malu kalau banyak orang yang nengok ke arah saya). Kini saya sudah terbiasa bicara di depan publik, bahkan menjadi  pembicara publik dan motivator yang dibayar.&lt;br /&gt;Baik, selanjutnya saya jelaskan pendekatan pertama, kenapa secara neurologis (syaraf otak) seseorang bisa menjadi grogi. Seseorang menjadi grogi atau bahkan sebaliknya menjadi senang bila di depan pulik itu sangat tergantung bagaimana syaraf otak merespon atau menanggapi sesuatu yang berada di luar, yaitu  --dalam hal ini-- audience (publik).&lt;br /&gt;Perilaku (grogi, takut, senang dan lain-lain) merupakan hasil dari respon pikiran kita. Kalau kita merespon/menanggapi sesuatu di luar adalah sesuatu yang menakutkan, maka pikiran (syaraf) segera mengolahnya menjadi sebuah ketakutan. Sebaliknya, kalau kita meresponnya sesuatu yang menyenangkan, maka semua sel-sel dan jutaan syaraf segera mengolahnya menjadi hal yang menyenangkan.&lt;br /&gt;Lebih kongkritnya begini. Kalau Anda membayangkan jeruk nipis (sesuatu yang berada di luar Anda) terasa kecut, maka syaraf otak segera membayangkannya rasa kecut itu. Bahkan dengan hanya membayangkan saja air liur bisa keluar sebagai respon terhadapnya. Sebaliknya, kalau Anda membayang buah anggur yang segar, baru keluar dari kulkas, syaraf otak segera membayangkannya buah manis yang menyegarkan.&lt;br /&gt;Begitulah cara pikiran kita bekerja, atau meresponnya. Bila Anda&lt;br /&gt;menanggapinya dengan negatif maka pikiran bekerja dengan cara negatif,&lt;br /&gt;milyaran sel syaraf bekerja untuk memperkuat respon negatif Anda. Bila Anda meresponnya dengan cara positif, maka seluruh jaringan syaraf bekerja sekuat tenaga untuk memperkuat respon positif Anda.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Audience (publik) bukanlah buah jeruk nispis yang kecut atau  buah anggur yang manis menyegarkan. Audience adalah sesutau yang netral sifatnya. "Manis" dan "kecut"-nya, atau "menakutkan" (yang membuat Anda grogi) atau "menyenangkan" sangat tergantung bagaimana Anda meresponnya.&lt;br /&gt;Ketika Anda meresponnya sebagai seuatu yang "menakutkan" syaraf otak segera bekerja dengan cara yang negatif. Hasilnya mejadi negatif. &lt;br /&gt;Syaraf otak segera bekerja untuk menemukan sejumlah alasan  negatif untuk meyakinkan bahwa audience itu "menakutkan".&lt;br /&gt;Alasan-alasan yang ditemukan oleh pikiran negatif berupa:&lt;br /&gt;1) audience terlalu banyak dan banyak orang yang sudah pintar bicara, maka saya kurang pede; &lt;br /&gt;2) audience akan meneriaki "huuuuuuu..?" bila saya salah; &lt;br /&gt;3) audience akan mempergunjingkan saya bila saya salah;&lt;br /&gt;4) saya akan malu bila apa yang saya sampaikan tidak menarik;&lt;br /&gt;5) saya akan malu bila saya salah dalam bicara nanti dan; &lt;br /&gt;6) masih banyak alasan negatif yang mengantarkan Anda menjadi semakin tidak percaya diri atau grogi.&lt;br /&gt;Hasilnya, keringat dingin keluar, gemetar, bicara tidak lancar dan&lt;br /&gt;salah-salah terus selama bicara. Pada saat seperti itu, pikiran sibuk memikirkan audience  yang "menakutkan" ketimbang memimikirkan materi yang sedang di sampaikan.&lt;br /&gt;Akan menjadi berbeda hasilnya bila Anda meresponnya secara positif. Pikiran Anda akan segera mencarikan sejumlah alasan positif yang menguatkan Anda tampil lebih percaya diri. &lt;br /&gt;Anda akan tampil lebih percaya diri bila memandang audience sebagai:&lt;br /&gt;1) sekelompok manusia yang sedang memberikan kesempatan baik  pada Anda untuk bicara;&lt;br /&gt;2) mereka tidak akan menghukum bila Anda keliru;&lt;br /&gt;3) keliru dalam berlatih bicara adalah hal yang wajar yang dialami oleh setiap orang;&lt;br /&gt;4) mereka juga belum tentu memiliki keberanian untuk bicara;&lt;br /&gt;5) kalau pun ia diberi kesempatan bicara ia pasti melakukan kesalahan seperti Anda;&lt;br /&gt;6) dalam sejarah belum ada audience yang "mencemooh" pembicara&lt;br /&gt;bila dalam menyampaikannya secara santun dan;&lt;br /&gt;7) ini adalah kesempatan terbaik untuk berlatih bicara.&lt;br /&gt;Dengan kata lain, audiene bukan menjadi beban pikiran selama Anda bicara. Bila perlu Anda cuek-bebek (tapi sopan) selama bicara. Ketika Anda telah mengusai audience dengan cara respon positif seperti tersebut di atas, pikiran Anda tinggal fokus pada materi.&lt;br /&gt;Perlu dicatat bahwa mengapa seorang pembicara grogi karena pikirannya selama bicara sibuk memikirkan audiencenya yang dianggap "menakutkan". Menakutkan atau tidaknya sangat tergantung bagaimana pikiran kita "menafsirkannya". Bila menafsirkannya sebagai hal yang tidak menakutkan, maka pikiran akan lancar, fokus pada topik, bicara pun lancar tanpa beban grogi.&lt;br /&gt;Semua yang saya jelaskan di atas adalah mengunakan pendekatan neurologis. Selanjutnya saya menggunakan pendekatan praktis dalam mengatasi grogi.&lt;br /&gt;Sebelum saya memberikan tips bagaimana cara mengatsi grogi saat pidato perlu saya ingatkan kembali bahwa keterampilan bicara (pidato) adalah keterampilan proses. Tidak ada orang yang langsung menjadi ahli bicara. Semuanya diawali dari, malu, gemetar dengan keringat dingin, grogi dan sejuta rasa lainnya. Jangankan bagi yang belum pernah pengalaman, seorang yang sudah pengalaman  pun kadang- kadang masih dihinggapi rasa kurang pede dan grogi. Jadi kalau menunggu sampai tidak ada rasa grogi, dibutuhkan waktu  dan jam terbang yang lama. Butuh proses....!!!&lt;br /&gt;Cara-cara berikut ini adalah cara praktis yang saya gunakan bagaimana mengatasi grogi....&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;, tingkatkan rasa percaya diri (pede). Kalau kita pede, keberanian meningkat, tetapi kalau belum apa-apa sudah takut dulu, rasa pede mengecil. Akibatnya sudah grogi dulu sebelum bicara. Untuk bisa meningkatkan rasa pede, coba sebelum Anda bicara, Anda membayang seorang tokoh  pintar bicara yang menjadi idola Anda.&lt;br /&gt;Setelah membayangkan secara jelas, anggap saja dia merasuk dalam jiwa Anda yang membantu Anda pada saat bicara. Anggap saja dia yang bicara, tapi bukan Anda.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;, berani bicara kapan dan dimana saja bila ada kesempatan tampil di depan umum. Jangan takut salah dan takut ditertawakan, bicara dan bicaralah. Kalau Anda tidak pernah mencobanya, maka tidak pernah punya pengalaman. Jangan berpikir, benar-salah, bagus-tidak, mutu-tidak, selama bicara. Pokoknya, Anda sedang uji nyali, berani atau tidak. Ketika Anda berani mencobanya, berarti nyali Anda hebat. Semakin sering Anda lakukan, semakin kuat nyalinya dan tidak takut lagi. Pokoknya Anda harus berani malu.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketiga&lt;/b&gt;, mulailah dari kelompok kecil. Berlatihlah bicara pada&lt;br /&gt;kelompok-kelompok kecil dulu seperti karang taruna, kelompok belajar,&lt;br /&gt;pertemuan RT/RW. Bicaralah sebisanya dan jangan buang kesempatan. Yang seperti ini sudah saya lakukan, saya mulai dari kelompok belajar, panitia seminar, dan acara-acara pengajian.  Lama- ama saya biasa. Ingat Anda bisa karena biasa.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keempat&lt;/b&gt;, tulis dulu sebagai persiapan. Sebelum bicara, alangkah baiknya ditulis dulu topik dan urutan penyampaiannya. Sebab, tanpa ditulis dulu, biasanya lupa saat bicara dan menjadikan materinya tidak runtut. Ada dua cara dalam menulis, menulis lengkap kenudian tinggal membaca atau tulis pokok-pokoknya saja. Bila Anda menulis lengkap akan sangat membantu Anda bicara, tetapi keburukannya membosankan. Apalagi intonasi bacanya jelek. Yang baik adalah pokok- pokok saja, kemudian Anda menguraiakannya saat bicara, tetapi keburukannya, Anda bisa lupa tentang datailnya.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kelima&lt;/b&gt;, akan lebih baik kalau memiliki kebiasaan menulis. Menulis apa saja, cerita, artikel, surat atau catatan harian. Catatan harian akan sangat membantu. Kenapa menulis? Karena dengan menulis adalah cara efektif untuk membuat sebuah "bangunan logika", sebuah bangunan yang masuk akal. Bila Anda terbiasa menuliskan topik-topik yang masuk akal, maka akan membantu pada saat bicara. Tinggal memanggil ulang saja.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keenam&lt;/b&gt;, perbanyak membaca. Orang bicara atau menulis, tidak lepas dari kegiatan membaca. Dengan banyak membaca menjadi banyak pengetetahuan yang dapat dijadikan acuan  pada saat bicara atau menulis. Kebuntuan dalam bicara terjadi karena  tidak saja  grogi tetapi juga karena terbatasnya acuan (informasi) yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketujuh&lt;/b&gt;, janganlah menjadi pendiam saat ada diskusi atau debat. &lt;br /&gt;Bicaralah, jangan pikirkan Anda menang atau kalah dalam berdebat, tetapi&lt;br /&gt;jadikannlah media debat menjadi media pembelajaran dalam mengasah&lt;br /&gt;keterampilan bicara. Juga, biasakanlah berdiskusi, jangan hanya menjadi&lt;br /&gt;pendengar yang baik (diam saja) tapi Anda harus menjadi pembicara yang baik.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kedelapan&lt;/b&gt;, rajin mengevaluasi diri sehabis bicara. Karena berbicara&lt;br /&gt;merupakan keterampilan proses, maka sebaiknya rajin mengevaluasi diri setiap saat sehabis bicara. Seringkali (pengalaman saya) saya merasa tidak puas dengan hasil akhir bicara. Selalu ada saja kekurangannya, banyak topik yang lupa tidak tersampaikan. Kekurangan ini harus menjadi catatan untuk tampil lebih baik pada kesempatan mendatang. &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kesembilan&lt;/b&gt;, komitmen untuk terus berlatih. Tiada sukses  tanpa latihan terus menerus. Tiada juara tanpa banyak latihan. Tiada bicara tanpa grogi bila  hanya tampil (berlatih) satu  atau dua kali saja. Bicaralah saat ada kesempatan bicara, karena keterampilan berbicara hanya dapat diperoleh dengan "berbicara" bukan dengan cara "belajar tentang". Satu ons praktik bicara lebih baik dari pada satu ton teori berbicara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Mencoba.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-3404116901902810948?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/3404116901902810948/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/04/mengatasi-grogi-bicara-didepan-umum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/3404116901902810948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/3404116901902810948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/04/mengatasi-grogi-bicara-didepan-umum.html' title='MENGATASI GROGI BICARA DIDEPAN UMUM.'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-6128939165212534976</id><published>2010-04-10T00:46:00.000-07:00</published><updated>2010-04-10T00:46:58.921-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><title type='text'>Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pendidikan</title><content type='html'>Perkembangan teknologi informasi (TI) yang pesat saat ini telah menimbulkan paradigma-paradigma baru dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk di dalamnya bidang pendidikan. Paradigma baru dalam pendidikan itu diantaranya adalah: (i) penggunaan multimedia interaktif dalam pembelajaran, dan (ii) penyelenggaraan pendidikan secara maya (cyber classrom), dimana keduanya tercakup dalam suatu sistem yang disebut E-learning.&lt;br /&gt;Peran teknologi di bidang non-pendidikan yang terbukti mampu meningkatkan efisiensi dan mutu pelayanan, seyogyanya juga demikian halnya ketika teknologi diterapkan di bidang pendidikan. Dengan landasan pemikiran demikian, maka penerapan teknologi informasi di bidang pendidikan seyogyanya akan mampu memberikan kontribusi positif, seperti meningkatkan efisiensi penyelenggaraan pendidikan, memberi kesempatan belajar yang lebih luas dan meningkatkan hasil pendidikan yang lebih baik.&lt;br /&gt;Paradigma pertama telah membawa perubahan besar dalam pengembangan metode-metode pembelajaran modern saat ini. Metode-metode tersebut tentu sangat membantu para pengajar yang mengalami kesulitan dalam menyampaikan materi pelajaran yang kompleks sebagaimana yang sering dialami pada pengajaran bidang fisika. Hal ini terjadi tidak hanya di negara berkembang tetapi juga di negara maju. Kesulitan ini tidak terlepas dari perangkat bantu yang tepat. Pengajaran fenomena fisika yang kompleks, seperti konsep medan listrik dan hukum Faraday dalam kajian elektromagnetik, memang sangat membutuhkan visualisasi tinggi. Bantuan berupa gambar yang biasanya disajikan di papan tulis jelas tidak mampu memvisualkan interaksi medan-medan yang ditinjau. Demikian juga dengan cara demonstrasi menggunakan alat-alat peraga, perubahan medan atau pembentukan gelombang elektromagnetik tetap tidak bisa diamati secara kasat mata.&lt;br /&gt;Berkenaan dengan persoalan di atas, beberapa universitas telah mencoba mengembangkan format-format baru pembelajaran, salah satunya adalah pendekatan yang dikembangkan oleh The Technology Enabled Active Learning Project di MIT (Belcher, 2005). Metode ini merupakan penggabungan secara interaktif antara pendekatan ceramah, resitasi dan pengalaman laboratorium langsung dengan tambahan software interaktif yang kaya media visualisasi. Pada materi pelajaran elektromagnetik metode ini dilaporkan berhasil meningkatkan hasil belajar mahasiswa hingga dua kali lipat dibandingkan dengan metode pembelajaran konvensional sekalipun oleh pengajar yang sangat profesional.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Paradigma kedua di bidang pendidikan lebih dekat dengan konteks E-learning yang lebih menitikberatkan pada online-learning. Dengan teknologi internet saat ini para siswa bisa mengikuti secara online suatu materi pelajaran. Dengan penyajian yang interaktif para siswa bisa belajar mandiri dalam arti yang sebenarnya. Kegiatan belajar tidak lagi dibatasi oleh jarak, keterbatasan ruang dan keberadaan guru. Para siswa juga bisa mengevaluasi kemampuan diri terhadap penguasaan materi secara online, sehingga kesalahan terhadap penguasaan suatu konsep akan lebih cepat bisa dievaluasi.&lt;br /&gt;Bagi para guru, sistem ini juga sangat membantu dalam hal teknis yang sebelumnya tidaklah mungkin bisa dilakukan. Seorang guru bisa merencanakan dan mempersiapkan penyajian materi melalui suatu sistem yang terintegrasi antara streaming video dan slide materi, sehingga kehadirannya bisa tergantikan. Dengan demikian para siswa bisa mengatur sesuka hati penyajian materi gurunya, apakah ingin diulang atau dimajukan. Sesuatu yang sebelumnya tidak mungkin terjadi. Sistem pendidikan ini telah sukses diterapkan di berbagai pusat pelatihan dengan sejumlah keunggulan dibandingkan dengan sistem pendidikan konvensional yang berbasis kelas (Kruse, 2004).&lt;br /&gt;Menyadari pentingnya sektor pendidikan di masa depan, kini pengembangan teknologi informasi untuk pendidikan telah menjadi prioritas utama di berbagai lembaga dan industri. Perusahaan perangkat lunak raksasa Microsoft bahkan menjadikan bidang pendidikan sebagai prioritas utama dalam pengembangan produk mereka. Prospek yang besar di bidang ini juga terungkap dari komentar John Chambers, CEO Cisco, bahwa E-learning adalah “the next killer app” atau aplikasi besar berikutnya (Flood, 2003). Beberapa software untuk pendidikan juga telah banyak ditawarkan, baik yang komersial maupun yang Open Source (Wiryana, 2005). Di lembaga pendidikan, teknologi informasi telah masuk dalam kurikulum sekolah. Bahkan India telah sejak lama mempunyai format sendiri dalam pemanfaatan TI untuk pendidikan (Microsoft, 2005).&lt;br /&gt;Dari uraian di atas jelaslah bahwa bidang pendidikan di masa depan tidak bisa lepas dari perkembangan teknologi informasi. Dalam tulisan ini selanjutnya akan didiskusikan bagaimana mengantisipasi perkembangan baru di bidang pendidikan modern ini sehingga teknologi informasi tidak menjadi penyebab semakin jauhnya gap ketertinggalan kita di bidang pendidikan dan semakin kuatnya kebergantungan pada negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;E-Learning dan Kesiapan SDM &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian ini kita akan meninjau kesuksesan dan kegagalan penerapan teknologi informasi yang paling luas di bidang pendidikan, yaitu E-learning. Dari uraian ini kemudian kita diskusikan bagaimana hal itu terjadi, sehingga akan memberikan pondasi pemikiran terhadap penerapan teknologi ini.&lt;br /&gt;Untuk keseragaman, pengertian E-learning dalam makalah ini mengacu pada (Woodill, 2005), yakni segala aktivitas pembelajaran yang secara aktif diberikan melalui media elektronik interaktif. Media ini bisa berupa CD-ROM, DVD, dan internet. Istilah E-learning juga sering dikaitkan dengan terminologi lain yang mempunyai arti hampir sama seperti web-based learning, online-learning, computer-aided instruction, distance learning, dan computer-based learning.&lt;br /&gt;Kesuksesan penerapan teknologi informasi untuk pendidikan telah banyak dilaporkan. Kesuksesan itu mencakup beberapa hal, diantaranya adalah efisiensi biaya, pereduksian waktu (Hall, 1997), hasil belajar yang lebih konsisten dibandingkan dengan kelas konvensional (Adam, 1992), dan peningkatan tingkat retensi peserta hingga 25% dibandingkan dengan pengajaran konvensional (Fletcher, 1990).&lt;br /&gt;Selain kesuksesan, ternyata kini banyak terjadi kegagalan dalam penerapan E-learning sebagaimana ditemukan dalam banyak hasil penelitian. Kegagalan ini terlihat misalnya dari hasil penelitian terhadap sekitar 40 perusahaan yang dilakukan Forrester Group bahwa mayoritas karyawan tidak bersedia mengikuti kursus online (Woodill, 2004) . Penelitian lain melaporkan bahwa terdapat antara 50% hingga 80% peserta didik tidak menyelesaikan kursus sampai selesai (Delio, 2000). Peneliti lainnya menunjukkan lebih dari 30% peserta membatalkan kursus (Dublin &amp; Cross, 2003).&lt;br /&gt;Suatu analisis kritis terhadap masalah ini bisa ditemukan dalam paper (Woodill, 2004; Rominzowski, 2004). Mereka mensinyalir bahwa kegagalan itu disebabkan oleh persoalan yang berbeda pada saat langkah-langkah implementasi, meliputi masalah desain awal (initial design inssues) dan efektivitas disain instruksional dan pengembangannya (instructional design and development).&lt;br /&gt;Suatu hal yang menarik dari hasil penelitian di atas bahwa bukan persoalan teknologi yang dominan terhadap kegagalan tersebut, melainkan faktor non-teknis. Penerapan E-learning memang memerlukan kesiapan budaya belajar tidak hanya pengelola sistemnya tetapi juga mereka yang akan menggunakannya. Pengelola dituntut untuk terus belajar bagaimana membuat instruksional online yang efektif. Sementara peserta didik dituntut budaya belajar secara mandiri (self learning), karena dalam E-learning semua materi pelajaran harus diorganisir sendiri sepenuhnya. Karena itu implementasi E-learning membutuhkan persiapan yang matang dan strategi yang tepat sehingga investasi yang dikeluarkan tidak sia-sia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pemilihan Teknologi dan Kemandirian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pemilihan Teknologi&lt;br /&gt;Penerapan teknologi informasi dalam berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan, memerlukan infrastruktur, baik teknis maupun non-teknis (misalnya SDM). Dalam kaitannya dengan E-learning, infrastruktur teknis berupa jaringan komunikasi, perangkat keras seperti server dan perangkat komputer penunjang (untuk yang belum tersedia), dan perangkat lunak pendukung seperti program learning management system (LMS) dan authoring tools.&lt;br /&gt;Sedangkan untuk pengembangan media pembelajaran, bentuk investasi adalah komputer yang mendukung multimedia, software multimedia authoring, audio/video editing, dan software untuk visualisasi. Selain itu implementasi media ini juga membutuhkan seperangkat komputer yang akan digunakan dalam pembelajaran.&lt;br /&gt;Dengan melihat kebutuhan akan investasi yang demikian besar maka perlu dipertimbangkan secara matang biaya perangkat keras dan perangkat lunak. Oleh karena itu penggunaan teknologi ini dalam pendidikan seyogyanya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan setempat. Penerapan teknologi yang tidak diimbangi dengan kesiapan penggunanya akan menyebabkan kemubaziran, sehingga investasi yang dikeluarkan menjadi tidak berguna.&lt;br /&gt;Selain itu juga diperlukan kebijakan dalam pemilihan teknologi. Seringkali para pengajar secara sadar atau tidak mempersempit wawasan peserta didik tentang perangkat lunak yang digunakan sebagai alat bantu pengajaran. Dalam pengajaran komputasi misalnya sering kita gunakan alat bantu seperti Matlab atau Mapple. Padahal mungkin pelajaran yang kita berikan belum membutuhkan perangkat seperti itu. Demikian juga halnya dengan pembuatan visualisasi fisika yang sering terpaku pada perangkat lunak profesional yang mahal, seperti produk Macromedia. Padahal terdapat sejumlah alternatif software yang relatif lebih murah.&lt;br /&gt;Kebijakan pemilihan teknologi ini hendaknya mengarah pada pengurangan ketergantungan terhadap suatu produk tertentu. Selain itu patut dipertimbangkan pula masalah biaya lisensi bagi perangkat lunak yang harus digunakan, karena sistem lisensi akan membebani biaya dalam jangka panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Menuju Kemandirian&lt;br /&gt;Ditinjau dari keterbukaan kodenya, kita mengenal ada dua jenis perangkat lunak, yaitu closed-source dan Open Source. Aplikasi closed-source tidak menyertakan source program pada produk yang mereka rilis. Menggunakan aplikasi closed-source dari luar negeri, baik dengan cara membeli langsung, lisensi, atau pun hanya menggunakannya secara free akan berdampak pada kebergantungan kita pada negara luar yang pada akhirnya harus dibayar dalam jangka panjang. Karena itu budaya “konsumtif” sudah seharusnya berganti menjadi budaya “produktif” untuk sampai pada kemandirian.&lt;br /&gt;Berbeda dengan closed-source, Open Source memberikan source code pada aplikasi yang dirilisnya dibawah lisensi GNU. Dengan lisensi ini maka kita bisa lebih leluasa memanfaatkannya, apakah hanya menggunakan saja atau ingin mengembangkannya untuk kebutuhan sendiri tanpa dibatasi hal-hal lain, seperti masalah politis dan ekonomi. Dengan keterbukaan ini Open Source membantu para developer belajar dengan cepat dan membuat produksi lebih murah. Oleh karenanya negara-negara yang cukup maju di bidang TI seperti India, China, Korea dan Taiwan telah memilih Open Source untuk mendorong industri TI lokal mereka tanpa harus terikat dengan perusahaan asing (Wiryana, 2005).&lt;br /&gt;Dalam kaitannya dengan E-learning, kita bisa memangkas biaya dengan memanfaatkan perangkat lunak Open Source yang sudah terkenal handal, seperti Linux, Apache dan MySQL untuk membangun infrastruktur teknologi servernya. Sedangkan di sisi client desktop bisa menggunakan Opera, Firefox atau Konqueror. Sedangkan untuk LMS kita bisa gunakan Moodle. Tentu saja perangkat lunak ini masih “mentah”, dimana tugas kita untuk mengembangkannya sesuai dengan keperluan.&lt;br /&gt;Untuk alat bantu perhitungan numerik telah banyak program Open Source yang bisa digunakan, misalnya Python, Vpython, R-Stat dan Scilab yang bisa digunakan untuk menggantikan Matlab atau Mapple. Sedangkan untuk grafis dan visualisasi bisa kita gunakan Octave, Gnu-Plot, Gimp dan Vpython. Selain itu masih banyak program berbasis Open Source yang lain yang bisa kita gunakan, misalnya untuk tujuan pemrograman seperti GCC, Java, K-Develop, Eclipse, dll.&lt;br /&gt;Dengan dukungan software Open Source yang tersedia dan mendayagunakan perangkat keras yang ada bukanlah tidak mungkin kita membangun sistem media pembelajaran berbaisis TI dan sistem E-learning dengan biaya lebih rendah. Tentu saja itu semua memerlukan kerja keras dan motivasi yang tinggi untuk bisa menerapkan teknologi informasi dalam pendidikan dengan kemandirian.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-6128939165212534976?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/6128939165212534976/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/04/teknologi-informasi-dan-komunikasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/6128939165212534976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/6128939165212534976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/04/teknologi-informasi-dan-komunikasi.html' title='Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pendidikan'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-2614558661212659026</id><published>2010-04-10T00:22:00.000-07:00</published><updated>2010-04-10T00:22:25.861-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><title type='text'>METODE PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI SISWA</title><content type='html'>Untuk memperoleh pengertian yang obyektif tentang belajar terutama belajar di sekolah, perlu dirumuskan secara jelas pengertian belajar. Pengertian belajar sudah banyak dikemukakan oleh para ahli psikologi pendidikan. Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. &lt;br /&gt;Pengertian belajar dapat didefinisikan yaitu suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Adapun berbagai teori belajar misalnya oleh Koffka dan Kohler dari Jerman bahwa belajar adalah adanya penyesuaian pertama yaitu memperoleh response yang tepat untuk memecahkan problem yang dihadapi. Adapun teori belajar menurut R Gagne bahwa belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan dan tingkah laku serta penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari interuksi ( Slameto, 2003 :9). Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan prilaku yang relatif menetap ( Abdurrahman, 2003 : 38 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pemilihan Strategi Belajar Mengajar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik tolak untuk penentuan strategi belajar-mengajar adalah perumusan tujuan pengajaran secara jelas. Agar siswa dapat melaksanakan kegiatan belajar-mengajar secara optimal, selanjutnya guru harus memikirkan pertanyaan berikut : “Strategi manakah yang paling efektif dan efisien untuk membantu tiap siswa dalam pencapaian tujuan yang telah dirumuskan?” Pertanyaan ini sangat sederhana namun sukar untuk dijawab, karena tiap siswa mempunyai kemampuan yang berbeda. Tetapi strategi memang harus dipilih untuk membantu siswa mencapai tujuan secara efektif dan produktif. &lt;br /&gt;Langkah yang harus ditempuh adalah menentukan tujuan dalam arti merumuskan tujuan dengan jelas sehingga dapat diketahui apa yang diharapkan dapat dilakukan siswa, dalam kondisi yang bagaimana serta seberapa tingkat keberhasilan yang diharapkan. Pertanyaan inipun tidak mudah dijawab, sebab selain setiap siswa berbeda, juga tiap guru pun mempunyai kemampuan dan kualifikasi yang berbeda pula. Disamping itu tujuan yang bersifat afektif seperti sikap dan perasaan, lebih sukar untuk diuraikan (dijabarkan) dan diukur. Tujuan yang bersifat kognitif biasanya lebih mudah. Strategi yang dipilih guru untuk aspek ini didasarkan pada perhitungan bahwa strategi tersebut akan dapat membentuk sebagaimana besar siswa untuk mencapai hasil yang optimal.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Namun guru tidak boleh berhenti sampai disitu, dengan kemajuan teknologi, guru dapat mengatasi perbedaan kemampuan siswa melalui berbagai jenis media instruksional. Misalnya, sekelompok siswa belajar melalui modul atau kaset audio, sementara guru membimbing kelompok lain yang dianggap masih lemah. &lt;br /&gt;Kriteria Pemilihan Strategi Belajar-mengajar, menurut Gerlach dan Ely adalah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Efisiensi&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru biologi akan mengajar insekta (serangga). Tujuan pengajarannya berbunyi : Diberikan lima belas jenis gambar binatang, yang belum diberi nama, siswa dapat menunjukkan delapan jenis binatang yang termasuk jenis serangga. Untuk mencapai tujuan tersebut, strategi yang paling efisien ialah menunjukkan gambar jenis-jenis serangga itu dan diberi nama, kemudian siswa diminta memperhatikan ciri-cirinya. Selanjutnya para siswa diminta mempelajari di rumah untuk dihafal cirinya, sehingga waktu diadakan tes mereka dapat menjawab dengan betul. Dengan kata lain mereka dianggap telah mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan Strategi ekspository tersebut memang merupakan strategi yang efisien untuk pencapaian tujuan yang bersifat hafalan. Untuk mencapai tujuan tersebut dengan strategi inquiry mungkin oleh suatu konsep, bukan hanya sekedar menghafal.&lt;br /&gt;Strategi ini lebih tepat. Guru dapat menunjukkan berbagai jenis binatang, dengan sketsa atau slide kemudian siswa diminta membedakan manakah yang termasuk serangga; ciri-cirinya, bentuk dan susunan tubuhnya, dan sebagainya. Guru menjawab pertanyaan siswa dengan jawaban pelajari lebih jauh. Mereka dapat mencari data tersebut dari buku-buku di perpustakaan atau melihat kembali gambar (sketsa) yang ditunjukkan guru kemudian mencocokkannya. Dengan menunjuk beberapa gambar, guru memberi pertanyaan tentang beberapa spesies tertentu yang akhirnya siswa dapat membedakan mana yang termasuk serangga dan mana yang bukan serangga. Kegiatan ini sampai pada perolehan konsep tentang serangga.&lt;br /&gt;Metode terakhir ini memang membawa siswa pada suatu pengertian yang sama dengan yang dicapai melalui ekspository, tetapi pencapaiannya jauh lebih lama. Namun inquiry membawa siswa untuk mempelajari konsep atau pnnsip yang berguna untuk mengembangkan kemampuan menyelidiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Efektifitas&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi yang paling efisien tidak selalu merupakan strategi yang efektif. Jadi efisiensi akan merupakan pemborosan bila tujuan akhir tidak tercapai. Bila tujuan tercapai, masih harus dipertanyakan seberapa jauh efektifitasnya. Suatu cara untuk mengukur efektifitas ialah dengan jalan menentukan transferbilitas (kemampuan memindahkan) prinsip-prinsip yang dipelajari. Kalau tujuan dapat dicapai dalam waktu yang lebih singkat dengan suatu strategi tertentu dari pada strategi yang lain, maka strategi itu efisien. Kalau kemampuan mentransfer informasi atau skill yang dipelajari lebih besar dicapai melalui suatu strategi tertentu dibandingkan strategi yang lain, maka strategi tersebut lebih efektif untuk pencapaian tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kriteria lain :&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertimbangan lain yang cukup penting dalam penentuan strategi maupun metode adalah tingkat keterlibatan siswa. (Ely. P. 186). Strategi inquiry biasanya memberikan tantangan yang lebih intensif dalam hal keterlibatan siswa. Sedangkan pada strategi ekspository siswa cenderung lebih pasif. Biasanya guru tidak secara murni menggunakan ekspository maupun discovery, melainkan campuran. Guru yang kreatif akan melihat tujuan yang akan dicapai dan kemampuan yang dimiliki siswa, kemudian memilih strategi yang lain efektif dan efisien untuk mencapainya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penerapan Proses Pembelajaran PBL (Problem Based Learning)&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses belajar mengajar tradisional, guru mendominasi kegiatan siswa selalu pasif dan tidak aktif bertanya, sedangkan guru aktif bahkan segala inisiatif datang dari guru. Aktivitas anak terbatas pada mendengar, mencatat dan menjawab bila guru memeberika pertanyaan tetapi siswa tidak bertanya meskipun belum mengerti terhadap materi yang telah diajarkan. Proses belajar mengajar seperti ini jelas tidak mendorong siswa untuk kreatif, aktif dan mandiri.&lt;br /&gt;Model pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran berdasarkan masalah ( problem posing ) dimana model pembelajaran ini menekankan kemamapuan siswa dalam aktif membuat soal dan dapat mengerjakan soal yang diberikan oleh guru atau kelompok yang lain dengan cara diskusi. Selama penjelasan didepan kelas, guru memberikan penjelasan materi agar lebih dapat membantu siswa dalam memahami suatu konsep. Setelah guru memberikan penjelasan maka siswa di suruh untuk membentuk kelompok diskusi dan menekankan agar aktif bertanya baik dalam bentuk soal dengan kelompok sendiri maupun dengan kelompok yang lain.&lt;br /&gt;Problem Based Learning dengan menggunakan pembentukan kelompok diskusi menjadi menarik karena dalam pelaksanaannya siswa dapat menunjukan kemampuannya kepada siswa yang lain. Selama proses diskusi dengan kelompoknya siswa akan menjadi aktif dalam bertanya dan menyampaikan ide / gagasannya. Siswa yang mampu menjawab soal dari guru atau kelompok yang lain akan merasa bangga dan senang, sedangkan siswa yang belum bisa mengerjakan soal akan merasa tertantang sehingga akan termotivasi untuk lebih giat lagi dalam belajar dan pada akhirnya akan meningkatkan pemahaman pada siswa.&lt;br /&gt;Pembelajaran berdasarkan masalah telah dikenal sejak zaman John Dewey, yang sekarang ini mulai diangkat sebab ditinjau secara umum pembelajaran berdasarkan masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang otentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Pembelajaran Berdasarkan Masalah&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks (Ratumanan, 2002 : 123).&lt;br /&gt;Menurut Arends (1997), pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang otentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan ketrampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri. Model pembelajaran ini juga mengacu pada model pembelajaran yang lain, seperti “pembelajaran berdasarkan proyek (project-based instruction)”, ” pembelajaran berdasarkan pengalaman (experience-based instruction)”, “belajar otentik (authentic learning)” dan ”pembelajaran bermakna (anchored instruction)”.&lt;br /&gt;Metode berdasarkan masalah memberikan kesempatan peserta didik berperan aktif dalam mempelajari, mencari dan menemukan sendiri informasi / data untuk diolah menjadi konsep, prinsip, teori atau kesimpulan. Metode ini digunakan guru bersama dengan penggunaan metode lain, contohnya metode diskusi yaitu suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberi kesempatan kepada para siswa ( kelompok-kelompok siswa ) untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif atas pemecahan masalah ( Hasibuan Dkk, 2004 : 20 ).&lt;br /&gt;Di samping itu dalam pembelajaran di kelas antara metode diskusi dan metode berdasarkan masalah mempunyai kesamaan, yaitu siswa membuat soal sendiri dan mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif pemecahan atas suatu masalah. Jadi dengan menggunakan metode berdasarkan masalah guru tidak memberikan informasi dulu, tetapi informasi diperoleh siswa setelah memecahkan masalah, sehingga aktifitas siswa untuk bertanya akan selalu dibutuhkan guna mengetahui alternatif masalah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri khusus Pembelajaran Berdasarkan Masalah&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Menurut Arends (2001 : 349) berbagai pengembang pengajaran berdasarkan masalah telah memberikan model pengajaran itu memiliki karakteristik sebagai berikut (Krajcik, 1999; Krajcik, Blumenfeld, Marx, &amp; soloway, 1994; Slavin, Maden, Dolan, &amp; Wasik, 1992, 1994; Cognition &amp; Technology Group at Vanderbilt, 1990). &lt;br /&gt;1. Pengajuan pertanyaan atau masalah. Bukannya mengorganisasikan di sekitar prisip-prinsip atau ketrampilan akademik tertentu, pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang dua-duanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna untuk siswa. Mereka mengajukan situasi kehidupan nyata autentik, menghindari jawaban sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk situasi itu.&lt;br /&gt;2. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin. Meskipun pembelajaran berdasarkan masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu (IPA, matematika, ilmu-ilmu sosial), masalah yang akan diselidiki telah dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya, siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran. Sebagai contoh, masalah polusi yang dimunculkan dalam pelajaran di teluk Chesapeake mencakup berbagai subyek akademik dan terapan mata pelajaran seperti biologi, ekonomi, sosiologi, pariwisata, dan pemerintahan.&lt;br /&gt;3. Penyelidikan autentik. Pembelajaran berdasarkan masalah mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata. Mereka harus menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis, dan membuat ramalan, mengumpul dan menganalisa informasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi, dan merumuskan kesimpulan. Sudah barang tentu, metode penyelidikan yang digunakan, bergantung kepada masalah yang sedang dipelajari.&lt;br /&gt;4. Menghasilkan produk dan memamerkannya. pembelajaran berdasarkan masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Produk tersebut dapat berupa transkrip debat seperti pada pelajaran ”Roots and wings”. Produk itu dapat juga berupa laporan, model fisik, video maupun program komputer. Karya nyata dan peragaan seperti yang akan dijelaskan kemudian, direncanakan oleh siswa untuk mendemonstrasikan kepada teman-temannya yang lain tentang apa yang mereka pelajari dan menyediakan suatu alternatif segar terhadap laporan tradisional atau makaah.&lt;br /&gt;5. Kolaborasi. Pembelajaran berdasarkan masalah dicirikan oleh siswa yang bekerja sama satu dengan yang lainnya, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil. Bekerja sama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan ketrampilan berfikir.&lt;br /&gt;6. Manfaat Pembelajaran Berdasarkan Masalah Pembelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Pembelajaran berdasarkan masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual; belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi; dan menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri (Ibrahim, 2000 : 7).&lt;br /&gt;Menurut Sudjana manfaat khusus yang diperoleh dari metode Dewey adalah metode pemecahan masalah. Tugas guru adalah membantu para siswa merumuskan tugas-tugas, dan bukan menyajikan tugas-tugas pelajaran. Objek pelajaran tidak dipelajari dari buku, tetapi dari masalah yang ada di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah Pembelajaran Berdasarkan Masalah&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pengajaran berdasarkan masalah terdiri dari 5 langkah utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa. Kelima langkah tersebut dijelaskan berdasarkan langkah-langkah berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap 1 Orientasi siswa pada masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap 2 Mengorganisasi siswa untuk belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap 3 Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap 5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan. (Sumber: Ibrahim, 2000 : 13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibrahim (2003:15), di dalam kelas, peran guru berbeda dengan kelas tradisional. Peran guru di dalam kelas yang menerapkan PBL antara lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Mengajukan masalah atau mengorientasikan siswa kepada masalah autentik, yaitu masalah kehidupan nyata sehari-hari.&lt;br /&gt;* Memfasilitasi/membimbing penyelidikan misalnya melakukan pengamatan atau melakukan eksperimen/ percobaan.&lt;br /&gt;* Memfasilitasi dialog siswa.&lt;br /&gt;* Mendukung belajar siswa. &lt;br /&gt;* Kelebihan dan kelemahan metode pembelajaran berdasarkan masalah (Problem Based Learning)&lt;br /&gt;Kelebihan Problem Based Learning&lt;br /&gt;a. Siswa dapat berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pembelajaran&lt;br /&gt;b. Mendidik siswa berpikir sistematis, &lt;br /&gt;c. Mendidik siswa tidak mudah putus asa dalam menghadapi kesulitan,&lt;br /&gt;d. Mampu mencari berbagai jalan dari suatu kesulitan yang dihadapi,&lt;br /&gt;f. Siswa akan terampil menyelesaikan soal tentang materi yang diajarkan,&lt;br /&gt;g. Siswa berkesempatan menunjukkan kemampuannya pada kelompok &lt;br /&gt;lain.&lt;br /&gt;Kelemahan Problem Based Learning&lt;br /&gt;a. Pembelajaran model Problem Based Learning membutuhkan waktu&lt;br /&gt;yang lama,&lt;br /&gt;b. perlu ditunjang oleh buku yang dapat dijadikan pemahaman dalam&lt;br /&gt;kegiatan belajar terutama membuat soal. ( Tim Penelitian Tindakan &lt;br /&gt;Matematika dalam Akhyar, 2002:14 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan :&lt;br /&gt;1.Metode mengajar yang bervariasi perlu dimiliki oleh pendidik dan dipraktekkan pada saat mengajar. &lt;br /&gt;2.Tipe belajar peserta didik perlu diketahui oleh pendidik, melalui observasi agar pendidik dapat menyesuaikan metode apa yang akan diterapkan pada saat mengajar. &lt;br /&gt;3.Tipe belajar siswa berbeda-beda, karena banyak faktor yang mempengaruhi, diantaranya : lingkungan tempat tinggal, keluarga, orang tua, dan sebagainya. &lt;br /&gt;4.Pendidik yang bijaksana dalam pelaksanaan pengajaran (pembelajaran) selalu berfikir bagaimana murid-muridnya, apakah murid-muridnya dapat mengerti apa yang disampaikan, apakah murid mengalami proses belajar, apakah materinya sesuai dengan pemahaman dan kematangan anak, dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-2614558661212659026?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/2614558661212659026/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/04/metode-pembelajaran-berdasarkan-masalah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/2614558661212659026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/2614558661212659026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/04/metode-pembelajaran-berdasarkan-masalah.html' title='METODE PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI SISWA'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-2766486898165378943</id><published>2010-04-09T22:03:00.000-07:00</published><updated>2010-04-10T03:45:52.353-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MATEMATIKA'/><title type='text'>Menggunakan Lambang Catur untuk Mengajarkan Aritmatika</title><content type='html'>1. Lambang Catur Mempunyai Nilai – Nilai yang Bermakna Khusus.&lt;br /&gt;Di dalam bahasa Inggris, penulisan huruf seperti ,..... biasanya digunakan untuk menghadirkan klasifikasi nilai –nilai numerik yang tidak diketahui. Huruf yang tidak dikenal ini biasanya juga disebut sebagai variabel dan biasanya huruf – huruf ini tidak mempunyai nilai- nilai yang menggambarkan maksud atau arti satu per satu. Dengan kata lain, penggunaan lambang catur dirasa lebih efektif karena pada lambang catur masing – masing telah pasti menggambarkan nilai – nilai yang mempunyai arti khusus dan nilai- nilai ini dihubungkan ke masing – masing lambang catur dengan kekuasaan yang dimiliki dalam permainan catur. Perhatikan contoh berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diketahui X = 1 dan Y = 3, maka X + Y = 1 + 3 = 4&lt;br /&gt;Dari contoh diatas, X adalah 1 dan Y adalah 3 tetapi X tidak harus bernilai 1 dan Y tidak harus bernilai 3.&lt;br /&gt;Jika kita menggunakan lambang catur, maka kita bisa menuliskan persoalan diatas sebagai : &lt;br /&gt;pion + uskup = 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari contoh diatas pion dan uskup masing – masing telah menggambarkan nilai 1 dan 3 berturut – turut secara rinci dan nilai- nilai itu tidak akan berubah hanya karena persoalan yang berbeda. Pada aljabar, para siswa akan mengganti X atau Y dengan nilai – nilai yang berbeda ketika nilai yang diberikan diubah. Dengan kata lain, nilai X dan Y dapat diubah untuk persoalan yang berbeda.&lt;br /&gt;Untuk membandingkan nilai – nilai pengganti pada lambang catur dan nilai variabel – variabel secara aljabar, kita menyadari bahwa ada suatu perbedaan yaitu dalam penggantian lambang catur, bahwa penggantian adalah intuitive untuk anak – anak karena nilai – nilai dari lambang catur sulit digambarkan dan mempunyai banyak arti bagi mereka.&lt;br /&gt;Lambang catur yang digunakan dalam buku catatan penulis dan menghubungkannya dengan persoalan matematika dengan menggunakan puzzle tidak perlu dipandang oleh anak – anak sebagai variabel karena nilai – nilai ini mempunyai arti khusus bagi anak – anak. Mereka dapat dengan mudah menghubungkan antara lambang catur dan nilai yang relative bagi mereka dengan lebih baik. Penggunaan figur hewan atau lambang lainnya seperti  puzzle akan begitu kurang berarti dan kurang menarik bagi anak – anak jika dibandingkan dengan penggunaan lambang catur dalam persoalan matematika.&lt;br /&gt;Masing – masing anggota dalam permainan catur telah dibekali nilai – nilai yang berbeda satu sama lain. Sebagai contoh, berikut ini adalah nilai – nilai yang dibekali dalam lambang catur dan telah digunakan dalam buku catatan penulis :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;K (raja)  =  bernilai 0&lt;br /&gt;P (pion) =  bernilai 1&lt;br /&gt;N (kuda) =  bernilai 4&lt;br /&gt;B (uskup) =  bernilai 3&lt;br /&gt;R (benteng) =  bernilai 5&lt;br /&gt;Q (ratu) =  bernilai 9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan telah ditentukannya nilai – nilai yang terkandung di dalam lambang catur, maka  anak – anak dapat dengan mudah menghubungkan nilai – nilai tersebut dengan mengubah variabel – variabel yang tertera dalam persoalan matematika yang dihadapi ke dalam lambang catur.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Lambang Catur Mempunyai Gerakan yang Penuh Arti.&lt;br /&gt;Alasan lain dari penggunaan lambang catur ke dalam persoalan matematika adalah nilai dari masing – masing lambang catur tersebut mewakili tugas pergerakan dan arah pergerakan dengan waktu yang bersamaan itu menyerupai beberapa operator aritmatika. Sebagai contoh benteng dalam permainan catur dapat bergerak naik – turun, ke kanan – ke kiri dan dengan pergerakan seperti itu dalam aritmatika terlihat seperti a + tanda.&lt;br /&gt;Masing – masing lambang catur mempunyai suatu arah gerakan yang telah ditentukan berdasarkan nilai – nilai yang telah diwakilkan dan arah pergerakan ini adalah bersesuaian dengan kekuasaan masing – masing anggota yang ada pada catur. Penulis mendapatkan keuntungan dari pergerakan anggota – anggota catur dan mengilustrasikannya sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjumlahan  (+) = benteng&lt;br /&gt;Pengurangan  (-) = kuda&lt;br /&gt;Perkalian    (x) = uskup&lt;br /&gt;Pembagian    (:) = raja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggunakan pengilustrasian diatas ke dalam persoalan matematika, anak - anak dapat dengan mudah memecahkan persoalan matematika yang dihadapi. Perhatikan contoh berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diketahui 2 + 3 = 5 kemudian 3 x 2 = 6&lt;br /&gt;Jika kita menggunakan ilustrasi dari pergerakan lambang    catur, maka soal tersebut akan menjadi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diketahui 2 benteng 3 = 5 kemudian 3 uskup 2 = 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari persoalan diatas, terlihat bahwa penggunaan ilustrasi dari pergerakan lambang catur lebih menyenangkan daripada langsung menggunakan variabel yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu permasalahan dalam pendidikan matematika adalah sulitnya memahami konsep-konsep matematika dikarenakan penyampaian materi yang rumit dan membosankan. Kebanyakan siswa saat ini merasa jenuh dan kurang menikmati apa yang mereka pelajari dalam matematika. Sebagian besar siswa yang kesulitan untuk memahami konsep matematika saat proses pembelajaran berlangsung dikarenakan penyampaian materi yang rumit (Mays, 2005). Artikel yang berjudul “Using Chess Symbols to Teach Arithmetic” adalah merupakan ulasan dari sebuah buku yang berjudul “The Mathematical Chess Puzzles for Juniors” yang dikarang oleh Frank Ho (2006) yang berusaha untuk menarik minat siswa untuk mamahami konsep dalam belajar matematika dengan menggunakan lambang catur.&lt;br /&gt;Menurut penulis, penggunaan lambang catur adalah salah satu media pembelajaran yang efektif untuk menarik minat siswa dalam pembelajaran matematika karena minat itu sendiri adalah suatu motif yang menyebabkan individu berhubungan secara aktif dengan sesuatu media yang menariknya ( I.L Pasaribu &amp; Simanjuntak, 1999). Dengan kurangnya minat dari siswa untuk mengikuti proses  pembelajaran maka akan berpengaruh negatif pada siswa itu sendiri yaitu tidak tercapainya tujuan dari preoses pembelajaran. Raymond J.W dan Judith (2004:22) mengungkapkan bahwa secara harfiah anak – anak memiliki minat untuk tertarik pada belajar, pengetahuan, seni (motivasi positif) namun mereka juga bisa tertarik pada hal – hal yang negatif. Sementara itu, gagasan tentang penggunaan lambang catur pada pembelajaran matematika yang dikemukakan penulis di dalam bukunya melalui serangkaian penelitian dan pengalaman penulis sebagai seorang pengajar menunjukkan anggapan ini. Penulis juga menjelaskan isi dari buku yang di karangnya adalah untuk mengeksplorasi peranan alat bantu dalam memfasilitasi dan memudahkan siswa untuk menganalisis dan memahami masalah secara kreatif dan konseptual. Alat bantu itu digunakan untuk memudahkan pemahaman siswa akan konsep aritmatika. Penulis berpendapat bahwa catur adalah tidak hanya sebagai permainan tetapi juga dapat difungsikan sebagai media pembelajaran matematika, khususnya pada materi aritmatika.  Anak – anak tersebut tidak hanya belajar catur, tetapi juga mempunyai peluang untuk menyelidiki teka – teki catur dengan menerapkan pengetahuan dasar tentang permainan catur. Penulis menganalisis nilai dari masing – masing lambang catur dan kemudian menghubungkan nilai dan lambang catur ke dalam operasi aritmatika. Penerapan penggunaan lambang catur ke dalam persoalan aritmatika adalah dengan mengganti variabel – variabel yang biasa digunakan dalam persoalan aritmatika dengan lambang catur. Misalnya variabel X dan Y dapat diubah menjadi Pion dan Uskup. Berdasarkan isi dari artikel tersebut, dijelaskan bahwa penulis telah menentukan nilai dari masing – masing lambang catur yaitu K(raja) = 0, P(pion) = 1, N(kuda) = 4, B(uskup) = 3, R(benteng) = 5,   Q (ratu) = 9. Dari nilai – nilai yang ditentukan oleh penulis diatas, masing – masing lambang catur telah memiliki nilai – nilai secara rinci dan nilai – nilai itu tidak akan berubah hanya karena dihadapkan pada persoalan yang berbeda. Namun pada variabel X dan Y, pada aljabar dapat berubah nilainya ketika pada soal nilai variabel yang diberikan diubah. Hal ini berarti bahwa nilai X dan Y dapat berubah untuk persoalan yang berbeda.&lt;br /&gt;Pengalaman penulis menggunakan lambang catur dalam mengajarkan operasi aritmatika sangat positif. Para siswa sekolah dasar yang belum mempelajari tentang variabel tetapi sudah mahir dan lancar mengerjakan lembar soal yang diberikan dengan menggunakan lambang catur. Itu artinya bahwa penggunaan lambang catur terbukti dapat membantu para siswa untuk mampu menyerap konsep dari variabel ajabar dan substitusi dengan cara yang efektif dan alami. Tidak perlu menjelaskan konsep – konsep tentang variabel selain daripada nilai – nilai anggota catur yang telah ditentukan. Sebagai contoh :&lt;br /&gt;Benteng + 5 =.....&lt;br /&gt;Untuk menjawab soal itu, guru hanya harus mengingatkan siswa pada nilai yang telah dimiliki oleh benteng. Dengan telah ditentukannya nilai – nilai yang terkandung pada lambang catur, maka anak – anak dapat dengan mudah menghubungkan nilai – nilai tersebut  dengan mengubah masing – masing variabel yang tertera pada soal. Alasan mengapa para siswa mudah memahami konsep tentang substitusi adalah para siswa mampu menghubungkan nilai yang dimiliki masing – masing anggota catur dikarenakan minat dan rasa senang yang muncul ketika menggunakan lambang catur sebagai media pembelajaran. Ketika kemudahan dalam memecahkan suatu permasalahan telah didapat, maka hal ini dapat memicu timbulnya minat pada diri siswa untuk memahami konsep pembelajaran. Apa saja yang diperbuat manusia, yang penting maupun tidak penting, selalu dipengaruhi oleh minat yang kemudian diikuti oleh motivasi (Ngalim Purwanto, 2004:64-65). Ini berarti, apapun tindakan yang dilakukan seseorang selalu berawal dari minat dan diikuti oleh motivasi sebagai dorongan ia melakukan tindakannya itu. Jadi setiap kegiatan yang dilakukan individu selalu ada minat dan motivasinya.&lt;br /&gt;Nilai dari masing – masing lambang catur yang mewakili tugas pergerakan dan arah pergerakan dengan waktu yang bersamaan oleh penulis dikatakan menyerupai beberapa operator aritmatika dan alasan inilah yang juga melatarbelakangi penulis menggunakan lambang catur kedalam persoalan matematika. Penulis mencontohkan benteng dalam permainan catur yang dapat bergerak naik – turun dan ke kanan – ke kiri secara vertikal dan horizontal yang secara aritmatika terlihat seperti a + tanda. Di dalam permainan catur, masing – masing lambang telah dibekali suatu arah gerakan yang ditentukan berdasarkan nilai yang telah diwakilkan dan arah pergerakan ini adalah bersesuaian dengan kekuasaan masing – masing anggota yang ada pada catur. Berdasarkan pergerakan itu, penulis mengilustrasikannya kedalam operasi aritmatika, yaitu penjumlahan (+) = benteng, pengurangan (-) = kuda, perkalian (x) = uskup, pembagian (:) = raja.&lt;br /&gt;Penulis mencatat dalam artikelnya berdasarkan penelitian dan pengalaman mengajar yang dimiliki bahwa penggunaan nilai – nilai serta ilustrasi pada pergerakan lambang catur ternyata lebih efektif dan menyenangkan bagi para siswa dalam memecahkan persoalan aritmatika daripada langsung menggunakan variabel – variabel dan operasi – operasi aritmatika yang sebenarnya. Hal ini dikarenakan lambang catur lebih mudah dicerna dan diterima di otak para siswa jika dibandingkan dengan media pembelajaran lainnya.&lt;br /&gt;Penulis mempunyai persepsi bahwa salah satu masalah yang menyebabkan siswa sulit memahami konsep – konsep matematika yang diajarkan adalah kurangnya minat dari dalam diri siswa untuk bekerja, berpikir, dan menikmati materi pembelajaran yang disampaikan. Hal ini disebabkan oleh penyampaian materi yang begitu rumit dan membosankan. Dari masalah tersebut, penulis mempunyai ide menggunakan lambang catur sebagai media pembelajaran yang bertujuan untuk lebih menarik minat siswa dalam memahami konsep matematika. Setelah penulis melakukan penelitian serta berbekal pada pengalamannya sebagai pengajar, ternyata penggunaan lambang catur sebagai media pembelajaran berpengaruh dalam menarik minat siswa untuk berusaha memahami konsep matematika. Pertama, penulis menjelaskan bagaimana permainan catur, kemudian menentukan nilai yang dibekali pada masing – masing lambang catur. Setelah masing – masing lambang catur diberikan nilai, kemudian menghubungkannya kedalam persoalan matematika dengan cara mengubah  variabel – variabel yang tertera pada soal dengan lambang catur berdasarkan nilai yang telah ditentukan. Dengan cara ini para siswa terbukti mampu menguasai konsep aritmatika secara aljabar dengan mudah dalam mengubah variabel – variabel pada soal dengan lambang catur. Kedua, selain menentukan nilai masing – masing lambang catur dengan mengubah variabel pada soal, penulis juga mengilustrasikan operasi aritmatika ke dalam lambang catur berdasarkan pada arah gerak yang dimiliki anggota catur. Jadi, setiap anggota catur mewakili operasi perhitungan aritmatika berdasarkan arah gerak dari masing – masing anggota catur.&lt;br /&gt;Berdasarkan penelitian dan pengalaman penulis sebagai pengajar serta berbagai respon dari siswa yang diajar, penulis menemukan fakta bahwa penggunaan lambang catur sebagai media pembelajaran sangat membantu para siswa – siswa sekolah dasar yang kesulitan memahami konsep dari aritmatika. Yang paling menarik dari penggunaan lambang catur adalah  bahwa setiap anggota catur tidak hanya dapat diberi nilai, tetapi juga dapat diilustrasikan sebagai operasi aritmatika berdasarkan arah pergerakan yang dimiliki anggota catur. &lt;br /&gt;Dengan menggunakan lambang catur, sebuah langkah sederhana dari pemecahan masalah perhitungan aritmatika dapat menjadi beragam langkah pemecahan, dan hasilnya lambang catur dengan nilai pengetahuan yang dimiliki anak dapat meningkat pada saat anak bekerja pada jenis persoalan yang berbeda, kemudian meningkatkan kinerja otak dan kemampuan anak untuk memecahkan suatu persoalan yang dihadapi.&lt;br /&gt;Penggunaan lambang catur sebagai media pembelajaran matematika yang dikemukakan oleh penulis tidak hanya terbatas pada konsep aritmatika saja. Banyak konsep materi matematika yang dapat menggunakan lambang catur sebagai media pembelajarannya seperti urutan dan deret, ilmu ukur, teori pasti, logika dll. Dengan kata lain, cara pengintegrasian begitu beranekaragam dan juga melibatkan arah penggambaran yang beragam.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-2766486898165378943?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/2766486898165378943/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/04/menggunakan-lambag-catur-untuk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/2766486898165378943'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/2766486898165378943'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/04/menggunakan-lambag-catur-untuk.html' title='Menggunakan Lambang Catur untuk Mengajarkan Aritmatika'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-1362716090275798097</id><published>2010-04-09T21:07:00.000-07:00</published><updated>2010-04-09T21:39:44.651-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><title type='text'>ALGORITMA</title><content type='html'>&lt;b&gt;Definisi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Definisi algoritma adalah urutan langkah-langkah logis penyeselaian masalah yang disusun secara sistematis dan logis. Kata logis (logika) merupakan kata kunci dalam algoritma. Langkah-langkah dalam algoritma harus dapat ditentukan bernilai benar atau salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Algoritma Dalam Kehidupan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Algoritma adalah jantung ilmu komputer atau informatika. Banyak cabang ilmu komputer yang diacu dalam terminologi algoritma. Namun algoritma juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari, contohnya resep makanan. Di dalam resep makanan terdapat langkah-langkah yang merupakan algoritma. Selain itu masih banyak contoh algoritma yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bahasa Pemrograman&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Untuk melaksanakan suatu algoritma diperlukan suatu bahasa pemrograman, contoh bahasa pemrograman adalah : Pascal, C++, Basic, dll. Notasi algoritma dapat diterjemahkan kedalam bahasa pemrograman apapun, dengan kata lain notasi algoritma bersifat independen.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Flowchart&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Suatu flowchart adalah suatu representasi secara diagram yang mengilustrasikan urutan dari operasi yang dilakukan untuk mendapatkan suatu hasil. Dengan kata lain, flowchart membantu kita untuk mengerti dan melihat bentuk algoritma dengan menampilkan algoritma dalam simbol-simbol gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S7_0HOj8OAI/AAAAAAAAAHA/QdnKWIxvTXA/s1600/simbol.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S7_0HOj8OAI/AAAAAAAAAHA/QdnKWIxvTXA/s400/simbol.JPG" width="360" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5C%27Bakti%27%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5C%27Bakti%27%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5C%27Bakti%27%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0in;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-hansi-font-family:Calibri;}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dalam menggambar flowchart, digunakan simbol tertentu seperti diatas. Contoh berikut bisa digunakan untuk lebih mengerti perbedaan kegunaan simbol-simbol tersebut. Misal kita ingin mencari jumlah dari 2 buah bilangan, maka flowchart-nya adalah sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S7_11lwDMcI/AAAAAAAAAHI/MNMhbZvkSHg/s1600/flowchart.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://3.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S7_11lwDMcI/AAAAAAAAAHI/MNMhbZvkSHg/s400/flowchart.JPG" width="375" /&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5C%27Bakti%27%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5C%27Bakti%27%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5C%27Bakti%27%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0in;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-hansi-font-family:Calibri;}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;  Gambar 1.2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Flowchart ini menggambarkan setiap tahapan eksekusi dari awal hingga akhir untuk menyelesaikan masalah. Pembuatan Flowchart harus menggunakan kaidah yang benar dan baku sehingga terjadi persamaan penafsiran maka dari itulah dibuat suatu rumusan penulisan Flowchart yang disetujui dan dipakai secara Internasional.&lt;br /&gt;Nach lambang-lambang Flowchart tersebut melambangkan setiap eksekusi atau proses yang terjadi didalamnya, sehingga seorang programmer dapat mengetahui proses apa saja yang terjadi dari sebuah program yang hendak ia buat dengan bantuan Flowchart tersebut.&lt;br /&gt;Fungsi dari Flowchart antara lain adalah:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5C%27Bakti%27%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5C%27Bakti%27%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5C%27Bakti%27%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0in;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-hansi-font-family:Calibri;}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0	{mso-list-id:1918205833;	mso-list-template-ids:-59231058;}@list l0:level1	{mso-level-tab-stop:.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;}ol	{margin-bottom:0in;}ul	{margin-bottom:0in;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable	{mso-style-name:"Table Normal";	mso-tstyle-rowband-size:0;	mso-tstyle-colband-size:0;	mso-style-noshow:yes;	mso-style-priority:99;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;	mso-para-margin:0in;	mso-para-margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:10.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Mengetahui alur kerja suatu kejadian/masalah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Memperjelas tahapan kerja&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Mempresentasikan tahapan kerja&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Mempermudah dalam membuat program&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5C%27Bakti%27%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5C%27Bakti%27%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5C%27Bakti%27%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0in;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-hansi-font-family:Calibri;}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;Pseudo Code&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;&lt;m:dispdef&gt;&lt;m:lmargin m:val="0"&gt;&lt;m:rmargin m:val="0"&gt;&lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0in;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-hansi-font-family:Calibri;}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Pseudo Code adalah urutan baris algoritma seperti kode pemrograman dan tidak memiliki sintak yang baku. Pseudo Code lebih umum digunakan oleh programmer yang berpengalaman. Akan tetapi, flowchart lebih mudah dimengerti oleh programmer pemula, pseudo code sangat mudah diimplementasikan ke dalam kode program dibandingkan dengan flowchart. Kita bisa bebas menulis pseudo code selama itu mudah dimengerti bagi orang lain. Tetapi disarankan untuk menggunakan keyword yang umum digunakan seperti : if, then, else, while, do, repeat, for, dan lainnya. Dan ikuti gaya penulisan pemrograman seperti Pascal, C++, dll. Perhatikan kode dibawah ini :&lt;/span&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5C%27Bakti%27%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5C%27Bakti%27%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5C%27Bakti%27%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0in;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-hansi-font-family:Calibri;}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0	{mso-list-id:1125855266;	mso-list-template-ids:2119185296;}@list l0:level1	{mso-level-tab-stop:.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;}ol	{margin-bottom:0in;}ul	{margin-bottom:0in;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Mulai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Masukkan sebuah angka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Masukkan sebuah angka dan tampilkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Ambil angka yang sebelumnya dan tampilkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Selesai&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5C%27Bakti%27%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5C%27Bakti%27%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5C%27Bakti%27%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0in;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-hansi-font-family:Calibri;}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Walaupun pseudo code diatas masih bisa dimengerti tetapi ada beberapa statemen yang ambigu. Dari baris kedua, kita tidak tahu kemana angka tersebut disimpan dan kita juga tidak tahu angka yang mana yang dimaksud untuk “&lt;u&gt;angka yang sebelumnya&lt;/u&gt;”. Apakah angka yang pertama atau yang kedua. Pseudo Code diatas dapat dimodifikasi menjadi seperti berikut :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5C%27Bakti%27%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5C%27Bakti%27%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5C%27Bakti%27%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0in;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-hansi-font-family:Calibri;}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0	{mso-list-id:1001469068;	mso-list-template-ids:1432879330;}@list l0:level1	{mso-level-tab-stop:.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;}ol	{margin-bottom:0in;}ul	{margin-bottom:0in;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Start&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Masukkan A&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Masukkan B, Tampilkan B&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Tampilkan A&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;End&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ol&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5C%27Bakti%27%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5C%27Bakti%27%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5C%27Bakti%27%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0in;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-hansi-font-family:Calibri;}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0	{mso-list-id:613948766;	mso-list-template-ids:-1983602072;}@list l0:level1	{mso-level-tab-stop:.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;}ol	{margin-bottom:0in;}ul	{margin-bottom:0in;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Pseudo Code diatas lebih baik dibandingkan sebelumnya. Kita bisa dengan jelas melihat dimana angka disimpan dan angka yang mana yang ditampilkan. Sekarang kita akan mengubah flowchart pada gambar 1.2&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Start&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Masukkan A dan B&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;C = A + B&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Tampilkan C&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;End.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-1362716090275798097?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/1362716090275798097/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/04/algoritma.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/1362716090275798097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/1362716090275798097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/04/algoritma.html' title='ALGORITMA'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S7_0HOj8OAI/AAAAAAAAAHA/QdnKWIxvTXA/s72-c/simbol.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-4578824779955924618</id><published>2010-04-06T23:44:00.000-07:00</published><updated>2010-04-06T23:44:17.933-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KESEHATAN'/><title type='text'>Pertolongan Pertama pada Korban Trauma</title><content type='html'>Yang dimaksud dengan korban trauma adalah korban yang mengalami gangguan fisik, yaitu berupa benturan dengan benda keras. Penyebab terjadinya benturan bisa bermacam-macam, seperti jatuh, kejatuhan benda, atau kecelakaan lalu lintas.&lt;br /&gt;Berdasarkan tingkat cideranya, korban trauma dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu trauma ringan (non significant) dan berat (significant). Korban dikatakan trauma ringan bila mengalami cidera yang kemungkinan kematian dan cacatnya kecil, seperti terkilir, luka bakar ringan, terpeleset, dan lain-lain. Korban dikatakan trauma berat jika kemungkinan kematian atau cacat permanennya besar. Cidera yang dikelompokkan dalam trauma berat antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- terlempar dari kendaraan bermotor yang melaju kencang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- kecelakaan mobil hingga terbalik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- jatuh dari ketinggian lebih dari 2 m&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- kecelakaan dengan patah tulang besar (seperti tulang paha)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- kecelakaan banyak penumpang, seorang penumpang meninggal, maka orang di sebelah orang tersebut dikategorikan trauma berat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- korban yang tidak sadar dan tidak diketahui mekanisme kejadiannya dianggap trauma berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanganan korban trauma sedikit berbeda dengan dengan penanganan korban medis. Pemberian pertolongan pada korban trauma memerlukan pemeriksaan seluruh bagian tubuh. pemberian pertolongan juga harus ekstra hati-hati apabila ada indikasi korban mengalami cidera tulang spinal, yaitu cidera tulang belakang mulai dari tulang leher hingga tulang ekor. Cidera pada tulang spinal merupakan cidera yang paling sensitif. Jika penanganannya salah, korban bisa meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya penanganan korban trauma mengikut langkah-langkah berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- penilaian keadaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian keadaan merupakan tindakan pertama yang harus dilakukan jika menemui korban yang memerlukan bantuan. Hal yang harus dinilai pertama kali adalah masalah lingkungan, apakah lingkungan aman untuk memberikan pertolongan atau tidak. Jika tidak, korban bisa dipindahkan ke tempat yang aman, tentu saja dengan syarat pemindahan tersebut memungkinkan dan tidak membahayakan korban. Jika korban terindikasi mengalami cidera spinal, sebaiknya pemindahan dilakukan oleh orang yang sudah berpengalaman dan dengan peralatan yang sesuai karena cidera spinal membutuhkan penanganan yang sangat hati-hati.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lingkungan dirasa aman, langkah selanjutnya adalah mengumpulkan informasi mengenai kejadian yang dialami korban. Informasi ini dapat diperoleh dari korban atau saksi mata. Langkah terakhir pada penilaian keadaan ini adalah meminta bantuan, terutama bantuan untuk merujuk korban ke instalasi kesehatan terdekat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- penilaian dini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian dini adalah pemeriksaan awal terhadap korban. Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan yang bersifat mendasar, berhubungan dengan kelangsungan hidup korban, sehingga harus segera dilaksanakan. Penilaian dini meliputi:&lt;br /&gt;- pemeriksaan kesadaran korban&lt;br /&gt;Tingkat kesadaran korban dapat dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu awas/kesadaran penuh, respon terhadap suara, respon terhadap nyeri, dan tidak sadar sama sekali. Dalam pemeriksaan ini buatlah tes terhadap penglihatan, misal dengan menggerakkan jari di depan korban. Jika korban memberi tanggapan, berarti korban dalam keadaan sadar. Jika tidak, pemeriksaan dilanjutkan dengan tes suara, misal dengan dipanggil. Jika ada tanggapan, maka korban respon terhadap suara. Jika tidak, korban bisa distimulasi dengan rasa sakit dengan cara mencubit lengan atas bagian dalam, dekat ketiak, atau dengan menekan dada. Jika ada tanggapan, dilihat dari perubahan raut muka atau tanda-tanda sakit yang lain, maka korban respon terhadap nyeri. Jika tidak ada tanggapan, maka korban benar-benar tidak sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pemeriksaan saluran nafas (airway)&lt;br /&gt;Pemeriksaan saluran nafas bertujuan untuk membebaskan dan membuka jalan nafas. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara membuka mulut dan mengamati apakah ada benda yang berpotensi menyumbat saluran pernafasan. Jika ada, benda tersebut harus dikeluarkan. Jika tidak, langkah selanjutnya adalah menekan dahi dan mengangkat dagu korban sehingga kepala korban berada pada posisi tengadah. Posisi ini akan mempertahankan terbukanya saluran pernafasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembukaan saluran pernafasan dengan menekan dahi dan mengangkat dagu tidak bisa dilakukan pada korban yang mengalami patah tulang leher. Untuk korban seperti ini, pembukaan saluran pernafasan dilakukan dengan metode jaw thrus, yaitu dengan mendorong rahang korban ke depan (posisi rahang seperti cakil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pemeriksaan nafas (breathing)&lt;br /&gt;Pemeriksaan nafas bertujuan untuk mengetahui apakah korban bernafas dengan normal atau tidak. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mendekatkan telinga dan pipi penolong ke hidung korban dan mata penolong tertuju pada dada atau perut korban. Lihat pergerakan dada atau perut saat korban bernafas, dengar suara nafas korban, rasakan hembusan udara yang keluar dari hidung, dan hitung jumlah hembusan nafas korban selama 5 detik. Apabila pada pemeriksaan nafas ini diketahui korban tidak bernafas, berikan nafas buatan dengan cara meniup mulut korban dan menutup hidungnya setiap 5 detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pemeriksaan sistem sirkulasi darah (circulation)&lt;br /&gt;Pemeriksaan ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa jantung korban berfungsi dengan baik. Pemeriksaan dilakukan dengan cara menyentuh nadi karotis di leher selama 3 – 5 detik. Jika tidak ada denyut nadi, lakukan resusitasi jantung paru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pemeriksaan fisik&lt;br /&gt;Pemeriksaan fisik bertujuan untuk mengetahui cidera yang dialami korban. pemeriksaan ini berprinsip pada 2 hal, yaitu menyeluruh pada semua bagian tubuh dan dilakukan secara sistematis dan berurutan. Pemeriksaan dilakukan dengan penglihatan (inspeksi), perabaan (palpasi), dan pendengaran (auskultasi). Keberadaan cidera pada korban dapat diketahui melalui adanya perubahan bentuk (berhubungan dengan cidera otot dan tulang), luka, nyeri, atau bengkak.&lt;br /&gt;Pemeriksaan fisik melalui urutan sebagai berikut:&lt;br /&gt;- pemeriksaan kepala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pemeriksaan mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periksa kondisi dan reaksi pupil terhadap rangsang cahaya. Jika pupil mata kanan dan kiri tidak sama besar atau ukurannya lebar sekali, ada indikasi korban mengalami gangguan syaraf/syok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pemeriksaan hidung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periksa apakah ada darah, cairan bening, atau keduanya di hidung korban. jika ada, kemungkinan korban mengalami benturan kepala/gegar otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pemeriksaan telinga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pemeriksaan mulut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pemeriksaan leher&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periksa apakah ada pelebaran vena atau memar di leher. Jika ada, kemungkinan korban mengalami cidera spinal bagian tulang leher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pemeriksaan dada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pemeriksaan perut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pemeriksaan panggul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pemeriksaan tungkai dan kaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan ini melibatkan gerakan, sensasi, dan sirkulasi. Pemeriksaan gerakan dilakukan dengan meminta korban menggerakkan kaki (khusus untuk korban sadar). Jika tidak bisa, kemungkinan ada cidera di otot tungkai dan kaki. Pemeriksaan sensasi dilakukan dengan menekan jari kaki tertentu dan menanyakan jari apa yang sedang ditekan (khusus untuk korban sadar). Jika korban salah menjawab atau tidak merasakan apa-apa, kemungkinan ada kerusakan di syaraf. Pemeriksaan sirkulasi dilakukan dengan cara menyentuh nadi di mata kaki dan di punggung kaki (dilakukan pada korban sadar maupun tidak sadar). Jika tidak ada denyut nadi, kemungkinan korban mengalami pendarahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pemeriksaan lengan dan tangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan di lengan dan tangan sama dengan pemeriksaan di tungkai dan kaki, yaitu pemeriksaan yang melibatkan gerakan, sensasi, dan sirkulasi. Nadi yang diperiksa pada pemeriksaan ini adalah nadi di pergelangan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pemeriksaan punggung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan punggung biasanya dilakukan teakhir, yaitu saat korban dipindahkan ke atas tandu atau papan spinal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pemeriksaan tanda vital&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan tanda vital ini meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pemeriksaan pernafasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Normalnya, manusia dewasa bernafas sebanyak 12 – 20 kali per menit. Jika lebih dari 30 kali per menit, kemungkinan korban mengalami syok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pemeriksaan nadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan nadi bisa dilakukan di nadi pergelangan tangan, untuk korban sadar, atau di nadi leher, bagi korban tidak sadar. Normalnya, denyut nadi manusia adalah 60 – 90 kali per menit. Jika lebih dari 150 kali per menit, kemungkinan korban mengalami syok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pemeriksaan tekanan darah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan tekanan darah dilakukan jika tersedia peralatannya. Normalnya tekanan darah manusia 100 – 140 mmHg untuk sistol dan 60 – 90 mmHg untuk diastol. Jika tekanan darah korban 50/35 mmHg (sistol/diastol), kemungkinan korban akan meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pemeriksaan suhu tubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Normalnya suhu tubuh manusia 36 – 37 oC. Jika tidak ada termometer, pemeriksaan ini bisa dilakukan dengan membandingkan suhu tubuh korban dengan penolong. Caranya adalah dengan merasakan/menyentuh dahi korban dan penolong secara bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pemeriksaan warna kulit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- penatalaksanaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan penatalaksanaan adalah pertolongan yang diberikan pada korban. Pertolongan diberikan berdasarkan prioritas luka yang dialami korban. Prioritas tersebut meliputi (urutan menunjukkan urutan penanganan):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. henti jantung dan nafas, ditolong dengan resusitasi jantung paru&lt;br /&gt;2. pendarahan, ditolong dengan pengendalian pendarahan&lt;br /&gt;3. luka bakar, ditolong dengan perawatan khusus luka bakar&lt;br /&gt;4. patah tulang, dislokasi sendi dan tulang, ditolong dengan immobilisasi dan fiksasi&lt;br /&gt;5. tidak sadar, ditolong dengan pemberian rangsangan hingga sadar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pemeriksaan berkala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan berkala dilakukan setelah penatalaksanaan hingga korban dirujuk ke instalasi kesehatan. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan respon, jalan nafas, pernafasan, nadi, keadaan kulit, suhu, penatalaksanaan, dan menjaga komunikasi (untuk korban sadar). Jika tanda vital normal, pemeriksaan dilakukan setiap 15 menit. Tapi jika tanda vital tidak normal, pemeriksaan dilakukan setiap 5 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pelaporan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Pertolongan yang telah diberikan harus dilaporkan ke instalasi kesehatan  yang menerima korban. Format pelaporan bisa mengikuti format berikut  ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S7wo-gRL_4I/AAAAAAAAAG4/fQbHoVSjbBU/s1600/format+laporan+PPGD.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://4.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S7wo-gRL_4I/AAAAAAAAAG4/fQbHoVSjbBU/s400/format+laporan+PPGD.JPG" width="281" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-4578824779955924618?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/4578824779955924618/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/04/pertolongan-pertama-pada-korban-trauma.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/4578824779955924618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/4578824779955924618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/04/pertolongan-pertama-pada-korban-trauma.html' title='Pertolongan Pertama pada Korban Trauma'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S7wo-gRL_4I/AAAAAAAAAG4/fQbHoVSjbBU/s72-c/format+laporan+PPGD.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-1872404626425271269</id><published>2010-04-06T22:19:00.000-07:00</published><updated>2010-04-06T22:19:07.926-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MATEMATIKA'/><title type='text'>Logika predikat tingkat pertama</title><content type='html'>Logika predikat tingkat pertama adalah sistem deduksi formal yang digunakan dalam matematika, filosofi, linguistika, dan ilmu komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kalkulus proposisional membahas proposisi sederhana, LTP menambahkan predikat dan kuantor. Misalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Sokrates adalah seorang manusia&lt;br /&gt;    * Plato adalah seorang manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua kalimat di atas dalam kalkulus proposisional adalah dua proposisi yang tidak berhubungan, misalnya dilambangkan dengan p dan q. Dalam LTP, keduanya dihubungkan dengan satu sifat, yaitu Manusia(x), artinya x adalah seorang manusia. Bila x = Socrates kita mendapatkan proposisi pertama, p; dan jika x = Plato kita mendapatkan proposisi kedua, q.&lt;br /&gt;Contoh berikut menjabarkan perbedaan kalkulus proposisional dan LTP:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Semua manusia perlu makan&lt;br /&gt;    * Sokrates adalah manusia&lt;br /&gt;    * Sokrates perlu makan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kalkulus proposisional, ketiga kalimat di atas diterjemahkan sebagai:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * A&lt;br /&gt;    * B&lt;br /&gt;    * \therefore C&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(\therefore artinya "maka")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga kalimat di atas tidak dapat dihubungkan dalam kalkulus proposisional. Dalam LTP, kita dapat menerjemahkan ketiga kalimat itu sebagai:&lt;br /&gt;    * Manusia (x) - Perlu makan (x))&lt;br /&gt;    * Manusia (sokrates)&lt;br /&gt;    * \therefore Perlu Makan (sokrates)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-1872404626425271269?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/1872404626425271269/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/04/logika-predikat-tingkat-pertama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/1872404626425271269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/1872404626425271269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/04/logika-predikat-tingkat-pertama.html' title='Logika predikat tingkat pertama'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-6890189636247233093</id><published>2010-04-06T21:07:00.000-07:00</published><updated>2010-04-06T21:07:52.193-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ANAK GUNUNG'/><title type='text'>NAVIGASI</title><content type='html'>Navigasi adalah penetuan posisi dan arah perjalanan, baik di medan perjalanan atau di peta. Navigasi terdiri atas navigasi darat, sungai, pantai dan laut, namun yang umum digunakan adalah navigasi darat.&lt;br /&gt;Navigasi darat adalah ilmu yang mempelajari cara seseorang menentukan suatu tempat dan memberikan bayangan medan, baik keadaan permukaan serta bentang alam dari bumi dengan bantuan minimal peta dan kompas. Pekerjaan navigasi darat di lapangan secara mendasar adalah titik awal perjalanan (intersection dan resection), tanda medan, arah kompas, menaksir jarak, orientasi medan dan resection, perubahan kondisi medan  dan mengetahui ketinggian suatu tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Alat-alat navigasi terdiri dari:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- kompas adalah alat untuk menentukan arah mata angin berdasarkan sifat magnetik kutub bumi. Arah mata angin utama yang bisa ditentukan adalah N (north = utara), S (south = selatan), E (east = timur) dan W (west = barat), serta arah mata angin lainnya yaitu NE (north east =  timur laut), SE (south east = Tenggara), SW (south west = barat daya) dan NW (north west = barat laut). Jenis kompas yang umum digunakan adalah kompas sylva, kompas orientasi, dan kompas bidik/prisma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- altimeter adalah alat untuk menentukan ketinggian suatu tempat berdasarkan perbedaan tekanan udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- peta adalah gambaran sebagian/seluruh permukaan bumi dalam bentuk dua dimensi dengan perbandiangan skala tertentu. Jenis-jenis peta terdiri dari peta teknis, peta topografi dan peta ikhtisat/geografi/wilayah. Bagian-bagian peta antara lain judul, nomor, koordinat, skala, kontur, tahun pembuatan, legenda, dan deklinasi magnetis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- GPS (Global Positioning System) adalah sistem radio-navigasi global yang terdiri dari beberapa satelit dan stasiun bumi. Fungsinya adalah menentukan lokasi, navigasi (menentukan satu lokasi menuju lokasi lain), tracking (memonitor pergerakan seseorang/benda), membuat peta di seluruh permukaan bumi, dan menetukan waktu yang tepat di tempat manapun.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menentukan arah tanpa alat navigasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mengguanakan alat-alat navigasi, kita juga dapat menggunakan arah mata angin dengan tanda-tanda alam dan buatan, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- tanda-tanda alam yaitu matahari, bulan dan rasi bintang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- tanda-tanda buatan yaitu masjid, kuburan dan kompas sendiri dari jarum/silet yang bermagnet dan diletakkan di atas permukaan air&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- flora-fauna:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* tajuk pohon yang lebih lebat biasanya berada di sebelah barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* lumut-lumutan Parmelia sp. dan Politrichum sp. biasanya hidup lebih baik (lebat) pada bagian barat pohon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* tumbuhan pandan hutan biasanya cenderung condong ke arah timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* sarang semut/serangga biasanya terletak di sebelah barat pepohonan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mecegah dan menanggulangi keadaan tersesat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersesat adalah hilangnya orientasi, tidak dapat mengetahui posisi yang sebenarnya dan arah yang akan dituju. Hal tersebut biasanya karena berjalan pada malam hari, tidak cukup sering menggunakan peta dan kompas dalam perjalanannya, tidak tahu titik awal pemberangkatan di peta dan melakukan potong kompas. Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mencegah tersesat antara lain:&lt;br /&gt;- selalu melapor kepada petugas terkait atau orang yang dipercaya mengenai tujuan perjalanan, lamanya dan jumlah anggota yang ikut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- selalu mengingat keadaan sekitar perjalanan berdasarkan kelima indera yang dimiliki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- tetaplah berada pada jalur yang telah ada dengan memberi petunjuk pada tiap persimpangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- perhatikan obyek yang mencolok seperti mata air, bukit, sungai atau gunung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pada saat berjalan sekali-kali tengoklah ke arah belakang, ingatlah jalur tersebut jika dilihat dari arah berlawanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pelajari dengan benar alat-alat navigasi yang dibawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- gunakanlah kompas sebelum tersesat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- belajarlah membaca tanda-tanda alam untuk menentukan arah mata angina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- jangan pernah percaya secara penuh kepada orang lain termasuk kepada pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pedoman yang bisa digunakan apabila tersesat adalah S T O P, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S  = Seating, berhenti dan beristirahat dengan santai, hilangkan kepanikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;T  = Thinking,berpikir secara jernih (logis) dalam situasi yang sedang dihadapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O  = Observaton, melakukan pengamatan/observasi medan di lokasi sekitar, kemudian tentukan arah dan tanda-tanda alam yang dapat dimanfaatkan atau yang harus dihindari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P  = Planning, buat rencana dan pikirkan konsekuensinya bila anda sudah memutuskan sesuatu yang akan anda lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hal-hal yang dapat dilakukan untuk menanggulangi keadaan tersesat adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- membuat tempat berlindung (shelter) dari bahaya atau cuaca buruk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- tetap tenang, tidak panik,  berpikir jernih dan mencoba ingat jalur perjalanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- orientasi dapat dipermudah dengan menuju tempat yang tinggi/memanjat pohon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- gunakan kompas dan peta (alat navigasi) atau indikator alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- buat petunjuk untuk mempermudah orang lain mencari keberadaan kita, misalnya dengan tulisan, peluit, asap, sinar atau berteriak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- tetap bersama-sama dengan kelompok dalam kondisi apapun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- memanfaatkan situasi dengan menunggu bala bantuan, mencari makanan, mencari air dan lainnya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-6890189636247233093?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/6890189636247233093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/04/navigasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/6890189636247233093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/6890189636247233093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/04/navigasi.html' title='NAVIGASI'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-2304131067789177752</id><published>2010-04-06T20:23:00.000-07:00</published><updated>2010-04-06T20:23:19.334-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MATEMATIKA'/><title type='text'>STRUKTUR ALJABAR (SEMIGROUP, MONOID, GROUP)</title><content type='html'>Sistem aljabar satu operasi  (S,*) dibentuk oleh sebuah himpunan dan sebuah operasi yang didefinisikan terhadapnya. Berdasarkan sifat-sifat yang dimiliki, sistem aljabar satu operasi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis seperti yang akan diuraikan berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. SEMIGROUP&lt;br /&gt;   Sistem aljabar  (S,*) merupakan semigroup, jika :&lt;br /&gt;   1. Himpunan S tertutup di bawah operasi *.&lt;br /&gt;   2. Operasi * bersifat asosiatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Contoh 1.5 :&lt;br /&gt;(Z,+) merupakan sebuah semigroup &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika operasi biner pada semigroup (S,*) tersebut bersifat komutatif, maka semigroup (S,*) disebut juga semigroup abel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 1.6 :&lt;br /&gt;(Z,+) merupakan sebuah semigroup abelian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. MONOID&lt;br /&gt;   Sistem aljabar  (S, *) merupakan monoid, jika &lt;br /&gt;   1. Himpunan S tertutup di bawah operasi *.&lt;br /&gt;   2. Operasi * bersifat asosiatif.&lt;br /&gt;   3. Pada S terdapat elemen identitas untuk operasi *.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 1.7.&lt;br /&gt;(Z,+) merupakan sebuah monoid dengan elemen identitas penjumlahan .  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika operasi biner pada monoid (S,*) tersebut bersifat komutatif, maka monoid (S,*) disebut juga monoid abelian.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 1.8.&lt;br /&gt;Sistem aljabar (Z,+) merupakan sebuah monoid abelian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. GROUP&lt;br /&gt;   Sistem aljabar  (S, *) merupakan monoid, jika &lt;br /&gt;    1. Himpunan S tertutup di bawah operasi *&lt;br /&gt;    2. Operasi * bersifat asosiatif.&lt;br /&gt;    3. Pada S terdapat elemen identitas untuk operasi *.&lt;br /&gt;    4. Setiap anggota S memiliki  invers untuk operasi * dan invers tersebut merupakan anggota S  juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 1.9.&lt;br /&gt;(Z,+) merupakan sebuah group.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika operasi biner pada group (S,*) tersebut bersifat komutatif, maka group (S,*) disebut juga group abelian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 1.10.&lt;br /&gt;Sistem aljabar (Z,+) merupakan sebuah group abelian.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-2304131067789177752?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/2304131067789177752/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/04/struktur-aljabar-semigroup-monoid-group.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/2304131067789177752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/2304131067789177752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/04/struktur-aljabar-semigroup-monoid-group.html' title='STRUKTUR ALJABAR (SEMIGROUP, MONOID, GROUP)'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-6008410612168116961</id><published>2010-04-06T19:43:00.000-07:00</published><updated>2010-04-06T19:46:58.589-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MATEMATIKA'/><title type='text'>STRUKTUR ALJABAR (OPERASI BINER)</title><content type='html'>Sebuah sistem dimana terdapat sebuah himpunan dan satu atau lebih dari satu operasi n-ary, yang didefinisikan pada himpunan tersebut, dinamakan sistem aljabar. Selanjutnya, sebuah sistem aljabar akan dinyatakan dengan (S,f1 ,f2 ,f3 ,...,fn) dimana S sebuah himpunan tidak kosong dan f1 , f2 , ...., fn  operasi-operasi yang didefinisikan pada S. Sebagai contoh, (Z,+) adalah sebuah sistem aljabar yang dibentuk oleh himpunan bilangan bulat Z dan operasi penjumlahan biasa ; (Z,+,x) adalah sebuah sistem aljabar yang dibentuk oleh himpunan bilangan bulat dan dua buah operasi biner. &lt;br /&gt;Sistem aljabar yang termasuk dalam pokok bahasan Matematika Diskrit yang akan diberikan adalah sistem aljabar satu operasi biner dan sistem aljabar dua operasi biner. Sebelum melihat jenis-jenis sistem aljabar dan konsep-konsep yang berkaitan dengannya, kita akan tinjau lebih dahulu operasi biner dan sifat-sifat operasi biner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. OPERASI BINER &lt;br /&gt;Operasi biner pada himpunan tidak kosong S adalah pemetaan dari S x S kepada S. Notasi yang digunakan untuk menyatakan operasi biner adalah +, x, , • ,  ,  , dan sebagainya. Hasil dari sebuah operasi, misalnya  , pada elemen a dan b akan ditulis sebagai a  b.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Contoh 1.1.  &lt;br /&gt;Operasi berikut adalah beberapa contoh operasi biner :&lt;br /&gt;-. Operasi pembagian pada bilangan riil.&lt;br /&gt;-. Warna rambut anak yang ditentukan oleh warna rambut orang tuanya.&lt;br /&gt;-. Operasi biner  yang didefinisikan sebagai   a  b = a + b – 2ab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2. SIFAT OPERASI BINER&lt;br /&gt;Sifat-sifat yang dimiliki oleh sebuah sistem aljabar nantinya ditentukan oleh sifat-sifat yang dimiliki oleh setiap operasi di dalam sistem aljabar tersebut. Berikut akan diuraikan sifat-sifat yang dapat dimiliki oleh sebuah operasi biner.&lt;br /&gt;Misalkan    dan    adalah operasi biner.  Operasi  dikatakan :&lt;br /&gt;-. KOMUTATIF ,  jika  a  b = b  a, untuk setiap   a, b.&lt;br /&gt;-. ASOSIATIF,  jika  (a  b)  c  = a  (b  c), untuk setiap   a, b, c.&lt;br /&gt;-. Mempunyai :&lt;br /&gt;IDENTITAS, jika terdapat  e  sedemikian hingga a  e = e  a = a, untuk setiap a.&lt;br /&gt;IDENTITAS KIRI, jika terdapat e1 sedemikian hingga e1  a = a, untuk setiap a.&lt;br /&gt;IDENTITAS KANAN, jika terdapat e2 sedemikian hingga a  e2 = a, untuk setiap &lt;br /&gt;-. Mempunyai sifat INVERS, jika untuk setiap  a  terdapat  a-1 sedemikian  hingga a  a-1 = a-1  a = e, dimana  e adalah elemen identitas untuk operasi a-1 disebut invers dari elemen  a.&lt;br /&gt;-. DISTRIBUTIF terhadap operasi   , jika untuk setiap a, b, c  berlaku  a  (b  c ) = ( a  b)  (a  c)  dan  (b  c )  a = ( b  a)  (c  a).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 1.2. &lt;br /&gt;Operasi biner penjumlahan biasa adalah sebuah operasi yang bersifat komutatif, karena untuk sembarang bilangan  x  dan  y berlaku  x+y = y+x. Operasi penjumlahan bersifat asosiatif, karena untuk sembarang x, y, z berlaku (x+y)+z = x+(y+z). Identitas untuk operasi penjumlahan adalah 0 (nol). Invers penjumlahan untuk sembarang bilangan p adalah –p, karena  p+(-p)=0.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 1.3.&lt;br /&gt;-. Operasi perkalian bersifat distributif terhadap operasi penjumlahan, karena untuk setiap bilangan  a, b dan c  berlaku    a x (b+c) = (a x b) + (a x c) dan    (b + c) x a = (b x a) + (c x a). &lt;br /&gt;-. Operasi penjumlahan tidak bersifat distributif terhadap operasi perkalian, karena terdapat   p, q  dan  r  dimana  p + (q x r)    (p + q) x (p + r). Sebagai contoh    2 + (3 x 4)   (2 + 3) x (2 + 4). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Himpunan  S  dikatakan tertutup terhadap terhadap operasi biner  ,  jika untuk setiap  a, b  S  berlaku  a  b  S&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 1.4.&lt;br /&gt;-. Himpunan bilangan bulat  Z  tertutup terhadap operasi penjumlahan biasa, karena untuk setiap  x, y  Z berlaku  x + y  Z.&lt;br /&gt;-. Himpunan bilangan bulat  Z  tidak tertutup terhadap operasi pembagian biasa, karena terdapat   2, 3  Z  dimana  2 : 3  Z.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-6008410612168116961?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/6008410612168116961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/04/struktur-aljabar-operasi-biner.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/6008410612168116961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/6008410612168116961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/04/struktur-aljabar-operasi-biner.html' title='STRUKTUR ALJABAR (OPERASI BINER)'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-5168343063998337311</id><published>2010-03-31T21:46:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T21:58:23.694-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><title type='text'>PENGGUNAAN SISTEM PENGKODEAN DATA (TUGAS KE 2 SISKOMDAT)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Karakter – karakter data yang akan dikirim dari satu titik ke titik lain, tidak dapat dikirimkan secara langsung. Sebelum dikirim karakter – karakter data tersebut harus dikodekan terlebih dahulu dengan kode – kode yang dikenal oleh terminal. Tujuan dari sebuah pengkodean adalah menjadikan tiap karakter dalam sebuah informasi digital yaitu ke dalam bentuk biner untuk dapat ditransmisikan.&lt;br /&gt;Sejak ditemukannya  radio maka penggunaannya semakin lama semakin banyak dan berbagai macam. Hal ini menimbulkan permasalahan yaitu padatnya jalur komunikasi yang menggunakan radio. Bisa dibayangkan jika pada suatu kota terdapat puluhan stasiun pemancar radio FM dengan bandwidth radio FM yang disediakan antara 88 MHz – 108 MHz. Tentunya ketika knob tunning diputar sedikit maka sudah ditemukan stasiun radio FM yang lain. Ini belum untuk yang lain seperti untuk para penggemar radio kontrol yang juga menggunakan jalur radio. Bahkan untuk pengontrollan pintu garasi juga menggunakan jalur radio. Jika kondisi ini tidak ada peraturannya maka akan terjadi tumpang tindih pada jalur radio tersebut.&lt;br /&gt;Alternatifnya yaitu dengan menggunakan cahaya sebagai media komunikasinya. Cahaya dimodulasi oleh sebuah sinyal carrier seperti halnya sinyal radio dapat membawa pesan data maupun perintah yang banyaknya hampir tidak terbatas dan sampai saat ini belum ada aturan yang membatasi penggunaan cahaya ini sebagai media komunikasi. Sistem sandi yang umum dipakai :&lt;br /&gt;1. ASCII (American Standard Code for Information Interchange)&lt;br /&gt;2. Sandi Baudot Code (CCITT Alfabet No. 2 / Telex Code)&lt;br /&gt;3. Sandi 4 atau 8&lt;br /&gt;4. BCD (Binary Coded Decimal)&lt;br /&gt;5. EBCDIC (Extended Binary Coded Decimal Interchange Code)&lt;br /&gt;Metoda Pengkodean Ada Dua Sistem :&lt;br /&gt;1. Binary coding (Pengkodean Biner)&lt;br /&gt;Dua ukuran bar dan space digunakan untuk meng-encode-kan data. Bar dan spasi dapat diubah ke dalam kode biner dengan mudah, yang kemudian diubah (menggunakan sebuah tabel) ke dalam karakter ASCII.&lt;br /&gt;2. Proportional coding&lt;br /&gt;Ada beberapa ukuran yang berbeda pada bar dan space. Ukuran pada bar / space dan urutan dari bar dan space mendefinisikan karakter yang dipresentasikan. Kode tersebut lebih sulit dibaca (kemungkinan tidak mudah mentranslasikannya ke biner) dan diperlukan ketelitian yang lebih dalam mencetak dan men-scanning barcode.&lt;br /&gt;Pada umumnya ada 4 ukuran yang berbeda pada bar dan spasi yang digunakan untuk meng-encode-kan data. Contoh jenis barcode yang menggunakan teknik encoding ini adalah USS Code 128.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;Bagaimana penggunaan sistem pengkodean data?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tujuan Penulisan Makalah&lt;br /&gt;Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan sistem pengkodean data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Spektrum Cahaya dan Respon Mata Manusia&lt;br /&gt;Pada dasarnya penggunaan modulasi cahaya penggunaannya tidak ada batasnya namun modulasinya harus menggunakan sinyal carrier yang frekuensinya harus sangat tinggi yaitu dalam orde ribuan megahertz. Biasanya modulasi dengan frekuensi carrier yang tinggi ini digunakan untuk madulasi sinar laser atau pada transmisi data yang menggunakan media fiberoptic sebagai media perantaranya. Untuk transmisi data yang menggunakan media udara sebagai media perantara biasanya menggunakan frekuensi carrier yang jau lebih rendah yaitu sekitar 30KHz sampai dengan 40KHz. Infra merah yang dipancarkan melalui udara ini paling efektif jika menggunakan sinyal carrier yang mempunyai frekuensi di atas.&lt;br /&gt;Pada transmisi infra merah terdapat dua terminologi yang sangat penting yaitu : ‘space’ yang menyatakan tidak ada sinyal carrier dan ‘pulse’ yang menyatakan ada sinyal carrier.&lt;br /&gt;B. Pulse-Space Terminologi&lt;br /&gt;Pengkodean pada remote infra merah pada dasarnya ada tiga macam dan semuanya berdasarkan pada panjang jarak antar pulsa atau pergeseran urutan pulsa.&lt;br /&gt;Pulse-Width Coded Signal. Pada pengkodean ini panjang pulsa merupakan kode informasinya. Jika panjang pulsa ‘pendek’ (kira-kira 550us) maka dikatakan sebagai logika ‘L’ tetapi jika panjang pulsa ‘panjang’ (kira-kira 2200us) maka menyatakan logika ‘H’.&lt;br /&gt;C. Pulse Width Coded Signals&lt;br /&gt;Space-Coded Signals. Pada pengkodean ini didasarkan pada panjang/pendek space. Jika panjang pulsa sekitar 550us atau kurang maka dinyatakan sebagai logika ‘L’ sedangkan jika panjang space lebih dari 1650us maka dinyatakan sebagai logika ‘H’.&lt;br /&gt;D. Space Width Coded Signal&lt;br /&gt;Shift Coded Signal. Pengkodean ini ditentukan pada urutan pulsa dan space. Pada saat ‘space’ pendek, kurang dari 550us dan ‘pulse’ panjang, lebih dari 1100us maka dinyatakan sebagai logika ‘H’. Tetapi sebaliknya jika ‘space’ panjang dan ‘pulse’ pendek maka dinyatakan sebagai logika ‘L’.&lt;br /&gt;E. Shift Coded Signal&lt;br /&gt;Pengkodean ini merupakan hal yang sangat penting karena tanpa mengetahui sistem pengkodean pada sisi transmitter infra merah maka disisi receiver tidak bisa mendekodekan data/perintah apa yang dikirmkan. Selain itu didalam pengkodean ini perlu disisipkan suatu data yang dinamakan sebagai ‘device address’ sebelum data atau perintah. Device addres ini menyatakan nomor alamat peralatan jika terdapat lebih dari satu alat yang dapat dikendalikan oleh sebuah remote kontrol pada suatu area tertentu.&lt;br /&gt;F. Konverter Sinyal Suara Menjadi Frekuensi&lt;br /&gt;Untuk transmisi sinyal suara biasanya digunakan rangkaian voltage to frequency converter yang berfungsi untuk merubah tegangan sinyal suara menjadi frekuensi. Dan jika sinyal ini dimodulasikan sengan sinyal carrier maka akan menghasilkan suatu modulasi FM. Modulasi jenis ini lebih disukai karena paling kebal terhadap perubahan amplitudo sinyal apabila sinyal mengalami gangguan di udara.&lt;br /&gt;Untuk transmisi data biasanya sinyal ditransmisikan dalam bentuk pulsa-pulsa seperti telah dijelaskan di atas. Ketika sebuah tombol ditekan pada remote kontrol unti maka IR akan mentransmitkan sebuah sinyal yang akan dideteksi sebagai urutan data biner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk aplikasi jarak jauh maka perlu adanya pengumpulan sinar termodulasi yang lemah. Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan photodioda yang sudah mempunyai semacam lensa cembung yang akan mengumpulkan sinar termodulasi tersebut. Biasanya menggunakan lensa tambahan yang dinamakan dengan lensa FRESNEL yang terbuat dari bahan plastik dan kemudian diumpankan ke photodioda dengan jarak tertentu pada fokus lensa FRESNEL ini.&lt;br /&gt;Untuk aplikasi remote ontrol biasanya cukup menggunakan lensa yang dimiliki oleh photodioda/phototransistor dengan penguatan tertentu. Untuk penggunaan yang harus dapat menerima pancaran sinyal infra merah yang sudut datangnya besar maka harus menggunakan dua atau lebih photodioda. Photodioda yang baik adalah photodioda yang mampu mengumpulkan sinar termodulasi tepat pada wafer silikonnya dan hal inilah yang mempengaruhi kualitas photodioda/phototransistor yang dibeli di pasaran.&lt;br /&gt;Pada saat photodioda mendeteksi adanya sinar infra merah maka akan terdapat arus bocor sebesar 0.5 uA dan ini juga tergantung pada kekuatan sinar infra merah yang datang dan sudut datangnya.&lt;br /&gt;Kekuatan sinar dan sudut datang merupakan faktor penting dalam keberhasilan transmisi data melalui infra merah selain filter dan penguatan pada bagian receivernya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-5168343063998337311?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/5168343063998337311/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/03/penggunaan-sistem-pengkodean-data.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/5168343063998337311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/5168343063998337311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/03/penggunaan-sistem-pengkodean-data.html' title='PENGGUNAAN SISTEM PENGKODEAN DATA (TUGAS KE 2 SISKOMDAT)'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-2098793546393381131</id><published>2010-03-31T21:42:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T21:59:04.797-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><title type='text'>MENGENAL TEKNOLOGI INFORMASI (TUGAS KE 1 SISKOMDAT)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar belakang&lt;br /&gt;Untuk memahami informasi, tidak dapat dipisahkan dengan apa yang namanya data. Untuk itu, sebelum memahami konsep informasi dalam hal ini akan dibahas sepintas tentang dataPada dasarnya data adalah fakta, kejadian, berita, fenomena dan sejenisnya yang dapat diolah atau diproses berdasarkan prosedur tertentu yang pada akhirnya menjadi keluaran dalam bentuk informasi. Data dapat berupa angka, ukuran, kata, kalimat, tulisan-tulisan, uraian cerita, gambar, simbol, tanda, yang belum memliliki ciri-ciri informatif dan belum diinformasikan keberadannya, sehingga diperlukan pengolahan. Dengan demikian untuk dapat memahaminya maka diperlukan prosedur pengolahan misalnya perhitungan, pengukuran terhadap data-data yang dimilikinya.&lt;br /&gt;Berdasarkan pemahaman terhadap definisi data di atas maka pada kenyataannya data bentuknya sangat variatif. Salah satu variasi bentuk data dewasa ini cenderung sudah bersifat abstrak yaitu bisa dilihat misalnya tetapi tidak bisa diraba. Lebih jauh berdasarkan pengaruh teknologi elektronik sekarang ini banyak dijumpai data dalam bentuk virtual atau maya yang merupakan hasil rekayasa sistem dan program aplikasi komputer. Jadi dapat pula dikemukakan bahwa data merupakan bahan mentah yang posisinya dalam sistem pengolahan data sering dikatakan sebagai input. Adapun keluarannya disebut informasi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian informasi ini dapat dikatakan sebagai sejumlah data yang sudah diolah atau diproses melalui prosedur pengolahan data dalam rangka menguji tingkat kebenarannya, keterpaaiannya sesuai dengan kebutuhan. Sistem pengolah data ini sangat dibutuhkan sehingga semua data dapat dengan cepat dan mudah menjadi sekumpulan informasi yang siap pakai.&lt;br /&gt;Sebagai perbandingan pemahaman terhadap informasi ini berikut ada beberapa definisi informasi, diantaranya :&lt;br /&gt;a. Informasi merupakan hasil dari pengolahan data, akan tetapi tidak semua hasil dari pengolahan tersebut dapat menjadi informasi.&lt;br /&gt;b. Informasi merupakan data yang telah mengalami pengolahan&lt;br /&gt;c. Informasi memberikan makna&lt;br /&gt;d. Informasi berguna atau bermanfaat&lt;br /&gt;e. Informasi merupakan bahan pembuat keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;Bagaimana mengenal tekhnologi informasi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tujuan Penulisan Makalah&lt;br /&gt;Supaya makalah ini dapat tersusun dengan baik, maka makalah ini mempunyai beberapa tujuan :&lt;br /&gt;1. Penulis ingin memberikan sedikit pengetahuan tentang ciri dan komponen informasi.&lt;br /&gt;2. Penulis ingin memberikan sedikit pengetahuan tentang manfaat TIK dalam pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Ciri Informasi&lt;br /&gt;Sejumlah informasi yang biasa kita dengarkan atau kita peroleh kadang memiliki karakteristik yang berbeda, tentunya hal itu disesuaikan dengan sumber informasi, bentuk dan jenis informasi serta untuk apa informasi itu kita cari. Dalam membantu anda untuk mengenali bagaimana informasi itu bisa kita kenali, maka berikut penjelasan mengenai ciri-ciri informasi. Deni Darmawan (2001) menjelaskan 5 ciri dari informasi yang bisa memberikan makna bagi pengguna, diantaranya:&lt;br /&gt;1. Amount of Information (Kuantitas Informasi), dalam arti bahwa informasi yang diolah oleh suatu prosedur pengolahan informasi mampu memenuhi kebutuhan banyaknya informasi.&lt;br /&gt;2. Quality of Information (Kualitas Informasi), dalam arti bahwa informasi yang diolah oleh sistem pengolahan tertentu mampu memenuhi kebutuhan kualitas informasi.&lt;br /&gt;3. Recency of Information (Informasi Aktual), dalam arti bahwa informasi yang diolah oleh sistem pengolahan tertentu mampu memenuhi kebutuhan informasi baru.&lt;br /&gt;4. Relevance of Information (Informasi yang relevan atau sesuai), dalam arti bahwa informasi yang oleh sistem pengolahan tertentu mampu memenuhi kebutuhan informasi.&lt;br /&gt;5. Accuracy of Information ( Ketepatan Informasi), dalam arti bahwa informasi yang oleh sistem pengolahan tertentu mampu memenuhi kebutuhan informasi&lt;br /&gt;6. Autehnticity of Information ( Kebenaran Informasi), dalam arti bahwa informasi yang dikelola oleh sistem pengolahan tertentu mampu memenuhi kebutuhan informasi yang benar.&lt;br /&gt;Ciri-ciri dari  informasi  ini  idealnya dimiliki oleh informasi yang dibutuhkan ketika kita akan merumuskan atau membuat kebijakan tertentu, sehingga tindakan atau aktivitas yang diambil sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pemakaian informasi yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Komponen-komponen Informasi&lt;br /&gt;Sebuah informasi bisa bermanfaat, bisa memberikan pemahaman bagi orang yang menggunakannya, jika informasi tersebut memenuhi atau mengandung salah satu komponen dasarnya. Jika dianalisis berdasarkan pendekatan information system, pada dasarnya ada sekitar 8 komponen. Adapun keenam komponen atau jenis informasi tersebut adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;a. Root of Information, yaitu komponen akar bagian dari informasi yang berada pada tahap awal keluaran sebuah proses pengolahan data. Misalnya yang termasuk ke dalam  komponen awal  ini adalah  informasi yang disampaikan oleh pihak pertama.&lt;br /&gt;b. Bar of Informatione, merupakan  komponen batangnya dalam suatu informasi, yaitu jenis informasi yang disajikan dan  memerlukan informasi lain sebagai pendukung sehingga informasi awal tadi bisa dipahami. Contohnya jika anda membaca Headline dalam sebuah surat kabar,  maka untuk memahami lebih jauh tentunya harus membaca informasi selanjutnya, sehingga maksud dari informasi yang ada pada head line tadi bisa dipahami secara utuh.&lt;br /&gt;c. Branch of Informationl, yaitu  komponen informasi yang bisa dipahami jika informasi sebelumnya telah dipahami. Sebagai contoh adalah informasi yang merupakan penjelasan keyword yang telah ditulis sebelumnya, atau dalam ilmu eksakta seperti Matematika bentuknya adalah hasil dari sebuah uraian langkah penyelesaian soal dengan rumus-rumus yang panjang, biasanya disebut dengan hasil perhitungan. Adapun dalam bidang sosial, misalnya dapat berupa petunjuk lanjutan dalam mengerjakan atau melakukan sesuatu.&lt;br /&gt;d. Stick of Information, yaitu komponen informasi yang lebih sederhana dari cabang informasi, biasanya informasi ini merupakan informasi pengayaan pengetahuan. Kedudukannya bersifat pelengkap (suplement) terhadap informasi lain. Misalnya informasi yang muncul ketika seseorang telah mampu mengambil kebijakan/keputusan untuk menyelesaikan suatu proses kegiatan, maka untuk menyempurnakannya ia memperoleh informasi-informasi pengembangan dari keterampilan yang sudah ia miliki tersebut.&lt;br /&gt;e. Bud of Information, yaitu komponen informasi yang sifatnya semi micro, tetapi keberadaannya sangat penting sehingga dimasa yang akan datang, dalam jangka waktu yang akan datang informasi ini akan berkembang dan dicari serta ditunggu oleh pengguna informasi sesuai kebutuhannya. Misalnya yang termasuk ke dalam komponen ini adalah informasi tentang masa depan, misalnya bakat dan minat, cikal bakal prestasi seseorang, harapan-harapan yang positif dari seseorang dan lingkungan.&lt;br /&gt;f. Leaf of Information, yaitu komponen informasi yang merupakan informasi pelindung, dan lebih mampu menjelaskan kondisi dan situasi ketika sebuah informasi itu muncul. Biasanya informasi ini berhubungan dengan informasi mengenai kebutuhan pokok, informasi yang menjelaskan cuaca, musim, yang mana kehadirannya sudah pasti muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ideal keenam komponen ini sebaiknya dipahami oleh seseorang yang akan  melaksanakan interaksi atau komunikasi. Keenam  komponen informasi ini juga merupakan satu  kesatuan dan jika hanya beberapa komponen yang dipahami maka seseorang tidak akan merasa paham, tentang, dan siap dalam menerapkan atau memanfaatkan informasi yang diterimanya. Maka keenam komponen  informasi tersebut, satu dengan yang lainnya saling berhubungan dan memiliki unsur ketergantungan. Informasi yang mampu mendukung proses pengambilan keputusan adalah yang  memenuhi paling sedikit enam komponen. Keenam komponen ini sekaligus menjadi syarat sehingga sebuah informasi menjadi berkualitas, yaitu berdasarkan data yang valid dan reliabel, utuh, sumber pertamanya dapat dipercaya, mutakhir, akurat, dan disimpan sedemikian rupa sehingga mendasari pemahaman seseorang sepanjang waktu seiring perkembangan zaman sebagai alat pendukung proses pengambilan keputusan apabila diperlukan.&lt;br /&gt;Sehubungan dengan pemahaman kita tentang informasi, sudah tentu kita sering mendengar ungkapan bahwa saat ini kita sudah  memasuki "era informasi". Artinya semakin disadari oleh banyak pihak bahwa informasi merupakan  sumber daya yang makin penting perannya dalam kehidupan dan penghidupan manusia. Bahkan dapat dikatakan bahwa informasi telah menyentuh seluruh kehidupan manusia, meskipun teknologi yang menghasilkannya mungkin tidak dipahami, apalagi dikuasainya. Informasi diperlukan bukan hanya oleh individu dan berbagai kelompok dalam  masyarakat, akan tetapi juga oleh semua jenis organisasi, termasuk organisasi bisnis, organisasi sosial, organisasi politik, birokrasi pemerintahan dan organisasi nirlaba, termasuk organisasi pendidikan dan keagamaan.&lt;br /&gt;Faktor kelengkapan sangat penting karena informasi yang tidak lengkap dapat berakibat pada kesimpulan yang tidak benar yang pada gilirannya bermuara pada keputusan yang tidak tepat. Faktor kemutakhiran tidak kalah pentingnya, karena seperti dimaklumi, suatu keputusan adalah upaya sadar dan sistematis untuk mengatasi suatu situasi yang kurang menguntungkan atau memecahkan masalah. Orientasi waktu suatu keputusan adalah masa sekarang dan masa depan. Informasi yang sudah kadaluarsa tidak akan  mendukung proses pengambilan keputusan.&lt;br /&gt;Akurasi informasi merupakan hal mutlak karena informasi yang tidak akurat justru akan mempersulit proses pengambilan keputusan terutama dalam menganalisis berbagai alternatif untuk kemudian memilih salah satu di antaranya yang diyakini merupakan alternatif terbaik. Berkaitan dengan akurasinya, informasi harus dapat dipercaya. Artinya, data tidak dimanipulasi dalam pengolahannya yang apabila terjadi akan mengaburkan situasi yang sebenarnya. Seluruh informasi yang telah terkumpul dan terolah harus disimpan sedemikian rupa sehingga siapa pun yang memerlukannya dan memang berhak untuk itu dapat memperolehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Hakikat Teknologi Informasi dan Komunikasi&lt;br /&gt;Sebelumnya telah dibahas tentang konsep teknologi informasi dan komunikasi merupakan dasar untuk memahami apa itu teknologi komunikasi. Teknologi komunikasi dianggap mencakup pengertian yang lebih luas, termasuk sistem, saluran, perangkat keras dan perangkat lunak dari komunikasi modern. Sedangkan teknologi informasi merupakan bagian dari pengertian teknologi komunikasi. Akan tetapi, apabila diamati dengan lebih mendalam baik pengertian teknologi komunikasi maupun teknologi informasi, nyatalah bahwa di antara dua bidang tersebut saling berkaitan satu dengan yang lain, bahkan seringkali digunakan untuk menyebut hal yang sama secara bergantian. Oleh karena itu, dalam penggunaan sehari-hari kedua istilah tersebut seringkali diucapkan dalam nafas yang sama, karena pengertian yang terkandung pada masing-masing istilah tersebut memang saling berkaitan satu sama lain.&lt;br /&gt;Bila informasi tersebut volumenya kecil, tentunya tidak perlu teknik-teknik atau prosedur yang rumit untuk menyimpannya. Namun bila informasi tersebut dalam volume yang besar, diperlukan teknik dan prosedur tertentu untuk menyimpannya agar mudah mencari informasi yang tersimpan. Komputer mempunyai kapasitas untuk menyimpan informasi dalam volume besar. Pada mulanya komputer hanya mampu menyimpan teks dan grafik sederhana saja. Namun dewasa ini komputer telah mampu menyimpan informasi dalam berbagai bentuk, misalnya dalam bentuk audio, visual, dan audio visual.&lt;br /&gt;Teknologi Informasi (Information Technologi) yang mulai populer di akhir tahun 70-an, dihantarkan untuk menjawab tantangan. pada masa sebelumnya, istilah tekonolgi komputer atau pengolahan data electronis atau EDP (Electronic Data Processing). Menurut kamus Oxford (1995), teknologi informasi adalah studi atau penggunaan peralatan elektronika, terutama komputer untuk menyimpan, menganalisa, dan mendistribusikan informasi apa saja, termasuk kata, bilangan, dan gambar. Menurut Alter (1992), teknologi informasi mencakup perangkat keras dan perangkat lunak untuk melaksanakan satu atau sejumlah tugas pemrosesan data seperti menangkap mentransmisikan, menyimpan, mengambil, memanipulasi, atau menampilkan data.&lt;br /&gt;Lebih lanjut, menurut Martin (1999) teknologi informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer yang digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan mencakup juga teknologi komunikasi untuk mengirimkan informasi. Secara lebih umum Lucas (2000) menyatakan bahwa teknologi informasi adalah segala bentuk teknologi yang diterapkan untuk memproses dan mengirimkan informasi dalam bentuk elektronis, seperti mikrokomputer, komputer mainframe, pembaca barcode, software pemproses transaksi perangkat lunak untuk lembar kerja, peralatan komunikasi dan jaringan.&lt;br /&gt;Everett M Rogers dalam bukunya Communication Technology (1986), mengemukakan bahwa "Teknologi informasi merupakan perangkat keras bersifat organisatoris dan meneruskan nilai-nilai sosial dengan siapa individu atau khalayak mengumpulkan, memproses dan saling mempertukarkan informasi dengan individu atau khalayak lain."&lt;br /&gt;Pendapat  tersebut  mengisyaratkan bagaimana teknologi informasi dapat memberikan andil dalam proses komunikasi individu secara efektif khususnya dalam menembus ruang dan waktu ketika berkomunikasi dengan individu lainnya. Kecenderungannya dalam upaya memperoleh efektivitas komunikasi jarak jauh ini tidak terlepas dari komponen komunikasi jarak jauh, seperti instrumental tools, atau dalam konteks teknologi informasi, maka teknologi yang digunakan diantaranya komputer dan piranti pendukung lainnya.&lt;br /&gt;Telaah terhadap piranti teknologi informasi ini dijelaskan oleh Haag dan Keen (1996) dalam Abdul Kadir dan Terra Ch Triwahyuni (2003:2) bahwa "Teknologi informasi adalah seperangkat alat yang membantu Anda bekerja dengan informasi dan melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan informasi." Demikian juga dengan apa yang disampaikan oleh William dan Sawyer (2003) yang dikutif Abdul Kadir dan Terra Ch Triwahyuni (2003:2) dalam bukunya pengenalan teknologi informasi mengemukakan bahwa "Teknologi informasi adalah teknologi yang menggabungkan komputasi (komputer) dengan jalur komunikasi berkecepatan tinggi yang membawa data, suara, dan video." Dari definisi di atas tergambar bahwa teknologi informasi baik secara implisit maupun eksplisit tidak sekedar berupa teknologi komputer, tetapi juga teknologi telekomunikasi. Dengan kata lain yang di sebut teknologi informasi adalah gabungan antara teknologi komputer dan teknologi telekomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Pendidik dalam Memanfaatan TIK Ada Beberapa Peran Pendidik dalam Kerangka&lt;br /&gt;Pemanfaatan teknologi informasi di sekolah. itu. Pertama, ada sejumlah pendidik yang mengaku bahwa mereka belum memiliki kemampuan untuk menggunakan alat teknologi informasi. Ada pendidik, yang sama sekali tidak memiliki pengetahuan untuk menggunakan komputer. Ada pula pendidik yang sudah memiliki pengetahuan menggunakan komputer tetapi belum memiliki kemampuan untuk menggunakan internet. Dalam hal ini, perlu ada penekanan kepada para pendidik agar mereka memiliki kemampuan untuk menggunakan teknologi informasi.&lt;br /&gt;Kedua, pendidik dapat mengikutsertakan keunggulan teknologi informasi dalam pemberian tugas kepada para peserta didik. Peserta didik ditugaskan untuk memanfaatkan keunggulan teknologi informasi sehingga mereka dapat menghasilkan pekerjaan yang sempurna. Pendidik, misalnya, menugaskan peserta didik untuk mengarang atau melukis dengan menggunakan komputer. Dengan fasilitas edit yang canggih, pendidik dapat menuntut karya peserta didik yang terus diedit sampai sempurna. Ketiga, di bawah pengawasannya secara langsung, pendidik dapat menugaskan para peserta didik untuk bermain di komputer sesaat sebelum pelajaran dimulai berkenaan dengan topik yang akan diajarkan. Sebelum masuk kelas, pendidik misalnya dapat menugaskan peserta didik untuk bermain dengan komputer untuk membuat bermacam lingkaran serta bermacam susunan dari sejumlah lingkaran.&lt;br /&gt;Setelah itu, pendidik memberi pelajaran tentang lingkaran. Keempat, pendidik dapat menugaskan para peserta didik untuk mengumpulkan sejumlah informasi tertentu dari internet serta menyusun laporan tertulis tentang kumpulan informasi itu. Lebih baik lagi kalau pendidik terlebih dahulu mengakses informasi itu sehingga peserta didik ditugasi untuk mengakses informasi yang telah diakses oleh pendidik itu.&lt;br /&gt;Dalam rangka ini, pendidik dapat juga menugaskan para peserta didik untuk mencari sejumlah judul literatur perpustakaan melalui internet pada website tertentu. Misalnya, pendidik memberikan nama pengarang, peserta didik mencari judul literatur atau sebaliknya. Kelima, sejumlah kegiatan pembelajaran yang biasanya dilakukan melalui transparansi, slide, film atau videotape, kini sudah dapat dilakukan melalui teknologi informasi yakni komputer. Bahkan pekerjaan rumah dapat juga dikerjakan melalui teknologi informasi. Di samping berbagai kemungkinan ini, pendidik dapat saja secara proaktif mencari kegiatan pembelajaran lainnya yang dapat memanfaatkan keunggulan teknologi informasi. Termasuk di dalamnya, latihan berpikir sistematik melalui pembuatan program komputer seperti yang telah banyak dilakukan di sekolah sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. TIK sebagai jembatan menuju Realitas Pembelajaran&lt;br /&gt;Perkembangan Teknologi Informasi yang mampu mengolah, mengemas dan menampilkan serta menyebarkan informasi pembelajaran baik dalam medium audio, visual, audio visual bahkan multi media, dewasa ini telah mampu mewujudkan apa yang disebut dengan Virtual Learning. Konsep ini berkembang sehingga mampu mengemas kondisi dan realitas pembelajaran sebelumnya menjadi lebih menarik dan memberikan pengkondisian secara adaptif pada si pembelajaran di manapun mereka berada.&lt;br /&gt;Memang upaya ke arah tersebut banyak dicontohkan dengan munculnya konsep e-learning. Di mana secara realitas bahwa pembelajaran itu tidak sulit walaupun dibatasi olah ruang dan jarak yang tidak mungkin jika dilakukan secara nature, akan tetapi justru realitas yang diharapkan ini mampu diwujudkan melalui konsep e-learning ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi adalah hasil pengolahan data yang memberikan arti dan manfaat. Dengan demikian berarti tidak semua hasil pengolahan data tersebut dapat menjadi informasi, hasil pengolahan data yang tidak memberikan makna atau arti serta tidak bermanfaat bagi seseorang bukanlah merupakan informasi bagi orang tersebut. Dalam hal ini, ada tiga hal penting yang harus diperhatikan, yaitu&lt;br /&gt;1. Informasi merupakan hasil pengolahan data&lt;br /&gt;2. Memberi makna atau arti&lt;br /&gt;3. Berguna atau bermanfaat.&lt;br /&gt;Tepatnya Informasi adalah data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam mengambil keputusan.&lt;br /&gt;Secara sederhana "teknologi informasi" dapat dikatakan sebagai ilmu yang diperlukan untuk mengolah informasi agar informasi tersebut dapat dicari dengan mudah dan akurat. Isi dari ilmu tersebut dapat berupa prosedur, cara-cara dan teknik-teknik untuk menumpulkan, menyimpan, mengolah atau menelusuri informasi secara efisien dan efektif. Dengan kata lain teknologi informasi adalah serangkaian tahapan penanganan informasi, yang meliputi penciptaan informasi, pemeliharaan saluran informasi, seleksi dan transmisi informasi, penerimaan informasi secara selektif, penyimpanan dan penelusuran informasi, dan penggunaan informasi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-2098793546393381131?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/2098793546393381131/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/03/mengenal-teknologi-informasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/2098793546393381131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/2098793546393381131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/03/mengenal-teknologi-informasi.html' title='MENGENAL TEKNOLOGI INFORMASI (TUGAS KE 1 SISKOMDAT)'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-2548611568493260133</id><published>2010-02-04T06:53:00.000-08:00</published><updated>2010-02-04T06:53:33.610-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MATEMATIKA'/><title type='text'>Cara menguasai rumus cepat matematika</title><content type='html'>“Bagaimana cara belajar matematika yang benar?”&lt;br /&gt;“Belajar matematika adalah belajar hidup. Matematika adalah jalan hidup.”&lt;br /&gt;Trachtenberg mempertaruhkan jiwanya menentang Hitler. Trachtenberg, setelah menyelami prinsip-prinsip matematika, menyimpulkan bahwa prinsip kehidupan adalah keharmonisan. Peperangan yang terus berkobar, menyulut kebencian tidak sesuai dengan prinsip-prinsip matematika. Matematika adalah keindahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas penentangannya ini, Hitler menghadiahi Trachtenberg hukuman penjara. Bagi Trachtenberg, perjara bukan apa-apa. Di dalam penjara, dia justru memiliki kesempatan memikirkan matematika tanpa banyak gangguan. Karena sulit mendapatkan alat tulis-menulis, Trachtenberg mengembangkan pendekatan matematika yang berbasis mental-imajinasi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seribu tahun sebelum itu, AlKhawaritzmi mengembangkan disiplin matematika baru: aljabar. AlKharitzmi beruntung hidup dalam lingkungan agama Islam yang kuat. Ajaran Islam, secara inheren, menuntut keterampilan matematika tingkat tinggi. Misalnya, Islam menetapkan aturan pembagian waris yang detil. Pembagian waris sistem Islam melibatkan banyak variabel matematis. Variabel-variabel yang beragam ini menantang penganut Islam – termasuk AlKhawaritzmi – untuk mencari pemecahan yang elegan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemecahan terhadap sistem persamaan yang melibatkan banyak variabel ini membawa ke arah disiplin baru matematika: aljabar. AlKhawaritzmi menulis buku khusus tentang aljabar yang sangat fenomenal. Buku yang berjudul Aljabar ini menjadi panutan bagi matematikawan seluruh dunia. Sehingga nama AlKhawaritzmi menjadi dikenal sebagai Aljabar AlKhawaritzmi (Algebra Algorithm).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem kalender Islam yang berbasis pada komariah (bulan, lunar) memberikan tantangan tersendiri. Penetapan awal bulan menjadi krusial di dalam Islam. Berbeda dengan kalender syamsiah (matahari, solar). Dalam kalender syamsiah, kita tidak begitu sensitif apa berbedaan tanggal 1 Juni dengan 2 Juni. Tetapi pada sistem komariah, perbedaan 1 Ramadhan denga 2 Ramadhan berdampak besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya, astronomi Islam dapat maju lebih awal. Astronomi memicu lebih berkembangnya teori trigonometri. Aturan sinus, cosinus, dan kawan-kawan berkembang pesat di tangan para astronom Islam waktu itu.&lt;br /&gt;Ajaran agama Islam adalah jalan hidup. Untuk bisa melaksanakan ajaran Islam diperlukan matematika. Matematika menjadi jalan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehebat itukah peran matematika?&lt;br /&gt;Haruskah kita mengambil matematika sebagai jalan hidup?&lt;br /&gt;Tidak selalu! Tidak semua orang perlu mengambil matematika sebagai jalan hidup. Tidak harus semua orang meniru AlKhawaritzmi dan Trachtenberg.&lt;br /&gt;Beberapa orang belajar matematika hanya untuk kesenangan. Beberapa orang yang lain belajar karena kewajiban. Ada pula yang belajar matematika agar naik jabatan. Ada juga agar lulus UN, SPMB, UMPTN. Ada juga untuk menjadi juara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing tujuan, berimplikasi kepada cara belajar matematika yang berbeda. Misalnya bila Anda belajar matematika untuk kepentingan lulus UN, SPMB, UMPTN 2008 akan berbeda dengan belajar untuk memenangkan olimpiade matematika.&lt;br /&gt;Matematika UN, SPMB, UMPTN 2008 hanya menerapkan soal pilihan ganda. Implikasinya Anda hanya dinilai dari jawaban akhir Anda. Proses Anda menemukan jawaban itu tidak penting. Jadi Anda harus memilih siasat yang cepat dan tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunakan berbagai macam rumus cepat dalam matematika. Rumus cepat ampuh Anda gunakan untuk UN, SPMB, UMPTN. Tetapi rumus cepat matematika tidak akan berguna untuk olimpiade atau kuliah kalkulus kelak di perguruan tinggi. Anda harus sadar itu.&lt;br /&gt;Contoh rumus cepat matematika yang sering (hampir selalu) berguna ketika UN, SPMB, UMPTN adalah rumus tentang deret aritmetika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh soal:&lt;br /&gt;Jumlah n suku pertama dari suatu deret adalah Sn = 3n^2 + n. Maka suku ke-11 dari deret tersebut adalah…&lt;br /&gt;Tentu ada banyak cara untuk menyelesaikan soal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Cara pertama&lt;/b&gt;, tentukan dulu rumus Un kemudian hitung U11. Cara ini cukup panjang. Tetapi bagus Anda coba untuk meningkatkan keterampilan dan pemahaman konsep deret. Rumus Un dapat kita peroleh dari selisih Sn – S(n-1) .&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Cara kedua&lt;/b&gt;, sedikit lebih cerdik dari cara pertama. Kita tidak perlu menentukan rumus Un. Karena kita memang tidak ditanya rumus tersebut. Kita langsung menghitung U11 dengan cara menghitung selisih&lt;br /&gt;S11 – S10 = U11&lt;br /&gt;[3(11^2) + 11] – [3(10^2) + 10]&lt;br /&gt;= 3.121 – 3.100 + 11 – 10&lt;br /&gt;= 3.21 + 1&lt;br /&gt;= 64&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Cara ketiga&lt;/b&gt;, adalah rumus matematika paling cepat dari kedua rumus di atas. Tetapi sebelum menerapkan cara ketiga, kita harus memahami konsepnya terlebih dahulu dengan baik.&lt;br /&gt;Are you ready?&lt;br /&gt;Bentuk baku dari n suku pertama deret aritmetika adalah&lt;br /&gt;Sn = (b/2)n^2 + k.n&lt;br /&gt;Un = b(n-1) + a&lt;br /&gt;a = S1 = U1&lt;br /&gt;Anda harus pahami konsep di atas dengan baik. Cobalah untuk beberapa soal yang berbeda-beda. Tanpa pemahaman konsep yang baik, rumus cepat ini akan berubah menjadi rumus berat.&lt;br /&gt;Dengan hanya melihat soal (tanpa menghitung di kertas) bahwa&lt;br /&gt;Sn = 3n^2 + n&lt;br /&gt;Kita peroleh&lt;br /&gt;b = 6 (dari 3 x 2)&lt;br /&gt;a = 4 (dari S1 = 3 + 1)&lt;br /&gt;U11 = 6.10 + 4 = 64 (Selesai)&lt;br /&gt;Semua perhitungan di atas dapat kita lakukan tanpa menggunakan alat tulis. Semua kita lakukan hanya dalam imajinasi kita. Ulangi beberapa kali. Anda pasti akan menguasainya dengan baik.&lt;br /&gt;Trik untuk menguasai rumus cepat matematika adalah kuasai pula rumus standarnya – rumus biasanya. Dengan menguasai dua cara ini Anda akan semakin terampil menggunakan rumus cepat matematika.&lt;br /&gt;Bagaimana pendapat Anda?&lt;br /&gt;Salam hangat….Selamat berjuang Kawan!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-2548611568493260133?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/2548611568493260133/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/02/cara-menguasai-rumus-cepat-matematika.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/2548611568493260133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/2548611568493260133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/02/cara-menguasai-rumus-cepat-matematika.html' title='Cara menguasai rumus cepat matematika'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-7311259545244033501</id><published>2010-02-04T06:44:00.000-08:00</published><updated>2010-02-04T06:44:35.134-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><title type='text'>Anak Malas Belajar di Sekolah Tapi Rajin di Rumah?</title><content type='html'>Setelah mengenali pola belajar anak, sebagian dari para orang tua merasa terheran-heran dengan perilaku anak mereka yang semakin lama semakin tidak menyenangi proses pembelajaran itu sendiri, terlebih lagi di sekolah. Banyaknya tugas yang menumpuk, rutinitas yang membosan, hingga beragam alasan lain mungkin menjadi penyebabnya. Satu hal yang mungkin luput dari perhatian  para orang tua adalah, bagaimana rasanya menjadi pelajar  pada saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sebagai orang tua, kebanyakan dari kita pernah mengalami masa-masa sekolah dan pengalaman kita sendiri sering menjadi patokan bagaimana kita menilai sang buah hati. Tapi tahukah anda, membandingkan anak secara terus menerus akan menimbulkan dampak frustasi pada anak?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai generasi yang berbeda, sungguh sulit rasanya membayangkan kesulitan mereka untuk fokus dalam belajar. Andai kata anak anda adalah seorang pribadi yang menyukai kegiatan pembelajaran, coba perhatikan apakah ia lebih suka belajar secara otodidak  daripada belajar di sekolah. Jika ternyata ya, mungkin bukan anak anda yang salah, juga bukan anda sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya sungguh tidak dewasa untuk terus menerus mencari siapa yang bersalah, jadi marilah kita mencoba untuk mencari solusinya. Hal terpenting yang menunjang semangat belajar adalah tantangan yang besar!&lt;br /&gt;Jika anak anda lebih suka belajar secara otodidak, sarankan mereka untuk mempelajari bahan pelajaran di sekolah sebelum materi tersebut diajarkan di kelas dan rangkul mereka dengan segenap perhatian anda. Sebagai orang tua yang kreatif kita dapat menemukan banyak jalan sebagai tantangan belajar mereka, mulai dari hadiah kecil atas usaha mereka (bukan keberhasilan patokannya, tapi usaha), hingga bertanya tentang kemajuan pembelajaran mereka tanpa adanya nada memojokkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, terkadang sebagai orang tua kita cenderung memiliki egoisme pribadi yaitu menginginkan agar anak kita adalah yang terbaik, yang paling hebat, dan yang paling membanggakan kita sendiri. Tapi, sadarkah kita kalau anak adalah berkat dan bukan merupakan alat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, berhentilah membanding-bandingkan mereka dan cobalah untuk melihat potensi anak anda yang sesungguhnya, bukan hanya kekurangan dan kekalahan mereka dari anak-anak yang lain. Ingat, jangan sampai motivasi dan perhatian dari kita menjadi belenggu bagi mereka.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-7311259545244033501?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/7311259545244033501/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/02/anak-malas-belajar-di-sekolah-tapi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/7311259545244033501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/7311259545244033501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/02/anak-malas-belajar-di-sekolah-tapi.html' title='Anak Malas Belajar di Sekolah Tapi Rajin di Rumah?'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-6588708564022498845</id><published>2010-01-31T06:04:00.000-08:00</published><updated>2010-01-31T06:04:59.867-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MATEMATIKA'/><title type='text'>Ilmu Matematika</title><content type='html'>Matematika (dari bahasa Yunani: μαθηματικά - mathēmatiká) adalah studi besaran, struktur, ruang, relasi, perubahan, dan beraneka topik pola, bentuk, dan entitas. Para matematikawan mencari pola dan dimensi-dimensi kuantitatif lainnya, berkenaan dengan bilangan, ruang, ilmu pengetahuan alam, komputer, abstraksi imajiner, atau entitas-entitas lainnya. Dalam pandangan formalis, matematika adalah pemeriksaan aksioma yang menegaskan struktur abstrak menggunakan logika simbolik dan notasi matematika; pandangan lain tergambar dalam filsafat matematika. Para matematikawan merumuskan konjektur  dan kebenaran baru melalui deduksi yang menyeluruh dari beberapa aksioma  dan definisi  yang dipilih dan saling bersesuaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat perselisihan tentang apakah objek-objek matematika hadir secara objektif di alam menurut kemurnian logikanya, atau apakah objek-objek itu buatan manusia dan terpisah dari kenyataan. Seorang matematikawan Benjamin Peirce menyebut matematika sebagai "ilmu yang menggambarkan simpulan-simpulan yang penting". Albert Einstein, di pihak lain, menyatakan bahwa "sejauh hukum-hukum matematika merujuk kepada kenyataan, mereka tidaklah pasti; dan sejauh mereka pasti, mereka tidak merujuk kepada kenyataan."&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui penggunaan abstraksi dan penalaran  logika, matematika dikembangkan dari pencacahan, penghitungan, pengukuran, dan pengkajian sistematik terhadap bentuk dan gerak objek-objek fisika. Pengetahuan dan penggunaan matematika dasar selalu menjadi sifat melekat dan bagian utuh dari kehidupan individual dan kelompok. Pemurnian gagasan-gagasan dasar dapat diketahui di dalam naskah-naskah matematika yang bermula di dunia Mesir kuno, Mesopotamia, India, Cina, Yunani, dan Islam. Argumentasi kaku pertama muncul di dalam Matematika Yunani, terutama di dalam buku Euclid, Elemen. Pengembangan berlanjut di dalam ledakan yang tidak menenteramkan hingga periode Renaisans pada abad ke-16, ketika pembaharuan matematika berinteraksi dengan penemuan ilmiah baru, mengarah pada percepatan penelitian yang menerus hingga Kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, matematika digunakan di seluruh dunia sebagai alat penting di berbagai bidang, termasuk ilmu pengetahuan alam, rekayasa, medis, dan ilmu sosial seperti ekonomi, dan psikologi. Matematika terapan, cabang matematika yang melingkupi penerapan pengetahuan matematika ke bidang-bidang lain, mengilhami dan membuat penggunaan temuan-temuan matematika baru, dan kadang-kadang mengarah pada pengembangan disiplin-disiplin ilmu yang sepenuhnya baru. Para matematikawan juga bergulat di dalam matematika murni, atau matematika untuk perkembangan matematika itu sendiri, tanpa adanya penerapan di dalam pikiran, meskipun penerapan praktis yang menjadi latar munculnya matematika murni ternyata seringkali ditemukan terkemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, semakin kompleks suatu gejala, semakin kompleks pula alat (dalam hal ini jenis matematika) yang melalui berbagai perumusan (model matematikanya) diharapkan mampu untuk mendapatkan atau sekadar mendekati penyelesaian eksak seakurat-akuratnya. Jadi, tingkat kesulitan suatu jenis atau cabang matematika bukan disebabkan oleh jenis atau cabang matematika itu sendiri, melainkan disebabkan oleh sulit dan kompleksnya gejala yang penyelesaiannya diusahakan dicari atau didekati oleh perumusan (model matematikanya) dengan menggunakan jenis atau cabang matematika tersebut. Sebaliknya berbagai gejala fisika yang mudah diamati, misalnya jumlah penduduk di seluruh Indonesia, tidak memerlukan jenis atau cabang matematika yang canggih. Kemampuan aritmetika sudah cukup untuk mencari penyelesaian (jumlah penduduk) dengan keakuratan yang cukup tinggi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-6588708564022498845?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/6588708564022498845/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/ilmu-matematika.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/6588708564022498845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/6588708564022498845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/ilmu-matematika.html' title='Ilmu Matematika'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-8357065090914288130</id><published>2010-01-24T06:54:00.000-08:00</published><updated>2010-01-24T06:57:25.549-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MUSIK'/><title type='text'>Teori Musik</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S1xegCXXU6I/AAAAAAAAAGs/CiOUtLsO5gQ/s1600-h/musik....gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="117" src="http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S1xegCXXU6I/AAAAAAAAAGs/CiOUtLsO5gQ/s200/musik....gif" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Teori musik merupakan cabang ilmu yang menjelaskan unsur-unsur musik. Cabang ilmu ini mencakup pengembangan dan penerapan metode untuk menganalisis maupun menggubah musik, dan keterkaitan antara notasi musik dan pembawaan musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang dipelajari dalam teori musik mencakup misalnya suara, nada, notasi, ritme, melodi, Kontrapun Musik, harmoni, Bentuk Musik, Teori Mencipta Lagu, dlsb.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Nada&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara dapat dibagi-bagi ke dalam nada yang memiliki tinggi nada atau tala tertentu menurut frekuensinya ataupun menurut jarak relatif tinggi nada tersebut terhadap tinggi nada patokan. Perbedaan tala antara dua nada disebut sebagai interval. Nada dapat diatur dalam tangga nada yang berbeda-beda. Tangga nada yang paling lazim adalah tangga nada mayor, tangga nada minor, dan tangga nada pentatonik. Nada dasar suatu karya musik menentukan frekuensi tiap nada dalam karya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ritme&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ritme adalah pengaturan bunyi dalam waktu. Birama merupakan pembagian kelompok ketukan dalam waktu. Tanda birama  menunjukkan jumlah ketukan dalam birama dan not  mana yang dihitung dan dianggap sebagai satu ketukan. Nada-nada tertentu dapat diaksentuasi dengan pemberian tekanan (dan pembedaan durasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Notasi&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Notasi musik merupakan penggambaran tertulis atas musik. Dalam notasi balok, tinggi nada digambarkan secara vertikal sedangkan waktu (ritme) digambarkan secara horisontal. Kedua unsur tersebut membentuk paranada, di samping petunjuk-petunjuk nada dasar, tempo, dinamika, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Melodi&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melodi adalah serangkaian nada dalam waktu. Rangkaian tersebut dapat dibunyikan sendirian, yaitu tanpa iringan, atau dapat merupakan bagian dari rangkaian akord  dalam waktu (biasanya merupakan rangkaian nada tertinggi dalam akord-akord tersebut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Harmoni&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harmoni secara umum dapat dikatakan sebagai kejadian dua atau lebih nada dengan tinggi berbeda dibunyikan bersamaan, walaupun harmoni juga dapat terjadi bila nada-nada tersebut dibunyikan berurutan (seperti dalam arpeggio). Harmoni yang terdiri dari tiga atau lebih nada yang dibunyikan bersamaan biasanya disebut akord.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-8357065090914288130?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/8357065090914288130/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/teori-musik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/8357065090914288130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/8357065090914288130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/teori-musik.html' title='Teori Musik'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S1xegCXXU6I/AAAAAAAAAGs/CiOUtLsO5gQ/s72-c/musik....gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-136185083630190846</id><published>2010-01-24T06:23:00.000-08:00</published><updated>2010-01-24T06:23:00.210-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KESEHATAN'/><title type='text'>Jangan Remehkan Insomnia</title><content type='html'>Anda sering mengalami gangguan susah tidur? Saat semua orang menikmati istirahat panjang di malam hari, anda justru tetap terjaga? Kalau anda menjawan YA, maka mulailah menganggap bahwa ini adalah hal serius. Jangan sekali-kali meremehkannya, karena gangguan tidur berpotensi menyebabkan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dr Olga Parra yang melakukan penelitian bersama tim peneliti dari University Hospital Barcelona, Spanyol, kesulitan tidur atau 'sleep apnea' bisa berdampak pada naiknya resiko stroke yang mengakibatkan kematian. Kesulitan selama tidur kemungkinan disebabkan oleh adanya gangguan secara berkala saat mengambil nafas.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bisa menjadi resiko baru sebuah kematian yang disebabkan oleh stroke. Kesulitan untuk tidur atau 'sleep apnea' diperkirakan dialami hampir 20% orang dan setidaknya gangguan pernafasan itu mengalami masa interval 10 detik atau lebih yang bisa dialami selama 300 kali dalam semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitiannya, Dr Olga Parra melibatkan 161 pasien penderita stroke untuk melihat hubungan antara resiko stroke dengan 'sleep apnea'. "Penelitian kami merupakan kali pertama yang menyebut adanya hubungan antara 'sleep apnea' dan stroke yang bisa menimbulkan kematian," ujarnya. Hubungan itu sangat jelas dimana 'sleep apnea' merupakan gangguan pernafasan selama tidur karena terhambatnya aliran udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Olga Parra mulai melakukan monitoring atas penderita stroke setelah pihak rumah sakit mendapati kenyataan adanya pasien yang mengalami stroke setelah mengalami gangguan selama tidur. Selama hampir 30 bulan melakukan penelitian, Dr Olga Parra menghadapi kenyataan bahwa 22 dari 161 pasien meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah dari 22 pasien itu mengalami serangan stroke tahap kedua. Pasien yang paling tinggi dari 161 pasien itu adalah penderita 'sleep apnea' dan menduduki resiko paling tinggi mengalami stroke. Demikian kesimpulan tim pimpinan Dr Olga Parra yang dipublikasikan oleh the European Respiratory Journal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stroke merupakan penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian dan terjadi jika aliran darah ke otak mengalami hambatan. Karena mengalami hambatan maka aliran oksigen tidak bisa mengalir ke otak. Menurut WHO di tahun 2002 silam diperkirakan 5.5 juta orang meninggal diseluruh dunia karena stroke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengomentari hasil penelitian Dr Olga Parra itu, Ludger Grote dari Sahlgrenska Hospital, Swedia, mengatakan penelitian itu membuat orang makin memahami peran 'sleep apnea' pada pasien penderita stroke. "Studi Dr Olga Parra memperjelas potensi sleep apnea pada penderita stroke. Hal itu bisa menjadi sebuah pertimbangan untuk melihat implikasi untuk melakukan manajemen stroke."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Dr Olga Parra akan menyebarluaskan hasil studi mereka ke pusat rehabilitasi 'sleep apnea' diseluruh Spanyol untuk mengurangi angka kematian akibat stroke. Lima tahun kedepan Dr Olga Parra berharap bisa dimunculkan hasil studi yang baru.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-136185083630190846?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/136185083630190846/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/jangan-remehkan-insomnia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/136185083630190846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/136185083630190846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/jangan-remehkan-insomnia.html' title='Jangan Remehkan Insomnia'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-8554600313891192373</id><published>2010-01-24T06:03:00.000-08:00</published><updated>2010-01-24T06:04:19.230-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KESEHATAN'/><title type='text'>Manfaat Mandi Bagi Kesehatan</title><content type='html'>&lt;b&gt;Mandi, Bikin Segar dan Sehat!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penelitian terbaru mandi ternyata tidak hanya baik untuk membersihkan tubuh dari kotoran dan menjauhkan stress, tapi mandi juga memiliki peranan penting meningkatkan sistem kekebalan, membantu kulit terhindar dari penyakit seperti eksema dan bahkan menyembuhkan masalah medis serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah studi yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine menunjukkan penderita diabetes yang menghabiskan hanya setengah jam berendam dalam bak air hangat dapat menurunkan tingkat gula darah sekitar 13 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian terpisah di Jepang menunjukkan 10 menit berendam dalam air hangat dapat memperbaiki kesehatan jantung baik pria maupun wanita, membantu mereka menjalani test olahraga lebih baik dan mengurangi rasa sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa manfaat mandi dan berapa lama anda sebaiknya mandi? Berikut beberapa petunjuk mandi asyik dan menyehatkan:&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Mengeluarkan racun&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandi air hangat sekitar 32-35 derajat Celsius membuka pori-pori yang dapat membantu mengeluarkan toksin. Mandi air hangat juga dapat membantu menurunkan tingkat gula darah, menyembuhkan sakit otot dan membantu menjaga usus besar bekerja dengan baik. Waktu yang dianjurkan selama 10-20 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Stress&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda benar-benar mengalami stress, mandi air dingin akan menjadi jawaban yang tepat. Temperatur yang dianjurkan sekitar 12-18 derajat Celsius. Mandi air dingin sangat baik meredakan ketegangan, sebaliknya dari air hangat karena mandi air dingin dapat mempersempit darah dan meningkatkan tingkat gula darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Eksema&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit kulit tertentu seperti eksema, ruam atau gatal-gatal dengan menambahkan baking soda (sodium bicarbonate) ke dalam bak mandi dapat membuat perbedaan besar. Sodium bicarbonate bertindak sebagai antiseptik. Isi air dengan air hangat kuku, tambahkan kira-kira satu pound baking soda dan aduk sampai rata. Dianjurkan berendam selama 10-20 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Infeksi&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infeksi yeast seperti sariawan dapat dibantu dengan menambahkan tiga atau empat cuka dari sari buah apel ke dalam bak mandi. Ini juga baik untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuh karena cuka dapat menyeimbangkan kembali asam. Tambahkan pada air hangat dan berendam selama 15-20 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Flu dan Sakit Kepala&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merendam kaki dalam air hangat dapat membantu menyembuhkan flu dan sakit kepala dan juga menyegarkan kembali kaki yang lelah. Masukan air hangat secukupnya dalam bak sampai menutupi kaki dan pergelangan kaki tambahkan beberapa tetes minyak seperti lavender, peppermint atau lemon. Setelah selesai basuh dengan air dingin. Lakukan selama 10-20 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Insomnia&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merendam kaki dalam air dingin sangat baik bagi anda yang memiliki masalah insomnia atau mereka yang memiliki masalah tidur. Masukan kaki sampai kaki merasa dingin. Pengobatan ini juga berguna bagi kaki lelah, pendarahan hidung, flu dan sembelit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sirkulasi&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah merendam kaki secara bergantian antara air hangat dan air dingin jika anda mengalami masalah sirkulasi. Mulai dengan merendam kaki selama satu atau dua menit dalam air hangat, kemudian 30 menit dalam air dingin. Cobalah lakukan selama 15 menit kemudian diselesaikan dengan air dingin.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-8554600313891192373?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/8554600313891192373/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/manfaat-mandi-bagi-kesehatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/8554600313891192373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/8554600313891192373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/manfaat-mandi-bagi-kesehatan.html' title='Manfaat Mandi Bagi Kesehatan'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-8926832156191341702</id><published>2010-01-24T05:22:00.000-08:00</published><updated>2010-01-24T05:39:47.134-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MATEMATIKA'/><title type='text'>MACAM - MACAM BILANGAN</title><content type='html'>&lt;b&gt;Bilangan riil&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam matematika, bilangan riil atau bilangan real menyatakan angka yang bisa dituliskan dalam bentuk desimal, seperti 2,4871773339… atau 3.25678. Bilangan real meliputi bilangan rasional, seperti 42 dan −23/129, dan bilangan irasional, seperti π dan akar2, dan dapat direpresentasikan sebagai salah satu titik dalam garis bilangan. Definisi popular dari bilangan real meliputi klas ekivalen dari deret Cauchy  rasional, irisan Dedekind, dan deret Archimides.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bilangan asli&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam matematika, terdapat dua kesepakatan mengenai himpunan bilangan asli. Yang pertama definisi menurut matematikawan tradisional, yaitu himpunan bilangan bulat positif yang bukan nol {1, 2, 3, 4, ...}. Sedangkan yang kedua definisi oleh logikawan dan ilmuwan komputer, adalah himpunan nol dan bilangan bulat positif {0, 1, 2, 3, ...}. Bilangan asli merupakan salah satu konsep matematika yg paling sederhana dan termasuk konsep pertama yang bisa dipelajari dan dimengerti oleh manusia, bahkan beberapa penelitian menunjukkan beberapa jenis kera besar (Inggris: apes) juga bisa menangkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar apabila bilangan asli adalah jenis pertama dari bilangan yang digunakan untuk membilang, menghitung, dsb. Sifat yang lebih dalam tentang bilangan asli, termasuk kaitannya dengan bilangan prima, dipelajari dalam teori bilangan. Untuk matematika lanjut, bilangan asli dapat dipakai untuk mengurutkan dan mendefinisikan sifat hitungan suatu himpunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap bilangan, misalnya bilangan 1, adalah konsep abstrak yg tak bisa tertangkap oleh indera manusia, tetapi bersifat universal. Salah satu cara memperkenalkan konsep himpunan semua bilangan asli sebagai sebuah struktur abstrak adalah melalui aksioma Peano (sebagai ilustrasi, lihat &lt;a href="http://planetmath.org/encyclopedia/PeanoArithmetic.html"&gt;aritmetika Peano&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep bilangan-bilangan yg lebih umum dan lebih luas memerlukan pembahasan lebih jauh, bahkan kadang-kadang memerlukan kedalaman logika untuk bisa memahami dan mendefinisikannya. Misalnya dalam teori matematika, himpunan semua bilangan rasional bisa dibangun secara bertahap, diawali dari himpunan bilangan-bilangan asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bilangan bulat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilangan bulat terdiri dari bilangan cacah (0, 1, 2, ...) dan negatifnya (-1, -2, -3, ...; -0 adalah sama dengan 0 dan tidak dimasukkan lagi secara terpisah). Bilangan bulat dapat dituliskan tanpa komponen desimal atau pecahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Himpunan semua bilangan bulat dalam matematika dilambangkan dengan Z (atau \mathbb{Z}), berasal dari Zahlen (bahasa Jerman untuk "bilangan").&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sifat-sifat&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Himpunan Z tertutup di bawah operasi penambahan dan perkalian. Artinya, jumlah dan hasil kali dua bilangan bulat juga bilangan bulat. Namun berbeda dengan bilangan asli, Z juga tertutup di bawah operasi pengurangan. Hasil pembagian dua bilangan bulat belum tentu bilangan bulat pula, karena itu Z tidak tertutup di bawah pembagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" height="414" style="width: 494px;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="213"&gt;&amp;nbsp;Penambahan&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="213"&gt;&amp;nbsp;Perkalian&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="213"&gt;&amp;nbsp;Closure :&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp; a&lt;/i&gt;&amp;nbsp;+&amp;nbsp;&lt;i&gt;b&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; adalah bilangan bulat&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp; a&lt;/i&gt;&amp;nbsp;×&amp;nbsp;&lt;i&gt;b&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; adalah bilangan bulat&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="213"&gt;&amp;nbsp;Asosiativitas :&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp; a&lt;/i&gt;&amp;nbsp;+&amp;nbsp;(&lt;i&gt;b&lt;/i&gt;&amp;nbsp;+&amp;nbsp;&lt;i&gt;c &lt;/i&gt;)&amp;nbsp;&amp;nbsp;=&amp;nbsp;&amp;nbsp;(&lt;i&gt;a&lt;/i&gt;&amp;nbsp;+&amp;nbsp;&lt;i&gt;b&lt;/i&gt; )&amp;nbsp;+&amp;nbsp;&lt;i&gt;c&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp; a&lt;/i&gt; ×&amp;nbsp;(&lt;i&gt;b&lt;/i&gt;&amp;nbsp;×&amp;nbsp;&lt;i&gt;c&lt;/i&gt;)&amp;nbsp;&amp;nbsp;=&amp;nbsp;&amp;nbsp;(&lt;i&gt;a&lt;/i&gt;&amp;nbsp;×&amp;nbsp;&lt;i&gt;b&lt;/i&gt;)&amp;nbsp;×&amp;nbsp;&lt;i&gt;c&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="213"&gt;&amp;nbsp;Komutativitas :&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp; a&lt;/i&gt;&amp;nbsp;+&amp;nbsp;&lt;i&gt;b&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;=&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;i&gt;b&lt;/i&gt;&amp;nbsp;+&amp;nbsp;&lt;i&gt;a&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp; a&lt;/i&gt;&amp;nbsp;×&amp;nbsp;&lt;i&gt;b&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;=&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;i&gt;b&lt;/i&gt;&amp;nbsp;×&amp;nbsp;&lt;i&gt;a&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="213"&gt;&amp;nbsp;Ekstensi unsur identitas :&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp; a&lt;/i&gt;&amp;nbsp;+&amp;nbsp;0&amp;nbsp;&amp;nbsp;=&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;i&gt;a&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp; a&lt;/i&gt;&amp;nbsp;×&amp;nbsp;1&amp;nbsp;&amp;nbsp;=&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;i&gt;a&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="213"&gt;&amp;nbsp;Ekstensi unsur invers :&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp; a&lt;/i&gt;&amp;nbsp;+&amp;nbsp;(−&lt;i&gt;a&lt;/i&gt;)&amp;nbsp;&amp;nbsp;=&amp;nbsp;&amp;nbsp;0&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="213"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ---&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="213"&gt;&amp;nbsp;Distributivitas :&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp; a&lt;/i&gt;&amp;nbsp;×&amp;nbsp;(&lt;i&gt;b&lt;/i&gt;&amp;nbsp;+&amp;nbsp;&lt;i&gt;c&lt;/i&gt;)&amp;nbsp;&amp;nbsp;=&amp;nbsp;&amp;nbsp;(&lt;i&gt;a&lt;/i&gt;&amp;nbsp;×&amp;nbsp;&lt;i&gt;b&lt;/i&gt;)&amp;nbsp;+&amp;nbsp;(&lt;i&gt;a&lt;/i&gt;&amp;nbsp;×&amp;nbsp;&lt;i&gt;c&lt;/i&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp; a&lt;/i&gt;&amp;nbsp;×&amp;nbsp;(&lt;i&gt;b&lt;/i&gt;&amp;nbsp;+&amp;nbsp;&lt;i&gt;c&lt;/i&gt;)&amp;nbsp;&amp;nbsp;=&amp;nbsp;&amp;nbsp;(&lt;i&gt;a&lt;/i&gt;&amp;nbsp;×&amp;nbsp;&lt;i&gt;b&lt;/i&gt;)&amp;nbsp;+&amp;nbsp;(&lt;i&gt;a&lt;/i&gt;&amp;nbsp;×&amp;nbsp;&lt;i&gt;c&lt;/i&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="213"&gt;&amp;nbsp;Tidak ada pembagi nol :&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="213"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ---&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="213"&gt;&amp;nbsp; jika &lt;i&gt;a&lt;/i&gt;&amp;nbsp;×&amp;nbsp;&lt;i&gt;b&lt;/i&gt; = 0, maka &lt;i&gt;a&lt;/i&gt; = 0 atau &lt;i&gt;b&lt;/i&gt; = 0 (atau  keduanya)&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bilangan bulat sebagai tipe data dalam bahasa pemrograman&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilangan bulat (integer) merupakan salah satu tipe data dasar dalam bahasa pemrograman Pascal. Walaupun memiliki ukuran 2 byte (16 bit),karena integer  adalah type data signed maka hanya mampu di-assign nilai antara -215 hingga 215-1 yaitu -32768 sampai 32767. Ini disebabkan karena 1 bit digunakan sebagai penanda positif/negatif. Meskipun memiliki istilah yang sama, tetapi tipe data integer pada bahasa pemrograman Visual Basic .NET dan Borland Delphi memiliki ukuran 4 byte atau 32 bit signed  sehingga dapat di-assign nilai antara -2,147,483,648 hingga 2,147,483,647.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bilangan cacah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilangan cacah adalah himpunan bilangan bulat yang tidak negatif, yaitu {0, 1, 2, 3 ...}. Dengan kata lain himpunan bilangan asli ditambah 0.Jadi, bilangan cacah harus bertanda positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bilangan imajiner&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilangan imajiner adalah bilangan yang mempunyai sifat i 2  = −1. Bilangan ini biasanya merupakan bagian dari bilangan kompleks. Selain bagian imajiner, bilangan kompleks mempunyai bagian bilangan riil. Secara definisi, (bagian) bilangan imajiner i ini diperoleh dari penyelesaian persamaan kuadratik:&lt;br /&gt;&lt;img alt="pp" height="20" src="file:///C%7C/Documents%20and%20Settings/BAKTI%20%E2%84%A2/Application%20Data/Macromedia/Dreamweaver%208/OfficeImageTemp/clip_image002_0002.gif" width="15" /&gt;+1=0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau secara ikuivalen :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img alt="aa" height="20" src="file:///C%7C/Documents%20and%20Settings/BAKTI%20%E2%84%A2/Application%20Data/Macromedia/Dreamweaver%208/OfficeImageTemp/clip_image002_0003.gif" width="57" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau juga sering dituliskan sebagai &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img alt="yy" height="22" src="file:///C%7C/Documents%20and%20Settings/BAKTI%20%E2%84%A2/Application%20Data/Macromedia/Dreamweaver%208/OfficeImageTemp/clip_image002_0004.gif" width="56" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilangan imajiner dan/atau bilangan kompleks ini sering dipakai di bidang teknik elektro dan elektronika untuk menggambarkan sifat arus AC (listrik arus bolak-balik) atau untuk menganalisa gelombang fisika yang menjalar ke arah sumbu x mengikuti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img alt="dd" height="21" src="file:///C%7C/Documents%20and%20Settings/BAKTI%20%E2%84%A2/Application%20Data/Macromedia/Dreamweaver%208/OfficeImageTemp/clip_image002_0005.gif" width="133" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;, dengan j = -i&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bilangan kompleks&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam matematika, bilangan kompleks adalah bilangan yang berbentuk :&lt;br /&gt;a+bi&lt;br /&gt;dimana a dan b adalah bilangan riil, dan i adalah bilangan imajiner tertentu yang mempunyai sifat i 2  = −1. Bilangan riil a disebut juga bagian riil  dari bilangan kompleks, dan bilangan real b disebut bagian imajiner. Jika pada suatu bilangan kompleks, nilai b adalah 0, maka bilangan kompleks tersebut menjadi sama dengan bilangan real a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, 3 + 2i adalah bilangan kompleks dengan bagian riil 3 dan bagian imajiner 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilangan kompleks dapat ditambah, dikurang, dikali, dan dibagi seperti bilangan riil; namun bilangan kompleks juga mempunyai sifat-sifat tambahan yang menarik. Misalnya, setiap persamaan aljabar polinomial mempunyai solusi bilangan kompleks, tidak seperti bilangan riil yang hanya memiliki sebagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang-bidang tertentu (seperti teknik elektro, dimana i digunakan sebagai simbol untuk arus listrik), bilangan kompleks ditulis a + bj.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-8926832156191341702?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/8926832156191341702/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/macam-macam-bilangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/8926832156191341702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/8926832156191341702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/macam-macam-bilangan.html' title='MACAM - MACAM BILANGAN'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-4590082630436916361</id><published>2010-01-23T06:49:00.000-08:00</published><updated>2010-01-23T22:51:52.765-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MATEMATIKA'/><title type='text'>LOGIKA</title><content type='html'>&lt;b&gt;Definisi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika berasal dari kata λógøς (baca : logos sebagai kata benda, logike sebagai kata sifat). Logika merupakan: Kajian tentang argumentasi dan pembuktian; Suatu Ilmu tentang asas-asas penalaran manusia; Suatu sistem yang didasarkan atas proposisi. Proposisi atau pernyataan adalah kalimat (berita) yang mempunyai nilai kebenaran (benar atau salah), tapi tidak kedua-duanya, kita katakan bahwa nilai kebenaran dari suatu proposisi adalah benar (T) atau salah (F) atau berkorespondensi dengan 1 dan 0 dalam dunia digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika matematika (logika simbolik) adalah logika yang menggunakan bahasa matematika (bahasa simbolik).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Himpunan semesta adalah himpunan yang elemen-elemennya merupakan semesta pembicaraan&lt;br /&gt;Di dalam suatu kalimat dikenal adanya variabel dan konstanta. Variabel adalah simbol yang menunjuk pada sebarang anggota semesta pembicaraan; sedangkan Konstanta adalah simbol sebagai unsur kalimat yang menunjuk pada satu anggota tertentu dari semesta pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Proposisi dan Kalimat Tertutup&lt;/b&gt;. Untuk memahami definisi logika serta melihat korelasinya dengan matematika, akan dikenalkan beberapa open problem sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Alam mencari titik setimbang dengan gempa 7.3 skala richter :&lt;br /&gt;2. Gunung adalah pasak dari bumi&lt;br /&gt;3. Energi tidak dapat dimusnahkan dan tidak dapat diciptakan&lt;br /&gt;4. Archilles VS Tortoise, siapa yang menang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Paradox Zeno&lt;/b&gt;. Secara sederhana kita dapat menyimpulkan paradoks adalah suatu peristiwa kontradiksi antara teori dan kenyataan.&lt;br /&gt;Asal-usul paradoks agak tidak jelas. Diogenes Laertius, mengutip Favorinus, mengatakan bahwa guru Zeno Parmenides, adalah orang pertama yang memperkenalkan Achilles dan kura-kura Argumen.&lt;br /&gt;Saya mengutip deskripsi Zeno’s “Achilles dan kura-kura” paradoks dari Wikipedia:&lt;br /&gt;“Dalam sebuah lomba, pelari tercepat tidak pernah dapat menyalip yang paling lambat, sejak pengejar harus terlebih dahulu mencapai titik yang dikejar mulai dari mana, sehingga lebih lambat harus selalu memegang sebuah petunjuk.” (Aristoteles Fisika VI: 9, 239b15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Achilles dan kura-kura ini salah satu dari 8 paradoks Zeno yang paling terkenal. Terkenal karena orang Yunani gagal menjelaskan paradoks ini.hehehe…… Walau sekarang terkesan ga terlalu sulit, tapi butuh waktu ribuan tahun sebelum matematikawan dapat menjelaskannya. Paradoks Achilles dan kura-kura kira-kira seperti ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelari tercepat (A) tidak akan bisa mendahului pelari yang lebih lambat (B). Hal ini terjadi karena A harus berada pada titik B mula-mula, sementara B sudah meninggalkan (berada di depan) titik tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeno menganalogikan paradoks ini dengan membayangkan lomba lari Achilles dan seekor kura-kura. (haha…. jadi inget Brad Pitt ya, film Troy ). Keduanya dianggap lari dengan kecepatan konstan dan kura-kura udah tentu jauh lebih lambat. Untuk itu, si kura-kura dikasih keuntungan dengan start awal di depan, katakanlah 100 meter. Ketika lomba sudah dimulai, Achilles akan mencapai titik 100 m (titik di mana kura-kura mula-mula). Tetapi si kura ini juga pasti sudah melangkah maju, jauh lebih lambat memang, katakanlah dia baru melangkah 10 meter. Beberapa saat kemudian Achilles berada di titik 110 m, tapi si kura lagi-lagi udah melangkah maju. Demikian seterusnya, setiap kali Achilles berada pada titik di mana kura-kura tadinya berada, si kura-kura sudah melangkah maju. Artinya, Achilles, secepat apa pun dia berlari ngga akan bisa mendahului kura-kura (selambat apa pun dia melangkah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk paradoks zeno, si achilles ini, bisa dijelaskan dengan limit.&lt;br /&gt;Untuk penjelasannya dari Wikipedia sbb :&lt;br /&gt;In the case of Achilles and the tortoise, suppose that the tortoise runs at a constant speed of v metres per second (m/s) and gets a head start of distance d metres (m), and that Achilles runs at constant speed xv m/s with x &amp;gt; 1. It takes Achilles time d/xv seconds (s) to reach the point where the tortoise started, at which time the tortoise has travelled d/x m. After further time d/x2v s, Achilles has another d/x m, and so on. Thus, the time taken for Achilles to catch up is :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber :&lt;br /&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Zeno%27s_paradox_solutions&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proporsisi. Unit terkecil dari Logika adalah : Kalimat. Jenis kalimat yang mempunyai nilai benar atau salah tapi tidak keduanya adalah : Statement atau Pernyataan. Istilah lain dari pernyataan adalah Proposisi atau Kalimat Tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Majemuk (Compound Statemetent). Diperoleh dengan menyusun variabel-variabel pernyataan yang digabungkan dengan Penghubung Logika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;p : X1=(-b+sqrt(b2-4ac))/2a adalah salah satu akar persamaan kuadrat ax2 +bx +c&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;q : X1 adalah imaginer bila b2&amp;gt;4ac&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan majemuk yang bisa disusun Jika p maka  q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinjam dari referensi lain : silakan download materi Bab 1 &lt;a href="http://sutanto.staff.uns.ac.id/files/2009/10/logika-himpunan.pdf"&gt;disini : logika-himpunan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk pernyataan dalam logika dibedakan dalam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kontradiksi&lt;br /&gt;2. Tautologi&lt;br /&gt;3. Kontingensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontradiksi adalah suatu bentuk pernyataan yang hanya mempunyai contoh substitusi yang salah, atau sebuah pernyataan majemuk yang salah dalam segala hal tanpa memandang nilai kebenaran dari komponen-komponennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tautologi adalah sebuah pernyataan majemuk yang benar dalam segala hal, tanpa memandang nilai kebenaran dari komponen-komponennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontingensi adalah sebuah pernyataan majemuk yang bukan suatu tautologi maupun kontradiksi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-4590082630436916361?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/4590082630436916361/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/logika.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/4590082630436916361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/4590082630436916361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/logika.html' title='LOGIKA'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-935152248201381448</id><published>2010-01-23T06:19:00.000-08:00</published><updated>2010-01-23T22:52:53.586-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MATEMATIKA'/><title type='text'>PROBABILITAS</title><content type='html'>Probabilitas merupakan bagian matematika yang membahas tentang ukuran kebolehjadian terjadinya suatu peristiwa yang ada dalam kehidupan. Memang banyak peristiwa yang tidak dapat dipastikan terjadi atau tidak terjadi di kemudian waktu. Namun dengan mengetahui ukuran berhasil dan tidaknya suatu peristiwa yang diharapkan akan terjadi, orang menjadi dapat mengambil keputusan lebih baik dan lebih bijaksana tentang apa yang seharusnya ia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun metode pembelajaran yang akan kita gunakan tidak lagi mengacu pada matematika murni, melainkan sudah mengacu pada matematika terapan. Sehingga contoh-contoh probabilitas yang akan kita sajikan cenderung lebih pada terapannya di dunia nyata.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh :&lt;br /&gt;Semisal ada orang yang bekerja dalam manajemen jaringan. Suatu ketika dia dimintai pertimbangan oleh perusahaannya dalam hal penyediaan komputer sebagai server di perusahaan tersebut . Orang tersebut tentu harus bisa memperkirakan berapa kapasitas server yang perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Nah dalam memperkirakan itulah probabilitas memegang peranan penting. Kalau orang tersebut memberikan pertimbangan secara asal-asalan tentu itu akan merugikan perusahaan, dan dia pun pasti tidak akan bertahan lama bekerja di perusahaan itu. Ilustrasi yang sangat sederhana adalah ketika berlangsung registrasi onine yang dilanjutkan dengan pengisian KRS secara online. Setiap mahasiswa melakukan transaksi memilih matakuliah semester tersebut. Yang menarik dari sisi probabilitas adalah : ” Berapa kali hits/klik (matakuliah yang dipilih) untuk setiap mahasiwa yang melakukan transaksi hingga print KRS ?” Berapa kali tingkat kegagalan atau tidak disetujui oleh sistem atas klik yang dilakukan ? Tentunya ini akan sangat berpengaruh pada perencanaan pengadaan infrastruktur IT di kampus tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh kedua adalah : Penyandian, apa sih pentingnya penyandian itu ??, bisa kita ilustrasikan dari contoh berikut :&lt;br /&gt;Semisal anda masuk dalam ruangan atm untuk mengambil uang transaksi , anda kan tidak pernah merasa aman, karena apa yang anda ketikkan kode itu akan sangat menarik bagi pencuri-pencuri profesional untuk bisa tahu kode pin anda. Ketika anda ketikkan 1234, maka yang keluar dari kotak ATM sebenarnya adalah disandikan. Kalau itu tidak disandikan bahaya sekali. Ketika anda memasukkan 4 digit 1234, Sebenarnya terjadi komunikasi data antara atm disini dengan servernya bank anda, BNI misalnya. Jadi yang anda ketikkan akan dikonfirmasikan ke dalam database server apakah itu betul kode PIN anda, begitu betul akan dijawab betul dan transaksi pun akan dilanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ATM berada dibawah private network, maka ada kecenderungan orang menyadap PIN anda. Oleh karena itu, Bank melakukan apa yang disebut dengan penyandian (Encryption). Ketika anda mengetikkan kode 1234 dalam perjalanan dia harus disandikan, kemudian setelah sampai di server banknya kode PIN yang telah disandikan tersebut dire-sandikan kembali. Hal tersebut setidaknya akan menyulitkan para penyadap untuk memecahkan kode PIN yang dia dapat, karena kode PIN yang ia dapat bukan dalam bentuk aslinya.&lt;br /&gt;Karena ada penyandian, berarti ada model dalam penyandian tersebut. Problemnya adalah sandi apa yang sulit dibongkar oleh orang, berbasis pada apa ?, nah disinilah probabillitas memegang peranan penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simbol dan istilah : P {X=0} = p dan P {X=1} =1-p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P : Peluang atau kebolehjadian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X : Variabel acak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;p : bernilai [0,1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjelaskan peluang, kita akan membahas mengenai Sandi Vigenere.&lt;br /&gt;Model penyandian pertama kali ditemukan oleh Giovan Batista Belaso dalam bukunya La cifra del. Sig. Giovan Batista Belaso (1553), dan disempurnakan oleh diplomat perancis Blaise de Vigenere (1586). Karena banyak orang mengira Vigenere adalah penemu sandi ini, maka sandi ini dikenal luas sebagai “sandi Vigenere” .&lt;br /&gt;Untuk menyandikan suatu pesan digunakan sebuah tabel alfabet yang disebut Tabel Vigenere.&lt;br /&gt;Vigenere Table&lt;br /&gt;Contoh Penyandian :&lt;br /&gt;Pesan : HARI INI SAYA DATANG TERLAMBAT&lt;br /&gt;Kata Kunci : AKU&lt;br /&gt;Pesan yang sudah tersandikan : ?&lt;br /&gt;Bagaimana cara menyandikannya ?,&lt;br /&gt;Pertama, kata kunci kita ulang sehingga jumlah hurufnya sama banyak dengan teks pesan&lt;br /&gt;Kedua, Langkah Penyandian (Enkripsi);&lt;br /&gt;Huruf pertama pada teks pesan H, disandikan dengan menggunakan baris berjudul A (huruf pertama kata kunci). Pada baris A pada kolom H di tabel Vigenere terdapat huruf I. Demikian pula untuk huruf kedua, ketiga dan seterusnya.&lt;br /&gt;Jadi hasilnya seperti dibawah ini :&lt;br /&gt;Pesan : HARI INI SAYA DATANG TERLAMBAT&lt;br /&gt;Kata Kunci : AKUA KUA KUAK UAKUAK UAKUAKUAK&lt;br /&gt;Hasil : HKLI SHI CUYK XADUNQ NEBFAWUAD&lt;br /&gt;Adapun proses sebaliknya (disebut Dekripsi), yaitu me-resandikan kembali ,&lt;br /&gt;Caranya :&lt;br /&gt;Huruf pertama pada teks tersandi H, di re-sandikan dengan menggunakan kata kunci A (huruf pertama kata kunci). Pada baris A tabel Vigenere kita cari huruf H, huruf H terdapat di kolom H. Jadi huruf pertama dari pesan asli adalah H. Demikian pula untuk seterusnya.&lt;br /&gt;Jadi hasil dekripsi seperti dibawah ini :&lt;br /&gt;Pesan tersandi : HKLI SHI CUYK XADUNQ NEBFAWUAD&lt;br /&gt;Kata Kunci : AKUA KUA KUAK UAKUAK UAKUAKUAK&lt;br /&gt;Pesan Asli : HARI INI SAYA DATANG TERLAMBAT&lt;br /&gt;Enkripsi (penyandian) dengan sandi Vigenere juga dapat dituliskan secara matematis dengan menggunakan penjumlahan dan operasi modulus, yaitu :&lt;br /&gt;rumus enkripsi&lt;br /&gt;Dan dekripsi :&lt;br /&gt;rumus dekripsi&lt;br /&gt;Keterangan : Ci adalah huruf ke-I pada pesan tersandi, Pi adalah huruf ke-I pada pesan asli, Ki adalah huruf ke-I pada kata kunci, dan mod adalah operasi modulus (sisa pembagian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problem probabilitas dalam Vigenere dimulai ketika diketahui pesan tersandi (tentunya dengan mengetahui bahasa apa yang digunakan : bhs Inggris, Prancis,..) dan anda harus mencari teks aslinya dengan tidak tahu apa kunci yang dipakai. Yang menjadi basic dan awal pembahasan Sandi Vigenere ini adalah kebolehjadian kemunculan huruf -huruf /alphabet setiap kali kita melakukan pembicaraan atau menulis sesuatu dengan menggunakan sebuah bahasa tertentu. Dengan mengetahui :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bahasa apa yang digunakan dan&lt;br /&gt;2. Peluang munculnya huruf A-Z dari bahasa tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAKA akan dapat dicari kunci dan teks aslidari pesana tersandikan dengani Sandi Vigenere.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel Probabilitas Kemunculan 26 huruf dalam bahasa Inggris :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letter     Probability       Letter    Probability&lt;br /&gt;A          0.082             N          0.067&lt;br /&gt;B          0.015             O          0.075&lt;br /&gt;C          0.028             P          0.019&lt;br /&gt;D          0.043             Q          0.001&lt;br /&gt;E          0.127             R          0.060&lt;br /&gt;F          0.022             S          0.063&lt;br /&gt;G          0.020             T          0.091&lt;br /&gt;H          0.061             U          0.028&lt;br /&gt;I          0.070             V          0.010&lt;br /&gt;J          0.002             W          0.023&lt;br /&gt;K          0.008             X          0.001&lt;br /&gt;L          0.040             Y          0.020&lt;br /&gt;M          0.024             Z          0.001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indeks Coinsidence Ic(X)silakan didownload : &lt;a href="http://sutanto.staff.uns.ac.id/files/2009/10/vigenere.pdf"&gt;Indeks Coincidence Vigenere&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menentukan Panjang Kunci&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-935152248201381448?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/935152248201381448/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/probabilitas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/935152248201381448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/935152248201381448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/probabilitas.html' title='PROBABILITAS'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-5693576147346611043</id><published>2010-01-23T02:18:00.000-08:00</published><updated>2010-01-23T22:54:43.151-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MATEMATIKA'/><title type='text'>PROGRAM MAPPING ( A410060193 FKIP MATEMATIKA )</title><content type='html'>Membuat program mapping untuk rancangan pembelajaran salah satu topik dalam mata kuliah yang saya ambil di bangku perkuliahan. Program Mapping ini bertujuan untuk mempersingkat langkah - langkah rencana pembelajaran yang di buat seorang pengajar sehingga memudahkan pengajar untuk menyampaikan materi.&lt;br /&gt;Misalnya kalau dalam satu semester ada kurang lebih 16 kali pertemuan, maka kita harus memilih pada pertemuan ke berapa dan topik apa yang akan di link kan melalui program Mapping ini. Yang perlu kita persiapkan adalah orientasi belajar yang akan ditentukan dengan menggunakan program mapping ini. Menentukan topik dari keseluruhan topik yang ada dalam satu semester yang akan di link kan tentu saja adalah topik yang umum di mana siswa dapat belajar secara mandiri, sementara materinya adalah yang dapat di visualkan.&lt;br /&gt;Untuk melihat file Mapping yang telah saya rancang, anda bisa mendownloadnya.&lt;br /&gt;silahkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="//www.ziddu.com/download/8158546/arsip.rar.html"&gt;KLIK DISINI&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-5693576147346611043?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/5693576147346611043/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/program-mapping-a410060193-fkip.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/5693576147346611043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/5693576147346611043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/program-mapping-a410060193-fkip.html' title='PROGRAM MAPPING ( A410060193 FKIP MATEMATIKA )'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-5052261199612537330</id><published>2010-01-20T10:12:00.000-08:00</published><updated>2010-01-23T05:06:34.754-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ANAK GUNUNG'/><title type='text'>Mendaki Sebagai Terapi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S1dSP74N2ZI/AAAAAAAAAGc/hwYfpKVrIU4/s1600-h/kecil.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S1dSP74N2ZI/AAAAAAAAAGc/hwYfpKVrIU4/s320/kecil.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Perjalanan mengarungi alam terbuka bagi seorang petualang sejati tidaklah sekedar perjalanan menelusuri alam saja. Ada perjalanan spirituil di dalamnya. Kepuasan perjalanan hati ini berbeda - beda, tergantung dari niat dan tujuan si pendaki itu sendiri. Bisa untuk tujuan refreshing, ziarah atau hanya karena gunung itu ada (Because it there) atau yang lainnya.&lt;br /&gt;Mendaki gunung memerlukan kondisi fisik yang cukup prima. Tapi fisik saja tidak cukup kondisi mentalpun memiliki peran yang sangat penting. Kondisi mental meliputi pikiran yang letaknya di kepala yang tugasnya mengkalkulasi, menghitung, dan mempertimbangkan segala keputusan berdasarkan informasi yang ditangkap panca indera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi mental juga meliputi jiwa, yang letaknya di dalam dada, memiliki sifat perasa dan mampu menangkap sesuatu di luar jangkauan logika. Jiwa itu memiliki tugas sebagai bara yang mampu menghangatkan raga. Dalam pengambilan keputusannya, selalu berdasarkan intuisi, naluri, dan kepercayaan, tanpa perlu pembuktian maupun perhitungan matematis. Kedua perangkat mental tersebut dalam pelaksanaanya saling mempengaruhi, saling melengkapi, dan saling mengimbangi. Pada akhirnya setiap keputusan yang keluar, berdasarkan kecenderunganya pada salah satunya, atau bisa juga kedua-duanya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, hasil keputusan inilah yang pada akhirnya akan dilaksanakan oleh raganya. Sehingga terkadang ada orang yang melakukan gerakan tanpa disadarinya, produk dari jiwanya, dan kita sering menyebut dengan gerakan reflek. Namun, jika ada orang yang melompati sebuah lubang dan sebelumnya orang tersebut melakukan perkiraan-perkiraan, berarti orang tersebut mengambil keputusan berdasarkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mendaki gunung, kita memerlukan semua perangkat tersebut, raga, pikiran, dan jiwanya. Jika ada masalah dengan salah satunya, secara otomatis pendakian yang dilakukan akan terasa menyakitkan, menakutkan, dan membahayakan. Dan pendakian seperti itulah yang berpotensi menggiring ke arah kehilangan nyawa, meskipun kita harus meyakini kematian merupakan urusan Yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pendaki harus dapat memaksimalkan perangkat-perangkat tersebut. Mereka berolah raga untuk menjaga kesiapan fisiknya, kalaupun tidak, mereka melakukan pendakian secara rutin dan berkala, karena bagi orang macam itu, mendaki adalah olah raganya. Untuk mengisi kepalanya, para pendaki selalu mencari pengetahuan, teknik-teknik atau cara-cara baru yang dapat membantunya dalam kegiatannya. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menambah kapasitas pikirannya, ikut klub-klub atau komunitas penggiat alam terbuka, diskusi, ataupun dari media-media yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, yang ke tiga inilah yang paling sulit, karena dibutuhkan kesadaran diri tentang siapa dirinya, tentang bagaimana seharusnya bersikap, berkarakter, berperilaku sesuai dengan pilihannya sebagai pendaki. Yang ketiga inilah yang perlu dicari, digali oleh masing-masing diri. Melalui pengalamannya sendiri, dan dari kehidupannya sendiri. Jiwa inilah yang seharusnya dapat lebih dihayati dan dimaknai, kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya ketika jiwa telah terasuki mental, karakter seorang pendaki, maka tak perlu lagi kita mendaki gunung-gunung tertinggi, karena ketinggian letaknya pada saat kita mampu menjadi diri, berbagi dan mengisi kehidupan menjadi manusia yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk para pendaki yang tak memiliki kesempatan untuk mendaki dan mempelajari cara-cara baru, namun di dalam jiwanya terdapat bara yang mampu menerangi hingga tempat tertinggi, kalian tetap pendaki, kalian tetap saudaraku. Brotherhood forever.... :-D &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-5052261199612537330?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/5052261199612537330/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/mendaki-sebagai-terapi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/5052261199612537330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/5052261199612537330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/mendaki-sebagai-terapi.html' title='Mendaki Sebagai Terapi'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S1dSP74N2ZI/AAAAAAAAAGc/hwYfpKVrIU4/s72-c/kecil.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-4718019877230184403</id><published>2010-01-18T08:15:00.000-08:00</published><updated>2010-01-23T05:08:15.806-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SERBA SERBI'/><title type='text'>Gaya Hidup Sehat</title><content type='html'>Salah satu perwujudan dan penerapan dari belajar ilmu kesehatan adalah terwujudnya pribadi yang memiliki pengetahuan, ketrampilan tentang kesehatan, dan terbentuknya sikap hidup yang dikenal dengan gaya hidup sehat. Banyak aspek yang harus dilakukan oleh seseorang setidak-tidaknya memahami bagaimana dia mengelola kehidupannya, rohani dan jasmani agar sehat dan pada gilirannya menyebabkan hidup yang berkualitas. Perilaku orang yang sehat agar tetap sehat dan kesehatannya meningkat disebut perilaku sehat, yang mencakup perilaku-perilaku dalam mencegah atau menghindar dari penyakit dan penyebab penyakit/masalah, atau penyebab masalah kesehatan, serta perilaku dalam mengupayakan meningkatnya kesehatan. Sebagai contoh adalah makan dengan gizi seimbang, olahraga teratur, tidak merokok dan minuman minuman keras, menghindari gigitan nyamuk, menggosok gigi setelah makan, cuci tangan pakai sabun sebelum makan dan sebagainya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Becker (1979), perilaku sehat (healthy behavior) adalah perilaku-perilaku atau kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan memelihara dan meningkatkan kesehatan, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Makan dengan menu seimbang. Menu seimbang di sini adalah pola makan sehari-hari yang memenuhi kebutuhan nutrisi yang menjadi kebutuhan tubuh baik menurut jumlahnya (kuantitas) maupun jenisnya (kualitas).&lt;br /&gt;* Kegiatan fisik secara teratur dan cukup. Kegiatan fisik di sini tidak harus olah raga. Bagi seseorang yang pekerjaannya memang sudah memenuhi gerakan-gerakan fisik secara rutin dan teratur, sebenarnya sudah dapat dikategorikan berolah raga. Bagi seseorang yang pekerjaannya tidak melakukan kegiatan fisik seperti manager, administrator, sekretaris dan sebagainya, memerlukan olah raga secara teratur.&lt;br /&gt;* Tidak merokok dan minuman minuman keras serta menggunakan narkoba. Merokok adalah kebiasaan yang tidak sehat, namun di Indonesia jumlah perokok cenderung meningkat. Hampir 50% pria dewasa di Indonesia adalah perokok. Sedangkan peminum minuman keras dan penggunaan narkoba meskipun masih rendah (sekitar 1,0%) tetapi makin meningkat.&lt;br /&gt;* Istirahat yang cukup. Istirahat cukup bukan saja berguna untuk memelihara kesehatan fisik, tetapi juga untuk kesehatan mental. Dengan berkembangnya IPTEK dewasa ini, juga memacu orang untuk meningkatkan kehidupannya, baik di bidang sosial dan ekonomi, yang akhirnya mendorong orang bersangkutan untuk bekerja keras tanpa menghiraukan beban fisik dan mentalnya. Istirahat yang cukup adalah kebutuhan dasar manusia untuk mempertahankan kesehatannya.&lt;br /&gt;* Pengendalian atau manajemen stres. Stres adalah bagian dari kehidupan setiap orang, tanpa pandang bulu. Semua orang terlepas dari tingkat sosial, ekonomi, jabatan atau kedudukan dan sebagainya, mengalami stres. Stres tidak dapat dihindari oleh siapa saja, namun yang dapat dilakukan adalah mengatasi, mengendalikan atau mengelola stres tersebut agar tidak mengakibatkan gangguan kesehatan, baik kesehatan fisik maupun kesehatan mental (rohani).&lt;br /&gt;* Perilaku atau gaya hidup positif yang lain untuk kesehatan. Inti dari perilaku ini adalah tindakan atau perilaku seseorang, agar dapat terhindar dari berbagai macam penyakit dan masalah kesehatan, termasuk perilaku untuk meningkatkan kesehatan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-4718019877230184403?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/4718019877230184403/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/gaya-hidup-sehat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/4718019877230184403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/4718019877230184403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/gaya-hidup-sehat.html' title='Gaya Hidup Sehat'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-7494727469431514321</id><published>2010-01-18T07:55:00.000-08:00</published><updated>2010-01-23T22:55:31.360-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KESEHATAN'/><title type='text'>Apakah Kamu Perokok Pasif?</title><content type='html'>Asap yang dihasilkan oleh rokok atau asap sekunder, terdiri atas dua jenis. Pertama, asap yang dikeluarkan oleh para perokok disebut asap mainstream. Kedua, asap yang mengalir dari batang rokok atau pipa rokok disebut asap sidestream. Kedua asap itu mengandung ribuan senyawa kimia, mulai dari amonia, arsenik, sampai hidrogen sianid. Kebanyakan dari senyawa yang terkandung dalam asap rokok telah terbukti sebagai racun atau sebagai penyebab kanker yang disebut karsinogen.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa senyawa kimia yang ditemukan dalam asap sekunder berbentuk konsentrasi tinggi. Asap ini ternyata secara signifikan meningkatkan risiko individu terjangkit :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt; Infeksi pernapasan (seperti bronkritis dan pneuminia).&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Asma (asap sekunder adalah faktor yang membawa risiko asma dan dapat memicu serangan pada individu yang telah menderita asma sebelumnya).&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Batuk, radang tenggorokan, bersin, dan napas tersendat-sendat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Kanker.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Sakit jantung.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Jadi, asap sekunder tidak hanya memberi dampak terhadap individu di masa datang, tapi juga dapat menjadi masalah di saat ini, seperti memberi dampak pada performa orang dalam berolahraga atau dapat memengaruhi kekuatan fisik individu yang aktif berolahraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami kemungkinan-kemungkinan menghirup asap sekunder tersebut, apa yang dapat kamu lakukan? Apalagi kamu mengetahui siapa saja yang biasa merokok. Mungkin saja yang melakukan adalah kakekmu atau laki-laki yang biasa kamu ajak jalan atau teman kerja. Yang jelas, dirimu merokok atau dirimu sering berada di sekitar orang yang merokok, kamu harus memahami bahwa menghirup asap tembakau rokok tidak baik untuk kesehatan. Meskipun hanya dalam waktu singkat atau sesaat saja, deraan asap itu berdampak langsung tanpa hambatan bagi tubuh kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kamu merokok, cobalah untuk berhenti. Berhenti merokok bukanlah hal yang mudah karena merokok sifatnya sangat candu. Tapi, sekarang ini sudah banyak program dan orang yang bisa membantu kamu untuk memulai sesuatu yang berani, yaitu menjadi orang yang bebas dari rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertimbangankanlah keuntungan-keuntungan yang akan kamu peroleh, seperti kamu akan terlihat, merasa, dan beraroma tubuh lebih baik. Di samping itu, tentu saja tanpa keraguan kamu akan mempunyai uang lebih banyak untuk ditabung atau untuk sekadar jalan-jalan sambil menunjukkan kepada lingkungan bahwa kamu adalah orang yang baru, yang sehat! Mungkin saja dengan mengetahui bahwa kamu melindungi orang-orang di sekitarmu yang kamu cintai dengan berhenti merokok, bisa membantumu memiliki keinginan yang lebih kuat untuk menendang jauh kebiasaan burukmu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kamu tidak merokok, cobalah dua tindakan berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt; Ajaklah keluar semua perokok jauh dari orang lain, terutama anak-anak dan wanita yang sedang hamil. Asap rokok akan terus berputar di udara meski beberapa jam setelah rokok dimatikan. Hal ini berarti bila seorang perokok mengisap rokoknya dalam ruangan, orang lain yang ada dalam ruangan tersebut juga ikut menghirupnya. Karena asap dapat melekat pada orang dan juga pakaian, saat perokok kembali ke dalam ruangan, ia diharuskan mencuci tangan dan mengganti pakaiannya, terutama sebelum memegang atau memeluk anak-anak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Jangan pernah membiarkan orang yang bersamamu di dalam mobil merokok. Meskipun membiarkan rokok diarahkan keluar jendela dan mengeluarkan asapnya ke luar, tetap berpengaruh kecil. Sudah terbukti bahwa perokok pasif sangat membahayakan diri. Jadi, diharapkan para perokok bisa berniat untuk mengambil langkah sederhana, yaitu memilih tempat khusus untuk menyalakan rokoknya. Selain itu, orang yang tak merokok pun harus memiliki pilihan, yaitu bisa menjauh dari orang yang merokok di sekitarnya baik di rumah, sekolah, dan restoran. Peraturan baru tentang aktivitas merokok di tempat umum harus segera diterapkan sehingga orang yang tidak merokok lebih mudah untuk menikmati udara bebas rokok selama hidup.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;(Dikutip dari sebuah tulisan di Republika, 28 Oktober 2007, dengan beberapa perubahan)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-7494727469431514321?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/7494727469431514321/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/apakah-kamu-perokok-pasif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/7494727469431514321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/7494727469431514321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/apakah-kamu-perokok-pasif.html' title='Apakah Kamu Perokok Pasif?'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-1485142837782352157</id><published>2010-01-18T01:10:00.000-08:00</published><updated>2010-01-23T22:56:01.959-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KESEHATAN'/><title type='text'>Bahaya Sate dan Mie Instan versus Timun</title><content type='html'>Siapa yang gak tergiur akan kelezatan sate, entah itu sate kambing, sate ayam, ataupun sate padang dan beraneka ragam makanan lainnya yang bersumber dari air tawar ataupun hasil laut seperti ikan mas, ikan kakap, baronang, cumi, kepiting dan teman-temannya, ditambah sedikit lalapan dan sambal yang pedas. Hemmb.....sangat menarik bukan ?? Dan tentu saja untuk menemukan jenis makanan tersebut di Surakarta khususnya tidaklah susah, bila kita perhatikan banyak sekali di jalanan yang mencoba menjajakan jenis makan tersebut. Akan tetapi berhati-hatilah bila Anda adalah pengemar jenis makan tersebut, karena penyakit kanker sudah mengintai kita.&lt;br /&gt;Pada umumnya untuk membakar makanan tersebut biasanya digunakan arang, ternyata di sinilah awal penyakit kanker tersebut bermula.&lt;span class="fullpost"&gt; Karena begitu makanan tersebut dibakar menggunakan arang yang mengandung zat karbon, maka pada makanan tersebut sebetulnya ikut juga karbon dari hasil pembakaran arang yang dapat menyebabkan kanker. Tetapi tidak usah takut, bagi Anda pengemar makanan tersebut dapat mengatasinya dengan memakan timun, karena sate yang dibakar tersebut mengandung zat karsinogen (penyebab kanker) dan timun mempunyai anti karsinogen.&lt;br /&gt;Bagi para pengemar mie instan, ternyata di dalam mie tersebut terkandung lilin yang berfungsi untuk melapisi mie instant (mungkin itu juga yah yang menyebabkan mie tidak lengket satu dengan yang lainnya). Pernah rekan saya bereksperimen dengan cara menyimpan kuah hasil olahan mie instan selama 3 hari, dan ternyata memang terbukti ditemukan zat seperti lilin.&lt;br /&gt;Bagi anda pengemar mie instan, mungkin kini saatnya untuk berhati-hati mengkonsumsi mie tersebut, karena tubuh kita membutuhkan waktu 2 – 3 hari untuk membersihkan zat lilin tersebut. Dan saya juga biasanya kalau mengkonsumsi mie instan, selalu membuang air hasil rebusan dan menggantinya dengan air hangat yang baru. (untuk meminimalkan zat lilin yang masuk)&lt;br /&gt;Dan masih banyak zat-zat berbahaya lainnya yang mengintai kita dan terbilang mudah menemukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So…. Be careful aja kali yah..&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-1485142837782352157?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/1485142837782352157/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/bahaya-sate-dan-mie-instan-versus-timun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/1485142837782352157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/1485142837782352157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/bahaya-sate-dan-mie-instan-versus-timun.html' title='Bahaya Sate dan Mie Instan versus Timun'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-4545457880178698932</id><published>2010-01-18T01:02:00.000-08:00</published><updated>2010-01-23T05:11:30.155-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SERBA SERBI'/><title type='text'>Estetika dalam Persahabatan</title><content type='html'>Estetika dalam persahabatan dunia semakin mendesak manusia untuk berubah mengikuti perkembangan zaman. Sekiranya ini terjadi, tentunya manusia akan melihat manusia yang lain dalam pandangan yang berbeda. Artinya manusia akan digambarkan sebagai sosok yang tentunya bisa menguntungkan atau tidak dalam relasi. Kalau relasi didasari dengan kepentingan dan pamrih sangatlah berbahaya untuk perkembangan relasi itu sendiri. Ya bagaimana tidak? Manusia bisa saling melukai dan menyakiti, apabila relasi didasari oleh sekat-sekat diri bagi kepentingan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan sekarang ini, lebih mengarahkan manusia untuk melakukannnya. Ini semua tidak lepas dari faktor perkembangan zaman dengan segala ekses negatifnya. Manusia semakin dihadapkan dengan banyak pilihan, yang terkadang harus mengorbankan orang-orang di sekitarnya. Jadi, mari kita lihat sejauh mana persahabatan atau relasi apabila diamati dari sisi estetika. Banyak sekali cerita yang berangkat dari sebuah persahabatan. Baik itu persahabatan beda bangsa, agama, suku atau persahabatan yang berangkat dari lawan jenis. Dari sebuah kisah nyata diangkat cerita mengenai persahabatan beda ras. Cerita ini dijadikan film yang menarik dengan latar belakang American football serta perbedaan ras yang saat itu begitu memanas. Berawal dari perbedaan kulit putih dan hitam di Amerika, nilai-nilai persahabatan antar dua pribadi ini begitu dirasakan dalam permainan football. Hal ini sangatlah menarik mengapa? Karena persahabatan dua pribadi terjalin saat kondisi situasi tidak mendukung dan berpihak. Merekapun merasakan hal yang sama, nilai persahabatan yang dibangun ternyata memiliki banyak tantangan dari lingkungan. Namun berangkat dari tantangan tersebut, justru persahabatan terjalin tanpa melihat latarbelakang masing-masing.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Cerita di atas memberi sedikit gambaran akan sebuah relasi yang terbangun ke arah persahabatan. Tanpa pamrih, kepentingan diri, memahami kekurangan dan latar belakang kehidupan. Seperti sebuah rumah dibangun dengan pondasi yang kuat, namun tetap memunculkan sisi estetikanya. Begitu juga dengan persahabatan, pondasinya dibangun melalui nilai-nilai kemanusiaan namun estetikanya nampak dalam setiap gerak langkah proses dari persahabatan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, sebuah persahabatan akan melahirkan suatu makna bagi perkembangan jiwa dan pribadi yang menjalaninya. Kedua, persahabatan yang didasari dengan ketulusan dan keiklasan akan membawa ke arah penghargaan yang tinggi akan nilai kemanusiaan. Ketiga, estetika persahabatan terletak dalam hubungan emosional tanpa disadari, karena muncul dari hati dan batin. Keempat, estetika persahabatan memberi dampak positif dan menampakkan nilai luhur bagi manusia disekitarnya. Kelima, persahabatan akan menggerakkan manusia dan memberi inspirasi apa arti sebuah persahabatan. Keenam, persahabatan akan membawa manusia melihat pribadi-pribadi yang unik dan khas. Ketujuh, persahabatan akan membawa cara pandang, bahwa manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh. Kedelapan, pada dasarnya manusia butuh teman dalam hidup yang bisa menjadi tempat saling sharing berbagi kebahagiaan dan kesedihan dan penderitaan. Kesembilan, persahabatan akan mengajak manusia melewati dinamika pendewasaan diri, pertumbuhan dan mengelola emosi. Kesepuluh, estetika persahabatan membawa manusia menikmati nilai kehidupan dan menjauhkan manusia dari kehancuran peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu sudah nampak jelas bahwa estetika persahabatan membawa dampak yang luar biasa bagi umat manusia. Dengan melihat keadaan manusia sekarang ini, persahabatan akan menangkal ekses negatif dari perubahan zaman. Dari pada saling bermusuhan dan saling menghancurkan, kenapa kita tidak bertumbuh dalam bingkai persahabatan? Saya kira hal itu sudah ditawarkan oleh para utusan Tuhan beberapa abad silam. Tuhan menciptakan suatu keindahan di dunia ini dan menciptakan manusia segambar denganNya, oleh karena itu peliharalah keindahan dalam persahabatan karena manusia akan menemukan begitu besar kasihNya akan dunia ini.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-4545457880178698932?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/4545457880178698932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/estetika-dalam-persahabatan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/4545457880178698932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/4545457880178698932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/estetika-dalam-persahabatan.html' title='Estetika dalam Persahabatan'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-6600203262091432494</id><published>2010-01-17T02:07:00.000-08:00</published><updated>2010-01-24T04:12:15.112-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SERBA SERBI'/><title type='text'>Aku Hanya Ingin Menjadi Orang Baik !!</title><content type='html'>Perjalanan hidup seperti perjalanan menuju ke Puncak, Bogor. Itu kata Agnes Monica. Perjalanan hidup bukanlah seperti roda, setelah berada di atas, kita harus dengan terpaksa, turun kembali ke bawah. Terinjak-injak. Tapi perjalanan hidup seperti ketika kita menuju ke puncak, berkelok-kelok, kadang naik, kadang turun, tapi pada intinya sedang menuju ke puncak tertinggi. Toh, setelah itu kita harus kembali turun ke dasar. Tidak dalam posisi drastis, namun sedikit demi sedikit. Aku juga begitu. Meskipun sadar bahwa hukum keseimbangan berlaku dalam dunia ini, tapi pemutarbalikan situasi tidaklah seperti roda yang setelah berada di atas harus langsung kembali terinjak atau setelah terinjak di dasar dengan mudah naik menuju puncak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kucari dalam hidup ini?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya ingin menjadi orang baik! itu kata hatiku. Aku hanya ingin memberikan baktiku pada semua alam. Aku ingin memberikan dharmaku pada setiap insan yang kutemui. Aku hanya ingin menjadikan nafasku sebagai pemberi kebahagiaan pada orang lain. Aku hanya ingin memberikan gerakku pada perkembangan dunia ini. Dan aku ingin semua itu terjadi, seperti dalam mimpi-mimpiku yang telah lama ku pendam.&lt;br /&gt;Tapi muncul pertanyaan, apa yang dapat membuktikan bahwa aku bisa menjadi orang baik?&lt;br /&gt;Setiap kali aku berada dekat orang lain saja mereka seakan ogah berlama-lama denganku. Setiap kali aku hidup seruang dengan orang lain, ia acuh tak acuh padaku, tak memperdulikanku. Sahabatku pun merasa bosan dengan segala sifatku. Bagaimana mungkin aku mampu mengatakan bahwa diriku adalah orang baik jika setiap ada orang yang mendapat nikmat, aku merasa iri. Detik hidupku masih kuisi dengan hal sia-sia yang tak kunjung usai. Meski aku juga menyadari bahwa semua keburukanku akan tertutupi oleh sifat baikku. Ampuni aku !!&lt;br /&gt;Aku bukanlah malaikat yang mampu melakukan kebenaran pada setiap gerakku. Namun, setan juga tak bersarang selamanya dalam diri ini. Ya … aku punya hati nurani. Aku punya cinta. Aku punya kasih sayang. Itulah yang mampu membuatku merasa bahwa aku bisa menjadi orang baik.&lt;br /&gt;Bantu aku Tuhan. Aku ingin menyerahkan hidupku padaMu, tapi jalanku masih terhambat oleh dosaku. Bantu aku !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, 'Bakti', dari sebuah tempat paling indah di dunia..&lt;img src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/25.gif" width="30" height="18" border="0"&gt; &lt;br /&gt;Salam........&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-6600203262091432494?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/6600203262091432494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/aku-hanya-ingin-menjadi-orang-baik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/6600203262091432494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/6600203262091432494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/aku-hanya-ingin-menjadi-orang-baik.html' title='Aku Hanya Ingin Menjadi Orang Baik !!'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-3399904045336257381</id><published>2010-01-17T01:09:00.000-08:00</published><updated>2010-01-23T05:14:24.265-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><title type='text'>Guru Matematika Teladan</title><content type='html'>Banyak siswa yang menjadi hakim penilai, pemvonis, sebelum ia mengenali sesuatu. Matematika contohnya, pelajaran momok itu dari dulu selalu mendapat penilaian buruk sebelum siswa mempelajarinya. Anggapan kesulitan materi pelajaran yang teramat sangat mengakibatkan motivasi siswa lemah, dan dalam alam bawah sadarnya akan ada kata : ’sulit’, ’sulit’, ’sulit’, yang akhirnya benar-benar mengantar pada kesulitan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasi ini, diperlukan guru matematika teladan yang mampu menjadi bijak dalam menghadapi siswa. Perlu disadari bahwa tingkat penguasaan siswa menurut kurva normal adalah bahwa hampir 50% siswa berada pada kategori sedang, 25% siswa berada di level rendah, dan 25% nya yang agak cepat memahami. Tentunya pembelajaran di dalam kelas perlu di set sedemikian indahnya, sehingga hubungan yang signifikan antara materi pelajaran dengan permasalahan dalam dunia nyata dapat terasa.&lt;br /&gt;Matematika Realistik yang mungkin baru berupa wacana akan sulit diterapkan oleh guru-guru yang ‘tak cerdas’ memahamkan siswa. Apalagi bagi guru yang merasa cukup dengan ilmu yang didapatnya saat kuliah, tanpa merasa perlu meng-up date pengetahuannya. Kadang yang terjadi adalah guru menyalahkan pengajar level sebelumnya ketika siswanya tak bisa menjawab pertanyaan 2/-1.&lt;br /&gt;Menjadi teladan berarti mencontohkan pada siswa bahwa belajar adalah kebutuhan. Matematika adalah alat, yang tak perlu jadi ukuran kecerdasan. Pintar matematika bukan jaminan kesuksesan, karena yang perlu dipahami adalah bahwa kesuksesan hidup tergantung pada seberapa cerdas kita mampu memanage-nya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-3399904045336257381?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/3399904045336257381/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/guru-matematika-teladan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/3399904045336257381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/3399904045336257381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/guru-matematika-teladan.html' title='Guru Matematika Teladan'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-2108863769331815682</id><published>2010-01-16T23:54:00.000-08:00</published><updated>2010-01-23T05:16:27.347-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SERBA SERBI'/><title type='text'>Remaja dan Ciri-Cirinya</title><content type='html'>&lt;b&gt;Pengertian Remaja&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Remaja dalam pengertian umum diartikan masa baliq atau keterbukaan terhadap lawan jenis. Konsep ini tidak jauh berbeda dengan Poerwadarminta (1984: 813) yang menyatakan remaja adalah: (1) Mulai dewasa; sudah sampai umur untuk kawin, (2) Muda (tentang anak laki-laki dan perempuan); mulai muncul rasa cinta birahi meskipun konsep ini&amp;nbsp; kelihatan sederhana tetapi setidaknya menggambarkan sebagaian dari pengertian remaja.&lt;br /&gt;Batasan remaja menurut Drajat (1989: 69) yaitu masa pemilihan yang ditempuh oleh seorang dari mana anak-anak menjadi dewasa. Dengan arti lain sebuah situasi yang menjembatangi menuju ke tingkat dewasa. Masa remaja ini berlansung kira-kira 13 tahun sampai 16 tahun atau 17 tahun. Akhir masa remaja antara usia 16 sampai 18 tahun&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; oleh Drajat (1989: 75). Dikatakan masa usia matang secara hukum pada masa ini remaja sangat ingin dihargai kehadirannya oleh orang sekitarnya.&lt;br /&gt;Pendapat yang tidak jauh berbeda juga dikemukakan oleh Suardi (1986: 98) yang menyatakan remaja adalah&amp;nbsp; masa perantara dari masa anak-anak menuju dewasa yang bersifat kompleks, menyita banyak perhatian dari remaja itu sendiri dengan orang lain, dan masa penyesuaian&amp;nbsp; diri terdidik. Selain itu, masa ini juga adalah masa konflik, terutama konflik&amp;nbsp; remaja dengan dirinya sendiri dengan remaja yang lain sehingga membutuhkan penanganan khusus yang menuntut tanggung jawab paripurna.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa defenisi remaja di atas dapat disimpulkan bahwa remaja adalah suatu masa atau periode menuju tahap dewasa yang ditandai dengan umur berkisar antara 13-18 tahun, mulai tertarik kepada lawan jenis, dan memiliki permasalahan yang kompleks. Guna kelengkapan pengertian remaja&amp;nbsp; dapat dilihat pada ciri-ciri remaja dalam berbagai sudut pandang berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ciri-Ciri Remaja&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mengenai ciri-ciri remaja tidak mesti dilihat dari satu sisi, tetapi dapat dilihat dari berbagai segi. Misalnya dari segi usia, perkembangan fisik, phisikis, dan perilaku. Menurut&amp;nbsp; Gayo (1990: 638-639) ciri-ciri remaja usianya berkisar 12-20 tahun yang dibagi dalam tiga fase yaitu; Adolensi diri, adolensi menengah, dan adolensi akhir. Penjelasan ketiga fase ini sebagai berikut..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Adolensi dini&lt;br /&gt;Fase ini berarti preokupasi seksual yang meninggi yang tidak jarang menurunkan daya kreatif/ ketekunan, mulai renggang dengan orang tuanya dan membentuk kelompok kawan atau sahabat karib, tinggah laku&amp;nbsp; kurang dapat dipertanggungjawabkan. Seperti perilaku di luar kebiasaan, delikuen,dan maniakal atau defresif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Adolensi menengah&lt;br /&gt;Fase ini memiliki umum: Hubungan dengan&amp;nbsp; kawan dari lawan jenis mulai meningkat pentingnya, fantasi dan fanatisme terhadap berbagai aliran, misalnya, mistik, musik, dan lain-lain. Menduduki tempat yang kuat dalam perioritasnya, politik dan kebudayaan mulai menyita perhatiannya sehingga kritik…..tidak jarang dilontarkan kepada keluarga dan masyarakat yang dianggap salah dan tidak benar, seksualitas mulai tampak dalam ruang atau skala identifikasi, dan desploritas lebih terarah untuk meminta bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3). Adolesensi akhir&lt;br /&gt;Masa ini remaja mulai lebih luas, mantap, dari dewasa dalam ruang lingkup penghayatannya .Ia lebih bersifat ‘menerima’dan ‘mengerti’ malahan sudah mulai menghargai sikap orang/pihak lain yang mungkin sebelumnya ditolak. Memiliki karier tertentu dan sikap kedudukan, kultural, politik, maupun etikanya lebih mendekati&amp;nbsp; orang tuanya. Bila kondisinya kurang menguntungkan, maka masa turut diperpanjang dengan konsekuensi .imitasi, bosan, dan merosot tahap kesulitan jiwanya. Memerlukan bimbingan dengan baik dan bijaksana, dari orang-orang di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argumen lain tentang ciri-ciri remaja dan berbagai sudut pandang dikemukakan oleh Mustaqim dan Abdul Wahid (1991:49-50). Menurutnya pada masa remaja umumnya telah duduk dalam bangku sekolah lanjutan. Pada permulaan periode anak mengalami perubahan-perubahan jasmani yang berwujud&amp;nbsp; tanda-tanda&amp;nbsp; kelamin sekunder seperti kumis, jenggot, atau suara berubah pada laki-laki. Lengan dan kaki mengalami pertumbuhan yang cepat sekali sehingga anak-anak menjadi canggung dan kaku. Kelenjar-kelenjar mulai tumbuh yang dapat menimbulkan gangguan phisikis anak.&lt;br /&gt;Perubahan rohani juga timbul remaja telah mulai berfikir abstrak, ingatan logis makin lama makin lemah. Pertumbuhan fungsi-fungsi psikis yang satu dengan yang lain tidak&amp;nbsp; dalam keadaan seimbang akibatnya anak sering mengalami pertentangan batin&amp;nbsp; dan gangguan, yang biasa disebut gangguan integrasi. Kehidupan sosial anak remaja juga berkembang sangat luas. Akibatnya anak berusaha melepaskan diri darikekangan orang tua untuk mendapatkan kebebasan, meskipun di sisi lain masih tergantung pada orang tua. Dengan demikian terjadi pertentangan antara hasrat kebebasan dan perasaan tergantung. (Mustaqim dan Abdul Wahid, 1991:50).&lt;br /&gt;Lebih lanjut dikatakan Mustaqim dan Abdul Wahid, pada masa remaja akhir umumnya telah mulai menemukan nilai-nilai hidup, cinta, persahabatan, agama, kesusilaan, kebenaran dan kebaikan. Masa ini biasa disebut masa pembentukan dan menentuan nilai dan cita-cita.Lain dari pada itu anak mulai berfikir tentang tanggung jawab sosial, agama moral, anak mulai berpandangan realistik, mulai mengarahkan perhatian pada teman hidupnya kelak, kematangan jasmani dan rohani, memiliki keyakinan dan pendirian yang tetap serta berusaha mengabdikan diri dimasyarakat&amp;nbsp; juga ciri remaja yang menonjol, tetapi hanya remaja yang sudah hampir masuk dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perkembangan Remaja dan Aspek-Aspeknya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Perkembangan Fisik&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan fisik sudah di mulai pada masa praremaja dan terjadi cepat pada masa remaja awal yang akan makin sempurna pada masa remaja pertengahan dan remaja akhir. Cole (dalam monks, 2002:16) berpendapat bahwa perkembangan fisik merupakan dasar dari perkembangan aspek lain yang mencakup perkembangan psikis dan sosialis. Artinya jika perkembangan fisik berjalan secara baik dan lancar, maka perkembangan psikis dan sosial juga akan lancar. Jika perkembangan fisik terhambat sulit untuk mendapat tempat yang wajar dalam kehidupan masyarakat dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Perkembangan Kognitif Remaja&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan kognitif remaja menurut Piaget (dalam Elisabet,1999:117) menjelaskan bahwa selama tahap operasi formal yang terjadi sekiyar usia 11-15 tahun. Seorang anak mengalami perkembangan penalaran dan kemampuan berfikir untuk memecahkan persoalan yang dihadapinya berdasarkan pengalaman langsung. Struktur kognitif anak mencapai pematangan pada tahap ini. Potensi kualitas penalaran dan berfikir (reasoning dan thinking) berkembang secara maksimum. Setelah potensi perkembangan maksimum ini terjadi, seorang anak tidak lagi mengalami perbaikan struktural dalam kualitas penalaran pada tahap perkembangan selanjutnya.&lt;br /&gt;Remaja yang sudah mencapai perkembangan operasi formal secara maksimum mempunyai kelengkapan struktural kognitif sebagai mana halnya orang dewasa. Namun, hal itu tidak berarti bahwa pemikiran (thinking) remaja dengan penalaran formal (formal reasoning) sama baiknya dengan pemikiran aktual orang dewasa karena hanya secara potensial sudah tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Perkembangan Emosi Remaja&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emosi merupakan salah satu aspek psikologis manusia dalam ranah efektif. Aspek psikologis ini sangat berperan penting dalam kehidupan manusia pada umumnya, dan dalam hubungannya dengan orang lain pada khususnya. Keseimbangan antar ketiga ranah psikologis sangat di butuhkan sehingga manusia dapat berfungsi dengan tepat sesuai dengan stimulus yang di hadapinya.&lt;br /&gt;Prawitasari (dalam Zailani, 1887:85) mengembangkan alat pengungkap emosi dasar manusia berupa foto-foto sebagai ekspresi wajah dari berbagai model dasar manusia yaitu : senang, sedih, terkejut, jijik, marah, takut dan malu.&lt;br /&gt;Pada masa remaja, ekspresi emosi yang nampak kadang-kadang tidak mengembangkan kondisi emosi yang sebenarnya, misalnya orang yang marah&amp;nbsp; seribu bahasa. Ekspresi emosi sifatnya sangat individual atau subjektif, tergantung pada kondisi pribadi masing-masing orang.&lt;br /&gt;Manifestasi emosi yang sering muncul pada remaja termasuk &lt;em&gt;higtened emotionality&lt;/em&gt; atau meningkatkan emosi yaitu kondisi emosinya berbeda dengan keadaan sebelumnya. Ekspresi meningkatnya emosi ini dapat berupa sikap binggung, emosi meledak-ledak, suka berkelahi, tidak ada nafsu makan, tidak punya gairah apapun, atau mungkin sebaliknya melarikan diri membaca buku. Di samping kondisi emosi yang meningkat, juga masih dijumpai beberapa emosi yang menonjol pada remaja termasuk khawatir, cemas, jengkel, frustasi cemburu, iri, rasa ingin tahu, dan afeksi, atau rasa kasih sayang dan perasaan bahagia. (Zaenuddin, 2004: 111).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-2108863769331815682?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/2108863769331815682/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/remaja-dan-ciri-cirinya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/2108863769331815682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/2108863769331815682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/remaja-dan-ciri-cirinya.html' title='Remaja dan Ciri-Cirinya'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-3513722223193098344</id><published>2010-01-16T23:38:00.000-08:00</published><updated>2010-01-23T22:56:53.625-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MATEMATIKA'/><title type='text'>Mencari Akar Pangkat Tiga Sebuah Bilangan</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;Mencari nilai dari &lt;img alt="\sqrt[3]{100}" class="latex" src="http://l.wordpress.com/latex.php?latex=%5Csqrt%5B3%5D%7B100%7D&amp;amp;bg=ffffff&amp;amp;fg=444444&amp;amp;s=0" title="\sqrt[3]{100}" /&gt;, secara geometris, berarti menentukan panjang rusuk sebuah kubus yang volumnya adalah &lt;img alt="100" class="latex" src="http://l.wordpress.com/latex.php?latex=100&amp;amp;bg=ffffff&amp;amp;fg=444444&amp;amp;s=0" title="100" /&gt; satuan volum. Dengan menggunakan sedikit kemampuan menaksir (memperkirakan), maka dengan mudah kita dapatkan bahwa perkiraan panjang rusuk sebuah kubus–yang mempunyai volum 100 satuan volum– adalah 4, 64… satuan panjang. Sehingga, kita bisa menyimpulkan bahwa nilai dari &lt;img alt="\sqrt[3]{100}" class="latex" src="http://l.wordpress.com/latex.php?latex=%5Csqrt%5B3%5D%7B100%7D&amp;amp;bg=ffffff&amp;amp;fg=444444&amp;amp;s=0" title="\sqrt[3]{100}" /&gt; kira-kira adalah 4, 64…&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Cara lain&lt;/span&gt; untuk mempermudah dalam menentukan akar pangkat tiga sebuah bilangan adalah dengan menggunakan bantuan sifat-sifat logaritma–dipelajari di tingkat SMA (Sekolah Menengah Atas). Untuk kasus di atas, dalam menentukan &lt;img alt="\sqrt[3]{100}" class="latex" src="http://l.wordpress.com/latex.php?latex=%5Csqrt%5B3%5D%7B100%7D&amp;amp;bg=ffffff&amp;amp;fg=444444&amp;amp;s=0" title="\sqrt[3]{100}" /&gt; adalah sebagai berikut..&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Misalkan &lt;img alt="x = \sqrt[3]{100}" class="latex" src="http://l.wordpress.com/latex.php?latex=x+%3D+%5Csqrt%5B3%5D%7B100%7D&amp;amp;bg=ffffff&amp;amp;fg=444444&amp;amp;s=0" title="x = \sqrt[3]{100}" /&gt;, maka dengan menggunakan sifat-sifat logaritma, kita bisa menulis seperti berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;log &lt;img alt="x =" class="latex" src="http://l.wordpress.com/latex.php?latex=x+%3D&amp;amp;bg=ffffff&amp;amp;fg=444444&amp;amp;s=0" title="x =" /&gt;  log &lt;img alt="\sqrt[3]{100}" class="latex" src="http://l.wordpress.com/latex.php?latex=%5Csqrt%5B3%5D%7B100%7D&amp;amp;bg=ffffff&amp;amp;fg=444444&amp;amp;s=0" title="\sqrt[3]{100}" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;log &lt;img alt="x =" class="latex" src="http://l.wordpress.com/latex.php?latex=x+%3D&amp;amp;bg=ffffff&amp;amp;fg=444444&amp;amp;s=0" title="x =" /&gt;  log &lt;img alt="100^{\frac{1}{3}}" class="latex" src="http://l.wordpress.com/latex.php?latex=100%5E%7B%5Cfrac%7B1%7D%7B3%7D%7D&amp;amp;bg=ffffff&amp;amp;fg=444444&amp;amp;s=0" title="100^{\frac{1}{3}}" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;log &lt;img alt="x = \frac{1}{3}" class="latex" src="http://l.wordpress.com/latex.php?latex=x+%3D+%5Cfrac%7B1%7D%7B3%7D&amp;amp;bg=ffffff&amp;amp;fg=444444&amp;amp;s=0" title="x = \frac{1}{3}" /&gt;  log &lt;img alt="100" class="latex" src="http://l.wordpress.com/latex.php?latex=100&amp;amp;bg=ffffff&amp;amp;fg=444444&amp;amp;s=0" title="100" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;log &lt;img alt="x = \frac{1}{3} .2" class="latex" src="http://l.wordpress.com/latex.php?latex=x+%3D+%5Cfrac%7B1%7D%7B3%7D+.2&amp;amp;bg=ffffff&amp;amp;fg=444444&amp;amp;s=0" title="x = \frac{1}{3} .2" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;log &lt;img alt="x = \frac{2}{3}" class="latex" src="http://l.wordpress.com/latex.php?latex=x+%3D+%5Cfrac%7B2%7D%7B3%7D&amp;amp;bg=ffffff&amp;amp;fg=444444&amp;amp;s=0" title="x = \frac{2}{3}" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;log&lt;img alt="x = 0,666..." class="latex" src="http://l.wordpress.com/latex.php?latex=x+%3D+0%2C666...&amp;amp;bg=ffffff&amp;amp;fg=444444&amp;amp;s=0" title="x = 0,666..." /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan menggunakan tabel logaritma, anti logaritma dari log &lt;img alt="x = 0,666..." class="latex" src="http://l.wordpress.com/latex.php?latex=x+%3D+0%2C666...&amp;amp;bg=ffffff&amp;amp;fg=444444&amp;amp;s=0" title="x = 0,666..." /&gt; kira-kira adalah &lt;img alt="x = 4, 642" class="latex" src="http://l.wordpress.com/latex.php?latex=x+%3D+4%2C+642&amp;amp;bg=ffffff&amp;amp;fg=444444&amp;amp;s=0" title="x = 4, 642" /&gt;. Dengan demikian, &lt;img alt="x = \sqrt[3]{100} = 4, 642" class="latex" src="http://l.wordpress.com/latex.php?latex=x+%3D+%5Csqrt%5B3%5D%7B100%7D+%3D+4%2C+642&amp;amp;bg=ffffff&amp;amp;fg=444444&amp;amp;s=0" title="x = \sqrt[3]{100} = 4, 642" /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nah, untuk kasus yang lain dapat ditangani dengan cara yang serupa dengan memanfaatkan sifat-sifat logaritma. Dengan menggunakan cara serupa di atas (menggunakan sifat-sifat logaritma), kita pun dapat menentukan akar pangkat ke-n dari suatu bilangan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan menggunakan tabel logaritma, anti logaritma dari log &lt;img alt="x = 0,666..." class="latex" src="http://l.wordpress.com/latex.php?latex=x+%3D+0%2C666...&amp;amp;bg=ffffff&amp;amp;fg=444444&amp;amp;s=0" title="x = 0,666..." /&gt; kira-kira adalah &lt;img alt="x = 4, 642" class="latex" src="http://l.wordpress.com/latex.php?latex=x+%3D+4%2C+642&amp;amp;bg=ffffff&amp;amp;fg=444444&amp;amp;s=0" title="x = 4, 642" /&gt;. Dengan demikian, &lt;img alt="x = \sqrt[3]{100} = 4, 642" class="latex" src="http://l.wordpress.com/latex.php?latex=x+%3D+%5Csqrt%5B3%5D%7B100%7D+%3D+4%2C+642&amp;amp;bg=ffffff&amp;amp;fg=444444&amp;amp;s=0" title="x = \sqrt[3]{100} = 4, 642" /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nah, untuk kasus yang lain dapat ditangani dengan cara yang serupa dengan memanfaatkan sifat-sifat logaritma. Dengan menggunakan cara serupa di atas (menggunakan sifat-sifat logaritma), kita pun dapat menentukan akar pangkat ke-n dari suatu bilangan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi Anda yang kesulitan mengikuti proses penentuan akar pangkat tiga–dengan menggunakan sifat-sifat logaritma, saya mohon maaf, karena salah satu caranya memang begitu yakni: menggunakan sifat-sifat logaritma yang dipelajari di tingkat SMA.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi Anda yang memiliki cara lain, saya undang untuk menginformasikannya di kolom komentar. Terima kasih ! &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-3513722223193098344?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/3513722223193098344/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/mencari-akar-pangkat-tiga-sebuah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/3513722223193098344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/3513722223193098344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/mencari-akar-pangkat-tiga-sebuah.html' title='Mencari Akar Pangkat Tiga Sebuah Bilangan'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-3496547602485774549</id><published>2010-01-15T13:51:00.000-08:00</published><updated>2010-01-23T05:18:56.648-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SERBA SERBI'/><title type='text'>Menulis Cerita Hidup</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost" style="text-align: justify;"&gt;Menuliskan cerita hidup&lt;br /&gt;Seakan tak ada titik di ujung kalimat&lt;br /&gt;Terus menerus mengalir&lt;br /&gt;Deras, deras, tak melambat…&lt;br /&gt;Bagai air yang terjun bebas tanpa henti&lt;br /&gt;Jauh, terus menjauh, tak mendekat…&lt;br /&gt;Bagai burung yang bermigrasi ke benua lain&lt;br /&gt;Terbang tak ingin kembali&lt;br /&gt;Begitupun cerita hidupku&lt;br /&gt;Terus berjalan melalui hari&lt;br /&gt;Sejalur dengan rel yang telah berkarat&lt;br /&gt;Namun khianat juga bersanding dengannya&lt;br /&gt;Menulis cerita hidup&lt;br /&gt;Seperti menulis cerita berulang&lt;br /&gt;Tapi tidak di tempat yang sama&lt;br /&gt;Tidak dengan obyek yang sama&lt;br /&gt;Menulis cerita hidup&lt;br /&gt;Seperti hitungan matematika yang paling rumit&lt;br /&gt;Menguraikan rumus hidup yang paling tepat&lt;br /&gt;Tapi tidak pernah dapat nilai 100 sempurna&lt;br /&gt;Menulis cerita hidup&lt;br /&gt;Sangat sulit&lt;br /&gt;Sampai aku tak tahu kapan berhenti…&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" style="text-align: justify;"&gt;Karena tak semua cerita hidup berujung kebahagiaan di dunia.. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-3496547602485774549?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/3496547602485774549/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/menulis-cerita-hidup.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/3496547602485774549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/3496547602485774549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/menulis-cerita-hidup.html' title='Menulis Cerita Hidup'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-7267300434757095044</id><published>2010-01-15T13:27:00.000-08:00</published><updated>2010-01-23T05:21:16.730-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SERBA SERBI'/><title type='text'>Cinta Itu Seperti Menunggu Bis Saja</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Sebuah bis datang, dan kau bilang, "Wah...terlalu sumpek dan panas, nggak bisa duduk nyaman nih! aku tunggu bis berikutnya saja" &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kemudian, bis berikutnya datang. Kamu melihatnya dan berkata, "Aduh bisnya kurang asik nih dan kok gak cakep begini... nggak mau ah.." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Bis selanjutnya datang, cool dan kau berminat, tapi dia seakan-akan tidak melihatmu dan melewatimu begitu saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Bis keempat berhenti di depan kamu. Bis itu kosong, cukup bagus, tapi kamu bilang, "Nggak ada AC nih, gua bisa kepanasan". Maka kamu membiarkan bis keempat pergi.. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Waktu terus berlalu, kamu mulai sadar bahwa kamu bisa terlambat pergi ke kantor. Ketika bis kelima datang, kau sudah tak sabar, kamu langsung melompat masuk ke dalamnya. Setelah beberapa lama, kamu akhirnya sadar kalau kamu salah menaiki bis. Bis tersebut jurusannya bukan yang kau tuju! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dan kau baru sadar telah menyiakan waktumu sekian lama.. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Moral dari cerita ini, sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar 'ideal' untuk menjadi pasangan hidupnya. Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi keidealan kita. Dan kau pun sekali-kali tidak akan pernah bisa menjadi 100% sesuai keinginan dia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tidak ada salahnya memiliki persyaratan untuk 'calon', tapi tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada yang berhenti di depan kita. Tentunya dengan jurusan yang sama seperti yang kita tuju. Apabila ternyata memang tidak cocok, apa boleh buat.. tapi kau masih bisa berteriak 'Kiri !' dan keluar dengan sopan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Maka memberi kesempatan pada yang berhenti di depanmu, semuanya bergantung pada keputusanmu. Daripada kita harus jalan kaki sendiri menuju kantormu, dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Cerita ini juga berarti, kalau kau benar-benar menemukan bis yang kosong, kau sukai dan bisa kau percayai, dan tentunya sejurusan dengan tujuanmu, kau dapat berusaha sebisamu untuk menghentikan bis tersebut di depanmu. Untuk dia memberi kesempatan kau masuk ke dalamnya. Karena menemukan yang seperti itu adalah suatu berkah yang sangat berharga dan sangat berarti. Bagimu sendiri, dan bagi dia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Bis seperti apa yang kau tunggu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;( btw...penulis sendiri juga lagi bingung menentukan bis yang tepat neh, hahaha.....^_^ ) &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-7267300434757095044?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/7267300434757095044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/cinta-itu-seperti-menunggu-bis-saja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/7267300434757095044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/7267300434757095044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/cinta-itu-seperti-menunggu-bis-saja.html' title='Cinta Itu Seperti Menunggu Bis Saja'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-3483214310760440447</id><published>2010-01-15T12:55:00.001-08:00</published><updated>2010-01-23T05:22:17.007-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><title type='text'>Kritik atas lemahnya peran posisi mahasiswa</title><content type='html'>&lt;strong&gt;‘Konsep diri’; kritik atas lemahnya peran posisi mahasiswa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/strong&gt;Setiap kali organisasi-organisasi kampus mengadakan pelatihan, kaderisasi, atau sekedar outbond, panitia selalu memberikan materi mengenai konsep diri, motivasi, atau yang paling disukai mahasiswa baru yaitu berbicara mengenai jati diri. Sebuah materi yang biasanya membuat peserta tertegun pada penjelasan pemateri yang ‘berapi-api’, karena materi yang disajikan penuh misteri, sangat filosofik dengan penjelasan yang rumit membingungkan sehingga peserta dituntut harus konsentrasi penuh pada materinya. Seakan membenarkan anggapan bahwa sesuatu yang rumit menjadi hal yang benar adanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jika materi selesai disajikan biasanya peserta masih meneruskan pembicaraan mengenai jati diri dengan kawan-kawannya dan menjadi bahan diskusi yang mengasyikkan dan tak pernah selesai ujungnya, ironisnya diskusi selalu berakhir dengan kata-kata, “Yah, manusia memang penuh misteri”, atau “tidak ada kebenaran yang mutlak, yang mutlak adalah tuhan”, dus keesokan harinya berlanjut diskusi tentang kekuasaan tuhan, begitu seterusnya, tidak akan ada habisnya! Fenomena ini menjadi jamak kita saksikan disetiap kampus. Beberapa kelompok mahasiswa memandang bahwa kajian tersebut adalah kajian yang ‘nglenik’ yang dilakukan oleh orang-orang yang hipokrit, kajian yang tidak layak masuk wilayah kampus, karena tidak objektif dan tidak rasional, sangat bertolak belakang dengan Ilmu pengetahuan ilmiah yang seharusnya menjadi pijakan mahasiswa memandang segala sesuatu hal.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Peran dan Posisi Mahasiswa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Fakta sejarah yang memandang bahwa mahasiswa (kaum muda) adalah Agent of Change bangsa ini tidak bisa dipungkiri. Sejak kemerdekaan diproklamirkan, turunnya Soekarno sampai dengan peristiwa ’98 adalah mahasiswa (kaum muda) yang memeloporinya. Mahasiswa dipandang sebagai sekelompok orang yang memiliki akal dan pikiran yang ‘lebih’ dari orang-orang awam lainnya. intektual yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi, dimana intelektualitasnya mampu mengangkat derajat masyarakat luas. Dengan analisa dan kritiknya, mahasiswa tidak pernah tunduk diam ketika rakyat ‘didzalimi’ negara dengan berbagai bentuk kebijakannya. Bahkan mahasiswa berani mengorbankan darah dan nyawanya sebagai prasyarat perubahan sosial.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kita ingat berapa orang yang gugur ketika kaum muda mempertahankan kemerdekaan, siapa yang berdiri paling depan ketika Sukarno dituntut untuk mundur, berapa orang yang diculik dan dibunuh semasa pemerintahan soeharto hingga dengan saat ini masih belum ada kejelasannya, dengan harapan munculnya perubahan adil dan sejahtera bagi rakyat. Cita-cita sosial yang dimiliki mahasiswa adalah bukti konkret bahwa mahasiswa bukan lagi siswa didik yang terus ‘diakal-akali’ oleh gurunya, tapi merupakan seseorang yang memiliki moralitas tinggi dan intelektualitas yang siap didedikasikan bagi rakyat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pertanyaannya apa hubungan antara sejarah panjang mahasiswa dengan fenomena di awal tulisan ini? Benang merahnya adalah hari ini, mahasiswa semakin melupakan tradisi ‘Agent of Change’-nya, dan lebih menyukai perbincangan yang tidak jelas juntrungannya yang hanya akan membawa mahasiswa menjadi intelektual salon, intelektual yang hanya pandai beronani gagasan di lorong-lorong kampus. Dimana topik diskusi tidak ada hubungannya sekaligus tidak mencerminkan realitas di luar kampusnya. Mengutip istilah Gramsci, kaum muda seakan berada di menara gading, sangat jauh dengan realitas di sekelilingnya. Dan yang memprihatinkan lagi ketika mahasiswa diharuskan terjun di realitas sosial saat mereka lulus kuliah, yang terjadi adalah dunia di luar dirinya ternyata berbanding terbalik dengan pemahaman yang selama ini diyakininya. Boro-boro simpatik terhadap meluasnya penindasan yang terjadi di rakyat, berpikir tentang memenuhi kebutuhan hidupnya saja sulit, dikarenakan lapangan pekerjaan yang sangat kompetitif. Kalau sudah begitu siapa yang patut disalahkan?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jika hal ini diungkap di kalangan mahasiswa maka penulis menuai banyak hujatan, cacian dan makian. Pertanyaan yang sering muncul biasanya “lho, bukankah untuk kritis terhadap realitas sosial harus dibekali dengan konsep diri atau jati diri yang mantap?” “Untuk itu harus dituntaskan dulu jati diri kita!!”. Kalau begitu adanya maka sampai kapan jati diri atau konsep diri yang ideal akan mampu kita temukan, dan hal yang paling terpenting apakah penelaahan itu sesuai dengan kaidah ilmu pengetahuan ilmiah?? Kalau sudah kenapa diskusinya tidak selesai-selesai? Kenapa kok belum ada solusi yang dihasilkan? Terus kenapa topik diskusinya semakin hari semakin membingungkan? Atau jangan-jangan cuma asal omong ngalor ngidul biar terlihat keren?!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Salah satu komponen dasar konsep diri menurut Staines, adalah diri yang dikognisikan atau diri yang dasar yaitu pandangan yang digambarkan oleh inidividu tentang diri sendiri; pemikiran atau persepsi individu mengenai kemampuan, status, dan peranan individu dalam berhubungan dengan dunia luar. Jika seseorang dituntut mempunyai konsep diri yang positif (sebetulnya penulis juga riskan menggunakan istilah positif) maka paling tidak harus memenuhi kriteria diatas. Pertama, paham betul akan kemampuan dirinya, karena kemampuan ini akan mendorong seseorang mencapai apa yang menjadi orientasinya. Kedua, status sosial yang dipinggulnya. Secara sosiologis mahasiswa bukan dalam status sosial tertentu, mahasiswa adalah mahasiswa, dengan tugas-tugas sebagai mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jika dua hal ini dipahami dengan baik maka Ketiga, peranan terhadap dunia luar akan sanggup dilakukan. Akhir kata, tidak ada konsep diri yang seharusnya menjadi trademark mahasiswa selain memahami betapa penting perannya dalam realitas sosial dan memposisikan diri sebagai orang yang mampu melakukan perubahan sosial. Sekecil apapun perubahan itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tentunya kita sepakat dengan Erich Fromm, bahwa manusia adalah makhluk sosial. Adalah sejarah dunia kapitalistik-lah yang membuat manusia menjadi sangat individualis. Maka mahasiswa sudah seharusnya tetap terus berdiri sebagai senjata pemusnah tembok besar bernama kapitalisme, demi sebuah pemirintahan yang adil sejahtera secara ekonomi dan demokratis secara social politik. HANYA UNTUK RAKYAT! &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-3483214310760440447?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/3483214310760440447/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/kritik-atas-lemahnya-peran-posisi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/3483214310760440447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/3483214310760440447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/kritik-atas-lemahnya-peran-posisi.html' title='Kritik atas lemahnya peran posisi mahasiswa'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-4605119539562121614</id><published>2010-01-14T20:33:00.000-08:00</published><updated>2010-01-23T22:57:53.536-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KESEHATAN'/><title type='text'>Manfaat " COKELAT " Bagi Kesehatan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S0_vxJ8j3cI/AAAAAAAAAGM/oY6O1Sfoyeg/s1600-h/chocolate.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S0_vxJ8j3cI/AAAAAAAAAGM/oY6O1Sfoyeg/s320/chocolate.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Kata coklat berasal dari &lt;i&gt;xocoatl&lt;/i&gt; (bahasa suku Aztec) yang berarti minuman pahit. Suku Aztec dan Maya di Mexico percaya bahwa Dewa Pertanian telah mengirimkan coklat yang berasal dari surga kepada mereka. Cortes kemudian membawanya ke Spanyol antara tahun 1502-1528, dan oleh orang-orang Spanyol minuman pahit tersebut dicampur gula sehingga rasanya lebih enak. Coklat kemudian menyebar ke Perancis, Belanda dan Inggris. Pada tahun 1765 didirikan pabrik coklat di Massachusetts, Amerika Serikat.&lt;span class="hidenpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya coklat tidak hanya menjadi minuman tetapi juga menjadi snack yang disukai anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Selain rasanya enak, coklat ternyata berkhasiat membuat umur seseorang menjadi lebih panjang. Suatu studi epidemiologis telah dilakukan pada mahasiswa Universitas Harvard yang terdaftar antara tahun 1916-1950. Dengan menggunakan food frequency questionnaire berhasil dikumpulkan informasi tentang kebiasaan makan permen atau coklat pada mahasiswa Universitas Harvard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengontrol aktivitas fisik yang dilakukan, kebiasaan merokok, dan kebiasaan makan ditemukan bahwa mereka yang suka makan permen/coklat umurnya lebih lama satu tahun dibandingkan bukan pemakan. Diduga antioksidan fenol yang terkandung dalam coklat adalah penyebab mengapa mereka bisa berusia lebih panjang. Fenol ini juga banyak ditemukan pada anggur merah yang sudah sangat dikenal sebagai minuman yang baik untuk kesehatan jantung. Coklat mempunyai kemampuan untuk menghambat oksidasi kolesterol LDL (kolesterol jahat) dan meningkatkan fungsi kekebalan tubuh, sehingga dapat mencegah risiko penyakit jantung koroner dan kanker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini ada pandangan bahwa permen coklat menyebabkan caries pada gigi dan mungkin juga bertanggung jawab terhadap munculnya masalah kegemukan. Tak dapat disangkal lagi bahwa kegemukan adalah salah satu faktor risiko berbagai penyakit degeneratif. Tetapi studi di Universitas Harvard ini menunjukkan bahwa jika Anda mengimbangi konsumsi permen coklat dengan aktivitas fisik yang cukup dan makan dengan menu seimbang, maka dampak negatip permen coklat tidak perlu terlalu dikhawatirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kepercayaan suku Maya, coklat adalah makanan para dewa. Rasa asli biji coklat sebenarnya pahit akibat kandungan alkaloid, tetapi setelah melalui rekayasa proses dapat dihasilkan coklat sebagai makanan yang disukai oleh siapapun. Biji coklat mengandung lemak 31%, karbohidrat 14% dan protein 9%. Protein coklat kaya akan asam amino triptofan, fenilalanin, dan tyrosin. Meski coklat mengandung lemak tinggi namun relatif tidak mudah tengik karena coklat juga mengandung polifenol (6%) yang berfungsi sebagai antioksidan pencegah ketengikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika Serikat konsumsi coklat hanya memberikan kontribusi 1% terhadap intake lemak total sebagaimana dinyatakan oleh National Food Consumption Survey (1987-1998). Jumlah ini relatif sedikit khususnya bila dibandingkan dengan kontribusi daging (30%), serealia (22%), dan susu (20%). Lemak pada coklat, sering disebut cocoa butter, sebagian besar tersusun dari lemak jenuh (60%) khususnya stearat. Tetapi lemak coklat adalah lemak nabati yang sama sekali tidak mengandung kolesterol. Untuk tetap menekan lemak jenuh agar tidak terlalu tinggi, ada baiknya membatasi memakan cokelat hanya satu batang saja per hari dan mebatasi mengkonsumsi suplement atau makanan lainnya yang mengandung catechin seperti apple dan teh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian yang melibatkan subyek manusia, ditemukan bahwa konsumsi lemak coklat menghasilkan kolesterol total dan kolesterol LDL yang lebih rendah dibandingkan konsumsi mentega ataupun lemak sapi. Jadi meski sama-sama mengandung lemak jenuh tetapi ternyata efek kolesterol yang dihasilkan berbeda. Kandungan stearat yang tinggi pada coklat disinyalir menjadi penyebab mengapa lemak coklat tidak sejahat lemak hewan. Telah sejak lama diketahui bahwa stearat adalah asam lemak netral yang tidak akan memicu kolesterol darah. Mengapa? Stearat ternyata dicerna secara lambat oleh tubuh kita dan juga diabsorpsi lebih sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertiga lemak yang terdapat dalam coklat adalah asam oleat yaitu asam lemak tak jenuh. Asam oleat ini juga dominan ditemukan pada minyak zaitun. Studi epidemiologis pada penduduk Mediterania yang banyak mengkonsumsi asam oleat dari minyak zaitun menyimpulkan efek positip oleat bagi kesehatan jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering timbul pertanyaan seberapa banyak kita boleh mengkonsusmi coklat? Tidak ada anjuran gizi yang pasti untuk ini, namun demikian makan coklat 2-3 kali seminggu atau minum susu coklat tiap hari kiranya masih dapat diterima. Prinsip gizi sebenarnya mudah yaitu makanlah segala jenis makanan secara moderat. Masalah gizi umumnya timbul bila kita makan terlalu banyak atau terlalu sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan coklat tidak akan menimbulkan kecanduan, tetapi bagi sebagian orang rasa coklat yang enak mungkin menyebabkan kerinduan untuk mengkonsumsinya kembali. Ini yang disebut chocolate craving. Dampak coklat terhadap perilaku dan suasana hati (mood) terkait erat dengan chocolate craving. Rindu coklat bisa karena aromanya, teksturnya, manis-pahitnya dsb. Hal ini juga sering dikaitkan dengan kandungan phenylethylamine yang adalah suatu substansi mirip amphetanine yang dapat meningkatkan serapan triptofan ke dalam otak yang kemudian pada gilirannya menghasilkan dopamine. Dampak dopamine adalah muncul perasaan senang dan perbaikan suasana hati. Phenylethylamine juga dianggap mempunyai khasiat aphrodisiac yang memunculkan perasaan seperti orang sedang jatuh cinta (hati berbunga). Konon Raja Montezuma di jaman dahulu selalu mabuk minuman coklat sebelum menggilir harem-haremnya yang berbeda setiap malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katekin adalah antioksidan kuat yang terkandung dalam coklat. Salah satu fungsi antioksidan adalah mencegah penuaan dini yang bisa terjadi karena polusi ataupun radiasi. Katekin juga dijumpai pada teh meski jumlahnya tidak setinggi pada coklat. Orang tua jaman dahulu sering mempraktekkan cuci muka dengan air teh karena dapat membuat kulit muka bercahaya dan awet muda. Seandainya mereka tahu bahwa coklat mengandung katekin lebih tinggi daripada teh, mungkin mereka akan menganjurkan mandi lulur dengan coklat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coklat juga mengandung theobromine dan kafein. Kedua substansi ini telah dikenal memberikan efek terjaga bagi yang mengkonsumsinya. Oleh karena itu ketika kita terkantuk-kantuk di bandara atau menunggu antrian panjang, makan coklat cukup manjur untuk membuat kita bergairah kembali.&lt;br /&gt;Belum ada bukti bahwa coklat menimbulkan jerawat. Coklat juga tidak bisa dikatakan sebagai penyebab utama munculnya plaque gigi karena plaque gigi juga bisa timbul pada orang yang mengkonsumsi makanan biasa sehari-hari. Hanya saja coklat perlu diwaspadai, khususnya bagi orang-orang yang rentan menderita batu ginjal. Konsumsi 100 g coklat akan meningkatkan ekskresi oksalat dan kalsium tiga kali lipat. Oleh karena itu kiat sehat yang bisa dianjurkan adalah minumlah banyak air sehabis makan coklat.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-4605119539562121614?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/4605119539562121614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/manfaat-cokelat-bagi-kesehatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/4605119539562121614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/4605119539562121614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/manfaat-cokelat-bagi-kesehatan.html' title='Manfaat &quot; COKELAT &quot; Bagi Kesehatan'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S0_vxJ8j3cI/AAAAAAAAAGM/oY6O1Sfoyeg/s72-c/chocolate.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-2477264424674968238</id><published>2010-01-14T07:47:00.000-08:00</published><updated>2010-01-23T22:58:48.959-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MATEMATIKA'/><title type='text'>PROBLEM POSING PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA</title><content type='html'>&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}p.MsoBodyTextIndent3, li.MsoBodyTextIndent3, div.MsoBodyTextIndent3	{mso-style-unhide:no;	mso-style-link:"Body Text Indent 3 Char";	margin-top:0cm;	margin-right:0cm;	margin-bottom:0cm;	margin-left:12.0pt;	margin-bottom:.0001pt;	text-align:justify;	text-indent:-12.0pt;	line-height:200%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}span.BodyTextIndent3Char	{mso-style-name:"Body Text Indent 3 Char";	mso-style-unhide:no;	mso-style-locked:yes;	mso-style-link:"Body Text Indent 3";	mso-ansi-font-size:12.0pt;	mso-bidi-font-size:12.0pt;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent3" style="margin-left: 0cm; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;Suryanto (Sutiarso: 2000) mengemukakan bahwa problem posing merupakan istilah dalam bahasa Inggris, sebagai padanan katanya digunakan istilah “merumuskan masalah (soal)” atau “membuat masalah (soal)”. Sedangkan menurut Silver (Sutiarso: 2000) bahwa dalam pustaka pendidikan matematika, problem posing mempunyai tiga pengertian, yaitu: &lt;i&gt;pertama&lt;/i&gt;, problem posing adalah perumusan soal sederhana atau perumusan ulang soal yang ada dengan beberapa perubahan agar lebih sederhana dan dapat dipahami dalam rangka memecahkan soal yang rumit (problem posing sebagai salah satu langkah problem solving). &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, problem adalah perumusan soal yang berkaitan dengan syarat-syarat pada pada soal yang telah dipecahkan dala rangka mencari alternatif pemecahan lain (sama dengan mengkaji kembali langkah problem solving yang telah dilakukan). &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="line-height: 200%;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV" style="line-height: 200%;"&gt;, problem posing adalah merumuskan atau membuat soal dari situasi yang diberikan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent3" style="margin-left: 0cm; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;o:smarttagtype name="City" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="place" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}p.MsoBodyTextIndent3, li.MsoBodyTextIndent3, div.MsoBodyTextIndent3	{mso-style-unhide:no;	mso-style-link:"Body Text Indent 3 Char";	margin-top:0cm;	margin-right:0cm;	margin-bottom:0cm;	margin-left:12.0pt;	margin-bottom:.0001pt;	text-align:justify;	text-indent:-12.0pt;	line-height:200%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}span.BodyTextIndent3Char	{mso-style-name:"Body Text Indent 3 Char";	mso-style-unhide:no;	mso-style-locked:yes;	mso-style-link:"Body Text Indent 3";	mso-ansi-font-size:12.0pt;	mso-bidi-font-size:12.0pt;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent3" style="margin-left: 0cm; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="line-height: 200%;"&gt;Sesuai dengan kedudukan problem posing merupakan langkah awal dari problem solving, maka pembelajaran problem posing juga merupakan pengembangan dari pembelajaran problem solving. Silver dkk (Sutiarso: 2000) menyatakan bahwa dalam problem posing diperlukan kemampuan siswa dalam memahami soal, merencanakan langkah-langkah penyelesaian soal, dan menyelesaikan soal tersebut. Ketiga kemampuan tersebut merupakan juga merupakan sebagian dari langkah-langkah pembelajaran problem solving.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent3" style="margin-left: 0cm; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="line-height: 200%;"&gt;Mengenai keterkaitan antara problem solving dengan problem posing, Brown &amp;amp; Walter (1993: 21) mengemukakn bahwa posing dan solving berhubungan antara satu dengan yang lainnya seperti orang tua terhadap anak, anak terhadap orang tua dan sebaik saudara kandung. Penelitian Silver dan Cai (1996: 521) menemukan hubungan positif yang kuat&amp;nbsp; antara &lt;i&gt;problem solving&lt;/i&gt; dan ketrampilan &lt;i&gt;problem posing&lt;/i&gt; anak sekolah menengah.&amp;nbsp; Sedangkan penelitian Hashimoto (Silver dan Cai, 1996: 522) menunjukkan bahwa pembelajaran problem solving menimbulkan dampak positif terhadap kemampuan siswa dalam problem solving.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Mengenai peranan problem posing dalam pembelajaran matematika, Sutiarso (2000) menjelaskan bahwa problem posing adalah adalah suatu bentuk pendekatan dalam pembelajaran matematika yang menekankan pada perumusan soal, yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir matematis atau menggunakan pola pikir matematis. Hal ini sejalan dengan English (1998) yang menjelaskan bahwa problem posing adalah penting dalam kurikulum matematika karena di dalamnya terdapat inti dari aktivitas matematika, termasuk aktivitas dimana siswa membangun masalahnya sendiri. Silver (1994) dan Simon (1993) mengemukakn bahwa beberapa aktivitas problem posing mempunyai tambahan manfaat pada perkembangan pengetahuan dan&amp;nbsp; pemahaman anak terhadap konsep penting matematika (English: 1998). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Problem posing adalah kegiatan perumusan soal atau masalah oleh peserta didik. Peserta didik hanya diberikan situasi tertentu sebagai stimulus dalam merumuskan soal/masalah.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="line-height: 200%;"&gt;Berkaitan dengan situasi yang dipergunakan dalam kegiatan perumusan masalah/soal dalam pembelajaran matematika, Walter dan Brown (1993: 302) menyatakan bahwa soal dapat dibangun melalui beberapa bentuk, antara lain gambar, benda manipulatif, permainan, teorema/konsep, alat peraga, soal, dan solusi dari soal. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;Sedangkan English (1998) membedakan dua macam situasi atau konteks, yaitu konteks formal bisa dalam bentuk simbol (kalimat matematika) atau dalam kalimat verbal, dan kontek informal berupa permainan dalam gambar atau kalimat tanpa tujuan khusus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebagai ilustrasi tentang perumusan soal, berikut disajikan contoh pembelajaran objek matematika yang berupa teorema,&amp;nbsp; yang dikutip oleh Sutiarso dalam Brown dan Walter (1990).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;Guru (G): “ Anak-anak, perhatikan persamaan x&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt; + y&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt; = z&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “ Carilah nilai x, y, dan z yang memenuhi persamaan tersebut”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="line-height: 200%;"&gt;Siswa (S): “ Oh,…saya ingat,… itu seperti persamaan dalam Pythagoras”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL-BE" style="line-height: 200%;"&gt;“ Ya,… tentu nilai x = 3, y = 4, dan z = 5”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL-BE" style="line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;G : “Bagus! Sekarang apakah ada x, y, dan z yang lain?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; S : “&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;! Berapa ya ….?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; G: “Nah, sekarang tulis nilai x, y, dan z sebanyak-banyaknya di buku kalian!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (Setelah siswa menulis hasilnya, guru melanjutkan pertanyaan)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; margin-left: 60pt; text-align: justify; text-indent: -24pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;G:&amp;nbsp; “Anak-anak, setelah kita menentukan x, y, dan z yang sesuai, sekarang buatlah satu pertanyaan dari persamaan tersebut”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; margin-left: 60pt; text-align: justify; text-indent: -24pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;S: “Bagaimana caranya pak?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; margin-left: 60pt; text-align: justify; text-indent: -24pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;G: “Baik, sekarang Bapak akan menunjukkan contoh merumuskan soal”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; margin-left: 60pt; text-align: justify; text-indent: -24pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Misalnya, siapakah penemu pertama pesamaan itu?, atau Apakah nilai x, y, dan z selalu bilangan bulat?”. Bagaimana…,mudah bukan”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; margin-left: 60pt; text-align: justify; text-indent: -24pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;S: Baik pak, kami akan mencobanya”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;Berdasarkan ilustrasi tersebut di atas, Brown dan Walter (Sutiarso, 2000) menjelaskan bahwa perumusan soal dalam pembelajaran matematika memiliki dua tahapan kegiatan kognitif, yaitu &lt;i&gt;accepting&lt;/i&gt; (menerima), dan &lt;i&gt;challenging&lt;/i&gt; (menantang). Tahap menerima adalah suatu kegiatan siswa menerima situasi-situasi yang diberikan&amp;nbsp; guru atau situasi-situasi yang sudah ditentukan, sedangkan tahap menantang adalah suatu kegiatan siswa menantang situasi tersebut dalam rangka perumusan&amp;nbsp; soal. Dalam contoh ilustrasi di atas, &lt;b&gt;tahap accepting&lt;/b&gt;: &lt;i&gt;Siswa menerima situasi berupa persamaan &lt;br /&gt;x&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt; + y&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt; = z&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;, &lt;/i&gt;sedangkan &lt;b&gt;tahap challenging&lt;/b&gt;: &lt;i&gt;Siswa menantang situasi persamaan tersebut dengan merumuskan soal&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="SV" style="line-height: 200%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent3" style="margin-left: 0cm; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-2477264424674968238?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/2477264424674968238/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/problem-posing-pada-pembelajaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/2477264424674968238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/2477264424674968238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/problem-posing-pada-pembelajaran.html' title='PROBLEM POSING PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-25836997489574413</id><published>2010-01-10T06:04:00.000-08:00</published><updated>2010-01-23T05:28:00.525-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MUSIK'/><title type='text'>BASS</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S0nd9GDIrAI/AAAAAAAAAE8/bNjOctPFWFM/s1600-h/MusicDeptPhotosNov16edit10.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://4.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S0nd9GDIrAI/AAAAAAAAAE8/bNjOctPFWFM/s400/MusicDeptPhotosNov16edit10.jpg" width="232" /&gt;&lt;/a&gt;adalah suatu alat musik pengiring dengan nada dasar F. Meski berfungsi sebagai pengiring saja, line-line yang dimainkan di alat musik yang satu ini juga cukup asik untuk didengar. Bass pada umumnya dimainkan dengan teknik yang diberi nama “Plucking”, yaitu menarik/memukul senar bass dengan jari, baik itu 1,2,3 maupun 4 jari secara bergantian. Selain menggunakan teknik Plucking, teknik lain yang juga sering digunakan dalam bermain bass adalah “Thumb”, yaitu memukul senar dengan menggunakan jempol. Teknik yang menggabungkan Thumb dan Pluck disebut “Slapping”. Selain menggunakan menggunakan jari, kita juga bisa menggunakan Pick, seperti pada gitar. &lt;br /&gt;Pada tahun 1950, bass elektrik perlahan menggeser kedudukan Double Bass dalam permainan musik pada umumnya. Bentuk bass elektrik tak jauh dari gitar elektrik. Namun, body bass biasa lebih besar dengan neck yang lebih panjang karena jarak antar fret lebih jauh, namun tetap saja terasa lebih mungil dibandingkan dengan Double Bass.&lt;br /&gt;Bass pada umumnya memiliki 4 buah senar dengan setelan standar E-A-D-G. Namun, sama dengan gitar, setelan ini tidak wajib dan dapat divariasikan. Variasi steman/setelan lain yang biasa dipakai contohnya D-A-D-G dan B-E-A-D. Bass tenor juga biasanya menggunakan tuning A-D-G-C untuk nada yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;Selain 4 senar, banyak juga bass yang menggunakan 5 senar dan 6 senar. Tuning senar untuk 5 senar biasanya B-E-A-D-G atau E-A-D-G-C. Sedangkan 6 senar biasa menggunakan B-E-A-D-G-C, E-A-D-G-B-E atau F#-B-E-A-D-G.&lt;br /&gt;Beberapa Bass memiliki jumlah senar berbeda, namun bass-bass tersebut cukup sulit(kalau tak mau dibilang sangat sulit) didapatkan di Indonesia. Contohnya :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;1. 1 string, 2 strings, dan 3 strings - seperti namanya, bass tipe ini hanya memiliki 1, 2, atau 3 senar saja. Pembuat bass Atlansia membuat bass-bass tipe senar 1, 2, dan 3 sperti ini. Selain itu, pemain bass TonyLevin secara spesial meminta MusicMan membuat versi 3 senar dari bass StingRay favoritnya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;2. 8, 10, 12, dan 15 strings - Bass-bass seperti ini menggunakan prinsip yang sama dengan gitar 12 senar, dimana senar-senar yang ada dikelompokkan dalam satu kelompok dengan tuning yang sama, misalnya untuk 8 senar : Ee-Aa-Dd-Gg&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Pick up (bukan jenis mobil) juga berperan penting dalam bass elektrik. Tanpa pick up, suara tak dapat disampaikan ke amplifier. Ada beberapa jenis pick up yang dipakai dalam bass, yaitu jenis “P”, “J”, Humbucker, dan Soapbar. Penjelasan untuk masing-masing pick ups mungkin akan dibahas di artikel yang khusus untuk membahas Pick Ups nanti.Jadi, jangan sampai kita malah lupa ngebahas soal fret-fret yang ada di instrumen satu ini. Bass versi awal memiliki 20 fret, namun bass-bass modern sekarang kebanyakan memiliki fret 24 atau lebih. Seperti yang kita tahu, setiap jarak 12 fret adalah jarak 1 oktaf Namun, ada juga beberapa tipe bass yang menggunakan sistem fretless.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-25836997489574413?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/25836997489574413/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/bass.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/25836997489574413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/25836997489574413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/bass.html' title='BASS'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S0nd9GDIrAI/AAAAAAAAAE8/bNjOctPFWFM/s72-c/MusicDeptPhotosNov16edit10.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-1736041746834518985</id><published>2010-01-10T05:22:00.000-08:00</published><updated>2010-01-23T05:31:16.535-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><title type='text'>Catatan Pinggir Dunia Pendidikan Indonesia</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S0nY64cnHhI/AAAAAAAAAE0/458kxcM9u08/s1600-h/anak20sd....jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S0nY64cnHhI/AAAAAAAAAE0/458kxcM9u08/s320/anak20sd....jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Orang miskin dilarang sekolah bersama orang kaya. Kementerian Pendidikan Nasional (Diknas) seolah tanggap atas kritik Eko Prasetyo dalam bukunya “Orang Miskin Dilarang Sekolah”. Eko Prasetyo membuka bukunya dengan menceritakan sulitnya mendapatkan sekolah murah bagi buah hatinya. Masih di dalam bab yang sama Eko ternyata juga menyebutkan adanya sekolah murah untuk anak tukang pasir tetangganya. Permasalahannya, apakah warga kelas menengah yang diwakili Eko mau menempatkan anaknya di sekolah beriuran tujuh ribu lima ratus rupiah sebulan.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sekolah memang telah terkotak-kotak berdasarkan kemampuan ekonomi dari orang tua. Kurang bijak bila menjawab permasalahan ketersediaan bangku sekolah untuk seluruh lapisan masyarakat dengan pengkastaan sekolah. Seharusnya peningkatan kualitas pendidikan di sekolah milik pemerintah dan penyediaan akses pembiayaannya bagi seluruh lapisan masyarakat diutamakan. Sehingga &lt;i&gt;Gendhuk&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;Butet&lt;/i&gt; bisa menuntut ilmu hingga ke negeri Cina bila mereka memiliki potensi meski orang tua mereka tidak mampu.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Manusia sudah lahir berbeda. Paska kejatuhan Soeharto, bangsa ini banyak didera permasalahan prasangka etnis. Kamanto Sunarto dari Universitas Indonesia menyatakan bahwa pendidikan multikultural kurang disukai oleh penguasa karena dianggap sebagai ancaman bagi kestabilan politik, ekonomi dan negara. Keputusan pemerintah untuk memisahkan si kaya dan si miskin di sekolahan merupakan kebijakan kontra produktif dengan &lt;i&gt;Bhineka Tunggal Ika&lt;/i&gt;. Ahmad Bukhori Muslim, penerima beasiswa Fulbright di Boston University, mengungkapkan pentingnya mengajarkan perbedaan kepada anak-anak. Pendidikan ini, Bukhori menekankan, sebaiknya dimulai dari rumah. Upaya ini perlu didukung dengan adanya kurikulum yang bermuatan multikultural di sekolah untuk memperkuat dampaknya. Tujuan pendidikan multikultural, menurut Kamanto, diantaranya bertujuan agar siswa mampu berfungsi dalam berbagai latar belakang budaya. Kamanto juga menyatakan bahwa menerapkan pendidikan multikultural di sekolah membutuhkan perombakan total sistem pendidikan. Hal ini merupakan salah satu catatan permasalahan pendidikan di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Catatan lain adalah upaya pemerintah untuk mengurangi beban orang tua dalam urusan membeli buku pelajaran dengan kebijakan Buku Lima Tahun. Kebijakan ini perlu ditambal karena kebijakan ini, di samping membatasi sumber pengetahuan bagi murid, menyisakan ruang buat kolusi yang lebih permanen selama lima tahun. Membuat buku menjadi &lt;i&gt;opensource&lt;/i&gt; akan mampu menambal kebolongannya. Pemerintah perlu memulai format awal buku &lt;i&gt;opensource&lt;/i&gt; yang dibangun oleh para relawan pendidikan. Buku ini dapat dimodifikasi oleh guru sekolah dan atau relawan lokal agar isinya tetap dinamis mengikuti perkembangan jaman. Buku &lt;i&gt;opensource&lt;/i&gt; akan lebih murah bagi orang tua murid karena biaya foto kopi lebih rendah dari membeli buku.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hasil awal dan pengembangan Buku &lt;i&gt;opensource&lt;/i&gt; dapat disimpan di situs Diknas untuk diakses masyarakat pendidikan. Dengan demikian kebijakan Buku Lima Tahun yang didukung Buku &lt;i&gt;Opensource&lt;/i&gt; akan memiliki nuansa teknologi pendidikan yang kurang diperhatikan di Indonesia. Upaya menerapkan teknologi di dunia pendidikan di Indonesia pun baru pada pemahaman sempit membawa perangkat keras dan koneksi internet ke sekolahan. Belum ada upaya untuk melatih sekolah mendisain kegiatan yang mengintegrasikan teknologi tersebut kedalam kegiatan belajar mengajar. Memahami bagaimana media dan teknologi berproduksi dikaitkan dengan kurikulum berbasis kompentesi adalah salah satu contoh pengintegrasianya. Akibatnya sekolah merasakan adanya laboratorium internet sebagai sumber pembiayaan dengan tingkat pengembalian investasi,berupa output pendidikan bukan finansial, yang rendah.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penerapan teknologi informasi di sekolah mengulangi sejarah Televisi Pendidikan Indonesia yang gagal membawa teknologi televisi pendidikan ke ruang kelas. Kesalahan keduanya terletak pada, dan ini menjadi catatan berikutnya, kurangnya melibatkan guru pada perencanaan pemanfaatan teknologi ini di kelas. Akibatnya, seperti yang diungkapkan Larry Cuban dari Stanford University, adalah cercaan terhadap guru yang gagal memanfaatkan teknologi. Nasib guru-guru yang berdedikasi ini sangat malang karena tidak dilibatkan dalam perencanaan dan masih dicaci pula.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saat Kamanto berbicara mengenai perombakan total, mungkin adanya bencana secara berturut-turut menandakan perlunya kita merombak total banyak hal dalam keseharian kita, dalam hal ini masalah pendidikan. Salah satunya adalah ukuran pencapaian sekolah. SDN Johar 16 Petang di Jakarta Pusat yang seratus persen diisi oleh para pengamen dan pedagang asongan cilik, tentunya tidak akan pernah berhasil apabila diukur dengan jumlah siswa yang diterima di SMP Negeri. “... membangkitkan motivasi untuk selalu datang ke sekolah saja susah,...” demikian ungkap kepala sekolahnya. Sekolah seperti SDN Johar 16 Petang akan menjadi bintang bila ukurannya adalah turunnya jumlah murid yang terlibat kriminal. Sebagai catatan, tentunya banyak sekolah dengan permasalahan yang berbeda-beda yang tidak dapat diukur dengan standar yang sama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Seyogyanya, upaya perombakan total diwarnai dengan semangat memberdayakan sekolah dan bersifat evolusi daripada revolusi. Lain halnya pada daerah bencana yang memungkinkan perombakan total. Pada dasarnya daerah bencana memiliki kebutuhan pendidikan yang berbeda, kurikulum yang adaptif adalah salah satunya. Kurikulum yang adaptif setidaknya dibagi dalam tiga tahapan. Tahap pertama adalah kurikulum yang membantu mengatasi trauma. Tahap kedua, kurikulum perlu diadaptasi agar siswa mampu membantu lingkungan mengatasi trauma. Tahap ketiga adalah kurikulum baru yang berfungsi penuh seperti kondisi normal.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Daerah bencana juga membutuhkan pembangunan pranata sekolah yang hancur. Dalam membangun kembali fasilitas sekolah, perlu diperhatikan isu-isu baru yang berkembang di dunia seperti isu mengenai “Rute Aman ke Sekolah” yang dicanangkan WHO pada April 2004 serta akses yang sama bagi murid cacat fisik dan perempuan.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Catatan terakhir, meski bukan akhir dari daftar panjang permasalahan pendidikan, adalah mengenai kesiapan sekolah menghadapi bencana. Sebagai perbandingan, dunia bisnis siap dengan prosedur Perencanaan Pemulihan Paska Bencana (P3B) agar aktifitasnya tak terputus. Diknas, dalam hal ini nampak tidak memiliki perencanaan penanganan pemulihan sekolah paska bencana. Memang kedatangan bencana tidak dapat diramalkan, tetapi dampaknya dapat diukur dan diramalkan, sehingga P3B dapat dibuat dan akan mempermudah pemulihan pendidikan di daerah bencana. P3B ini seyogya memasukkan aspek-aspek yang diuraikan di atas. Semoga tulisan ini menjadi pemicu langkah-langkah kita berikutnya.&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-1736041746834518985?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/1736041746834518985/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/catatan-pinggir-dunia-pendidikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/1736041746834518985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/1736041746834518985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/catatan-pinggir-dunia-pendidikan.html' title='Catatan Pinggir Dunia Pendidikan Indonesia'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S0nY64cnHhI/AAAAAAAAAE0/458kxcM9u08/s72-c/anak20sd....jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-7632162483829546198</id><published>2010-01-09T11:07:00.000-08:00</published><updated>2010-01-23T23:00:03.899-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MATEMATIKA'/><title type='text'>Menjadikan Anak sebagai Ahli Matematika</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S0jRsrFz0PI/AAAAAAAAAD8/mEK3iohYfR0/s1600-h/kil.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S0jRsrFz0PI/AAAAAAAAAD8/mEK3iohYfR0/s320/kil.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;o:smarttagtype name="place" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="country-region" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}p	{mso-style-unhide:no;	mso-margin-top-alt:auto;	margin-right:0cm;	mso-margin-bottom-alt:auto;	margin-left:0cm;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;Alangkah bahagianya orang tua bisa melihat anaknya ahli dalam setiap pelajaran. Yang menjadi masalah bagi anak-anak &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; biasanya, tidak menyukai pelajaran-pelajaran yang dianggapnya sulit, misalnya matematika.   &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}p	{mso-style-unhide:no;	mso-margin-top-alt:auto;	margin-right:0cm;	mso-margin-bottom-alt:auto;	margin-left:0cm;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, orang tua akan mengkursuskan anaknya, untuk orang tua yang mampu. Akan tetapi, Anda sendiri sebenarnya bisa memaksimalkan kemampuan matematika anak-anak Anda. Bagaimana caranya? Berikut ini tips bagi Anda yang dirangkai dari berbagai sumber. &lt;br /&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}p	{mso-style-unhide:no;	mso-margin-top-alt:auto;	margin-right:0cm;	mso-margin-bottom-alt:auto;	margin-left:0cm;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;b&gt;1. Pastikan Anak anda mengetahui konsep matematika yang ia pelajari.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}p	{mso-style-unhide:no;	mso-margin-top-alt:auto;	margin-right:0cm;	mso-margin-bottom-alt:auto;	margin-left:0cm;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;Jika anak Anda tidak mengetahui dasar dari matematika, maka anak Anda hanya akan mempeelajari matematika dengan hafalan. Padahal, matematika yang dihafal itu tidaklah ada artinya. Anda dapat memberitahukan dasar-dasar matematika pada mereka, sehingga mereka akan mudah memahami soal-soal yang sulit apabila mereka mengetahui dasarnya.&lt;br /&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}p	{mso-style-unhide:no;	mso-margin-top-alt:auto;	margin-right:0cm;	mso-margin-bottom-alt:auto;	margin-left:0cm;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;2. Bantulah mereka dengan menyertakan fakta-fakta.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}p	{mso-style-unhide:no;	mso-margin-top-alt:auto;	margin-right:0cm;	mso-margin-bottom-alt:auto;	margin-left:0cm;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Penguasaan fakta dasar berarti bahwa anak dapat menjawab pertanyaan kurang dari tiga detik. Rumus praktis dapat Anda anjurkan pada anak Anda agar memperoleh respon yang cepat. Apabila anak Anda belum juga bisa memahami berilah contoh yang nyata. Misalnya, menghitung perkalian dengan memisalkan keramik yang ada pada lantai Anda.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}p	{mso-style-unhide:no;	mso-margin-top-alt:auto;	margin-right:0cm;	mso-margin-bottom-alt:auto;	margin-left:0cm;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;3. Ajarkan pada anak Anda menulis angka-angka dengan teliti.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}p	{mso-style-unhide:no;	mso-margin-top-alt:auto;	margin-right:0cm;	mso-margin-bottom-alt:auto;	margin-left:0cm;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Duapuluh lima persen kesalahan dalam menyelesaikan soal-soal matematika ditemukan oleh pengajar adalah kesalahan yang dikarenakan ketidaktelitian sang anak dalam menulis angka-angka. Perbaiki ketelitian anak Anda dalam menulis dan mengolah angka-angka dengan cara meneliti ulang apa latihan yang dia kerjakan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBAKTI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}p	{mso-style-unhide:no;	mso-margin-top-alt:auto;	margin-right:0cm;	mso-margin-bottom-alt:auto;	margin-left:0cm;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;4. Sediakan kebutuhan, yang digunakan anak Anda untuk belajar matematika, dengan cepat.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Matematika adalah sebuah subjek yang semuanya dibangun dari apa yang sebelumnya telah dipelajari. Seabagai contoh, kegagalan dalam mengetahui dasar masalah perhitungan persen biasanya disebabkan oleh sang anak tidak menguasai masalah desimal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;5. Tunjukkan bagaimana cara menyelesaikan masalah pekerjaan rumahnya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Mengerjakan tugas matematika mempertajam ilmu yang didapat dari sekolah untuk dipelajari di rumah. Ajarkan pada mereka untuk memulai mengerjakan tugas tersebut, dengan membuka buku atau mengulang pelajaran dan contoh-contoh yang telah diberikan oleh guru mereka lewat pelajaran sebelumnya disekolah. Jika kurang jelas, jelaskan padanya sampai ia bisa mengerti. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;6. Dorong mereka untuk mengerjakan soal lain.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Jika guru hanya memberikan soal-soal tertentu saja, berilah pada anak Anda contoh soal yang lain. Ingat, semakin anak Anda banyak berlatih makin semakin cepat mereka membentuk kemampuan dan kepercayaan diri mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;7. Jelaskan bagaimana cara menyelesaikan masalah soal cerita.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Matematika mempunyai ekspresi, untuk belajar memecahkan masalah, Anda harus memecahkan masalah. Ajarkan pada anak Anda membaca soal cerita berkali-kali. Juga, suruhlah dia untuk menggambarkannya dalam bentuk soal matematika atau diagram. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;8. Bantulah anak Anda mempelajari tata bahasa matematika.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Mereka tidak akan dapat matematika secara nyata, tidak pula mempelajari konsep yang lebih menantang tanpa mengetahui tata bahasanya. Periksalah bahwa anak Anda dapat menemukan dan mengikuti masalah yang baru atau bab baru. Jika tidak, ajarkan padanya untuk menggunakan model atau contoh dan masalah yang sederhana terlebih dahulu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;9. Ajarkan pada mereka untuk mengerjakan metematika “di luar kepala"&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Anak-anak kecil harus banyak menyelesaikan masalah perhitungan dengan menggunakan pensil dan kertas. Ketika membantu anak Anda menyelesaikan sebuah soal, bantulah mereka dengan mendiktekannya tanpa harus menuliskannya, sehingga anak akan berlatih menulis matematika sesuai apa yang dibayangkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;10. Jadikanlah matematika bagian dalam hidup anak Anda.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Matematika akan lebih berarti ketika anak Anda melihat bagaimana pentingnya matematika dalam kehidupan ini, dan dapat dilihat dimana-mana. Dorong mereka menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, tanyakan pada mereka jarak suatu tumbuhan baru ke suatu titik tertentu....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-7632162483829546198?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/7632162483829546198/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/menjadikan-anak-sebagai-ahli-matematika.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/7632162483829546198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/7632162483829546198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/menjadikan-anak-sebagai-ahli-matematika.html' title='Menjadikan Anak sebagai Ahli Matematika'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S0jRsrFz0PI/AAAAAAAAAD8/mEK3iohYfR0/s72-c/kil.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-5826477623032090934</id><published>2010-01-09T00:19:00.000-08:00</published><updated>2010-01-23T05:38:01.184-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ANAK GUNUNG'/><title type='text'>Tanpa Persiapan, Naik Gunung Tidak Bermakna</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S0iRVBnLqTI/AAAAAAAAADk/PCMCAdfzfJY/s1600-h/Foto%28766%29.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S0iRVBnLqTI/AAAAAAAAADk/PCMCAdfzfJY/s320/Foto%28766%29.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Banyak remaja sering mengisi waktu liburan dengan naik gunung. Namun, karena ketidak-tahuan, kegiatan fisik berat itu sering tidak disiapkan dengan baik.Padahal, mendaki gunung ditentukan oleh faktor ekstern dan intern, dan kebugaran fisik mutlak diperlukan.&lt;br /&gt;Pendaki gunung legendaris asal Inggris, Sir George Leigh Mallory, kerap menjawab pendek pertanyaan mengapa ia begitu tergila-gila naik gunung. *Because it is there, *ujarnya. Jawaban itu menggambarkan betapa luas pengalamannya mendaki gunung dan bertualang. Selain jawaban itu, masih banyak alasan mengapa seseorang mendaki gunung atau menggeluti kegiatan petualangan lainnya.&lt;br /&gt;Anggota-anggota Mapala Universitas Indonesia-kelompok pencinta alam tertua (bersama Wanadri Bandung) di Indonesia-contohnya. Mereka punya alasan lebih panjang dari Mallory. Dalam halaman awal buku pegangan petualangan yang dimiliki seluruh anggotanya tertulis, Nasionalisme tidak dapat tumbuh dari slogan atau indoktrinasi. Cinta tanah air hanya tumbuh dari melihat langsung alam dan masyarakatnya. Untuk itulah kami naik gunung.&lt;br /&gt;Yang jelas, tidak seorang petualang alam-komunitas di Indonesia lebih senang menggunakan istilah pencinta alam-melakukan kegiatan itu dengan alasan untuk gagah-gagahan. Karena bukan untuk gagah-gagahan, maka sebaiknya tidak ada istilah modal nekad dalam mendaki gunung.&lt;br /&gt;Bagaimanapun, gunung dengan rimba liarnya, tebing terjal, udara dingin,kencangnya angin yang membuat tulang ngilu, malam yang gelap dan kabut yang pekat bukanlah habitat manusia modern. Bahaya yang dikandung alam itu akan menjadi semakin besar bila pendaki gunung tidak membekali diri dengan peralatan, kekuatan fisik, pengetahuan tentang alam, dan navigasi yang baik.&lt;br /&gt;Tanpa persiapan yang baik, naik gunung tidak bermakna apa-apa. Secara umum, ada dua faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya pendakian gunung. Pertama, faktor ekstern atau faktor yang berasal dari luar diri pendaki. Cuaca, kondisi alam, gas beracun yang dikandung gunung dan sebagainya yang merupakan sifat dan bagian alam. Karena itu, bahaya yang mungkin timbul seperti angin badai, pohon tumbang, letusan gunung atau meruapnya gas beracun dikategorikan sebagai bahaya objektif (objective danger). Seringkali faktor itu berubah dengan cepat di luar dugaan manusia.&lt;br /&gt;Tidak ada seorang pendaki pun yang dapat mengatur bahaya objektif itu. Namun dia dapat menyiapkan diri menghadapi segala kemungkinan itu. Diri pendaki, segala persiapan, dan kemampuannya itulah yang menjadi faktor intern, faktor kedua yang berpengaruh pada sukses atau gagalnya mendaki gunung.Bila pendaki tidak mempersiapkan pendakian, maka dia hanya memperbesar bahaya subyektif. Misalnya, bahaya kedinginan karena pendaki tidak membawa jaket tebal atau tenda untuk melawan dinginnya udara dan kencangnya angin.&lt;br /&gt;Tidak bisa ditawar, mendaki gunung adalah kegiatan fisik berat. Karena itu, kebugaran fisik adalah hal mutlak. Untuk berjalan dan menarik badan dari rintangan dahan atau batu, otot tungkai dan tangan harus kuat. Untuk menahan beban ransel, otot bahu harus kuat. Daya tahan (endurance) amat diperlukan karena dibutuhkan perjalanan berjam-jam hingga hitungan hari untuk bisa tiba di puncak.&lt;br /&gt;Bila tidak biasa berolahraga, calon pendaki sebaiknya melakukan jogging dua atau tiga kali seminggu, dilakukan dua hingga tiga minggu sebelum pendakian. Mulailah jogging tanpa memaksa diri, misalnya cukup 30 menit dengan lari-lari santai. Tingkatkan waktu dan kecepatan jogging secara bertahap pada kesempatan berikutnya. Bila kegiatan itu terasa membosankan, dapat diselingi dengan berenang. Dua olahraga itu sangat bermanfaat meningkatkan endurance dan kapasitas maksimum paru-paru menyedot oksigen (Volume O2 maximum/VO2 max). Latihan push up, sit up, pull up sebaiknya juga dilakukan untuk memperkuat otot-otot.&lt;br /&gt;Saking semangatnya, pendaki muda kerap kali ingin segera mencapai puncak,apalagi bila kegiatan itu dilakukan berkelompok. Persaingan untuk berjalan paling cepat, paling depan, dan menjadi orang pertama memijak puncak,sebaiknya ditinggalkan.&lt;br /&gt;Mendaki gunung yang baik justru melangkah perlahan dalam langkah-langkah kecil dan dalam irama tetap. Dengan berjalan seperti itu , pendaki dapat mengatur napas, dan menggunakan tenaga seefisien mungkin. Bagaimanapun mendaki merupakan pekerjaan melelahkan. Selain itu, keindahan alam dan kebersamaan dalam rombongan, sering menggoda pendaki untuk banyak berhenti dan beristirahat di tengah jalan. Bila dituruti terus, bukan tidak mungkin&lt;br /&gt;pendakian malah gagal mencapai puncak. Karena itu, cobalah membuat target pendakian. Misalnya, harus berjalan nonstop selama satu jam, lalu istirahat 10 menit, kembali mendaki selama satu jam dan seterusnya. Lakukan hal ini hingga mencapai puncak atau hari telah sore untuk berkemah. Pada medan perjalanan yang landai, target waktu seperti itu dapat diganti dengan target tempat. Caranya, tentukanlah titik-titik target di peta sebagai titik beristirahat.&lt;br /&gt;Buatlah jadwal rencana kegiatan sehingga waktu yang tersedia digunakan seefektif mungkin dalam bergiat di alam. Jadwal itu memungkinkan pendaki menghitung berapa banyak makanan, pakaian, peralatan harus dibawa, dan dana yang harus disiapkan. Jadwal itu antara lain mencakup keberangkatan, jadwal dan rute pendakian, kapan tiba di puncak, jadwal dan rute pulang, dan seterusnya. Jadwal pendakian perhari dapat lebih dirinci dengan berapa jam jatah pendakian, pukul berapa dimulai dan kapan berhenti serta seterusnya.&lt;br /&gt;Untuk menghindari beban bawaan terlalu berat, hindari membawa barang-barang yang tidak perlu. Misalnya, cukup membawa baju dan celana tiga atau empat stel meski pendakian memerlukan waktu cukup lama. Satu stel pakaian dikenakan saat berangkat dari rumah hingga kaki gunung dan saat pulang. Satu stel sebagai baju lapangan saat mendaki. Satu stel yang lain sebagai baju kering yang digunakan saat berkemah. Rain coat dan payung dapat dicoret dari barang bawaan bila telah membawa ponco. Bila telah membawa lilin, cukup membawa batu batere seperlunya untuk menyalakan senter dalam keadaan darurat. Piring dapat ditinggal di rumah karena wadah makanan dapat menggunakan rantang memasak atau cangkir.&lt;br /&gt;Bila barang perlengkapan telah terkumpul, masukkan semua ke dalam ransel. Jangan biarkan ada sejumlah barang seperti cangkir atau sandal diikat di luar ransel. Selain tidak sedap dipandang, risiko hilang selama pendakian, amat besar. Meski demikian, ada beberapa barang yang ditolerir bila ditaruh di luar ransel dan diikat dengan tali webbing ransel. Misalnya, matras karet dan tiang tenda. Namun, yakinkan, semua telah diikat dengan kencang.&lt;br /&gt;Menaruh barang di dalam ransel amat berbeda dengan cara memasukkan buku-buku pelajaran dalam daypack (ransel kecil yang biasa digunakan ke sekolah).&lt;br /&gt;Buku pelajaran, baju praktikum, kalkulator dapat kita cemplungkan begitu saja ke dalam daypack. Sebaliknya, barang-barang pendakian harus dimasukkan dalam ransel dengan aturan tertentu sehingga mengurangi rasa sakit saat memanggul dan menghindari ruang kosong dalam ransel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Prinsip pengepakan barang dalam ransel :&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Letakkan barang ringan di bagian bawah dan barang berat di bagian atas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Barang-barang yang diperlukan paling akhir (misalnya peralatan kemping dan tidur), ditaruh di bagian bawah dan barang yang sering dikeluar-masukkan(seperti jaket, jas hujan, botol air) di bagian atas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangan biarkan ada ruang kosong dalam ransel. Contoh, manfaatkan bagian dalam panci sebagai tempat menyimpan beras.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, langkah pertama mengepak perlengkapan pendakian adalah mengelompokkan barang menurut jenis, seperti:&lt;br /&gt;a. pakaian dan kantung tidur,&lt;br /&gt;b. alat memasak,&lt;br /&gt;c. tenda,&lt;br /&gt;d. makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bungkus kelompok-kelompok barang itu dalam kantong-kantong plastik agar mudah dicari. Sebagian besar pendaki menganggap, mengepak barang merupakan seni tersendiri dan kerap mengasyikkan...^_^&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-5826477623032090934?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/5826477623032090934/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/tanpa-persiapan-naik-gunung-tidak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/5826477623032090934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/5826477623032090934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/tanpa-persiapan-naik-gunung-tidak.html' title='Tanpa Persiapan, Naik Gunung Tidak Bermakna'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S0iRVBnLqTI/AAAAAAAAADk/PCMCAdfzfJY/s72-c/Foto%28766%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-6140998421261426831</id><published>2010-01-08T10:21:00.000-08:00</published><updated>2010-01-23T05:39:03.507-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SERBA SERBI'/><title type='text'>MEMPERCEPAT AKSES HP SMART HAIER TELECOM</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S0iWGM4TcBI/AAAAAAAAADs/9HE98HsnP5g/s1600-h/D1200.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S0iWGM4TcBI/AAAAAAAAADs/9HE98HsnP5g/s200/D1200.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bagi kalian yang menggunakan HP SMART sebagai modem, jangan khawatir dengan kabar yang mengatakan bahwa akses SMART itu lambat banget di saat kita browsing internet.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Neh....aku kasih beberapa tips untuk sedikit mempercepat akses SMART tersebut lewat setting di komputer (windows), browser, dan APN (Acces Point Name) yang tidak sibuk.. tapi ingat, janganlah pernah kalian bandingkan kecepatan browsing via SMART dengan kecepatan browsing mereka - mereka yang memakai Kabel LAN...karena....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;" kalian pasti taulah jawabannya "........:-D&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tips - tips SMART :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;1. SETTING KOMPUTER / WINDOWS&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Settingan ini merupakan settingan secara umum untuk semua koneksi internet, yaitu seeting Qos Packet Scheduler dan TCP/IP.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Jika menggunakan Qos Packet Sceduler silahkan di edit Group Policy (gpedit.msc). Masuk Computer Configuration - Administrative Templates - Network - Qos Packet Scheduler. Rubah Limit Outstanding Packets dari not configured menjadi enabled dan Bandwidth Limit (%) = 0. Hal ini akan menghemat bandwidth kita 20% yang dipakai oleh Microsoft.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pada TCP/IP bisa kita set services pada regedit, yaitu pada HKLM\system\CurrentControlSet\Services\Tcpip\parameters dan edit value register pada :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;* Default TTL isi value 00000040&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;* Enable PMTUBHDetect isi value 00000000&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;* Enable PMTUDiscovery isi value 00000001&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;* Global MaxTcpWindowSize isi value 0005ae4c&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;* SackOpts isi value 00000001&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;* Tcp1323Opts isi value 00000003&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;* TcpWindowSize isi value 0005ae4c&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;* Restart PC&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;2. SETTING BROWSER DAN INTERNET TOOLS&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Untuk mengoptimalkan browser, kita bisa gunakan cara Mempercepat Firefox &amp;amp; Mozilla&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bisa juga anda gunakan tools cfosspeed seperti di Mempercepat Akses Internet dengan cFosSpeed&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;3. SETTING APN SMART&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dikarenakan sibuknya jalur yang digunakan pada #777 username dan password smart. Coba anda kombinasikan dialup *777# atau 222 atau *99# atau *31*11111# dengan username dan password cdma atau wap.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Akhirnya...saya ucapkan selamat mencoba n' good luck yah....;-)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Semoga artikel ini bermanfaat &amp;amp; sangat membantu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Thank's....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-6140998421261426831?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/6140998421261426831/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/mempercepat-akses-hp-smart-telecom.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/6140998421261426831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/6140998421261426831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/mempercepat-akses-hp-smart-telecom.html' title='MEMPERCEPAT AKSES HP SMART HAIER TELECOM'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S0iWGM4TcBI/AAAAAAAAADs/9HE98HsnP5g/s72-c/D1200.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-5386476483823880417</id><published>2010-01-08T09:43:00.000-08:00</published><updated>2010-01-23T23:00:58.487-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KESEHATAN'/><title type='text'>Plus Minus Meminum Kopi</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Kopi mungkin menjadi minuman yang paling dikenal masyarakat dunia. Minuman hitam ini telah dikenal manusia sejak ratusan tahun lalu. Tak heran jika 80% orang di dunia minum kopi setidaknya satu cangkir sehari. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Minum kopi memang menimbulkan efek segar bagi tubuh. Tak lain karena di dalam kopi terdapat zat aktif yang bernama kafein. Satu cangkir kopi rata-rata mengandung 100 – 150 miligram kafein. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Dalam “&lt;i&gt;The Pharmacological Basis of Therapeutics&lt;/i&gt;” oleh Dr. J. Murdoch Ritchie disebutkan bahwa efek positif dari karein antara lain : menambah kecepatan berfikir dan inspirasi, mengurangi rasa ngantuk dan kelelahan, meningkatkan sensor stimuli dan reaksi motorik; misalnya seorang yang mengetik akan dapat bekerja lebih cepat dan dengan tingkat kesalahan yang kecil. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Secara kedokteran, menurut Dr. Ritchie, kafein yang terkandung dalam 1 sampai 2 cangkir kopi dapat menambah detak jantung, melebarkan pembuluh darah, mendorong aliran sampah-sampah cair maupun padat dalam tubuh, sehingga badan terasa lebih “segar”. Efek inilah yang menyebabkan banyak orang sulit terlepas dari kebiasaan minum kopi. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Sayangnya, kebiasaan minum kopi seringkali memunculkan efek kecanduan, baik secara psikologi maupun fisiologis. Ciri umum kecanduan kopi antara lain rasa letih atau lelah, tak bersemangat dan mengantuk kalau sehari saja tidak minum kopi. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Konsumsi kopi yang wajar adalah 85 – 200 mg, atau 1 – 3 cangkir kopi per hari. Namun, minum kopi di atas 250 mg sekaligus dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti jantung berdebar, gelisah, insomnia (sulit tidur), gugup, tremor (tangan bergetar), bahkan mual sampai muntah-muntah. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Minum kopi juga berbahayaa bagi penderita hipertensi (tekanan darah tinggi) karena senyawa kafein bisa menyebabkan tekanan darah meningkat tajam. Selain itu, kopi juga bisa meningkatkan aliran darah ke ginjal yang berakibat meningkatnya produksi urin. Jadi, jangan heran kalau tak lama sehabis mengkonsumsi kopi, kandung kecing cepat penuh. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Kafein dalam jumlah yang lebih besar, misalnya jika kita minum 10 cangkir kopi berturut-turu, juga bersifat racun bagi tubuh. Efek yang ditimbulkan antara lain : &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;muntah, demam, dan kebingungan secara mental. Kafein dalam jumlah yang sangat besar bahkan dapat menjadi zat yang mematikan. Tapi jangan takut, karena kafein baru bisa mematikan manusia jika dikonsumsi sebesar 10 gram, jumlah ini setara dengan 100 cangkir kopi yang diminum berturut-turut. (Ar-Risalah, Oktober 2009, Vol IX/ 4 Syawal 1430 H) &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Siapa yang mampu coba?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-5386476483823880417?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/5386476483823880417/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/plus-minus-meminum-kopi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/5386476483823880417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/5386476483823880417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/plus-minus-meminum-kopi.html' title='Plus Minus Meminum Kopi'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-2736511650993188127</id><published>2010-01-08T08:34:00.001-08:00</published><updated>2010-01-23T05:45:33.600-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SERBA SERBI'/><title type='text'>Cinta dan Persahabatan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S0iXm-NDO-I/AAAAAAAAAD0/JSaLDA7K1YQ/s1600-h/love.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S0iXm-NDO-I/AAAAAAAAAD0/JSaLDA7K1YQ/s320/love.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dua sisi yang saling berkaitan satu dengan lainnya.&lt;br /&gt;Ya, antara Cinta dengan Persahabatan.&lt;br /&gt;Mampukah anda membayangkan Persahabatan tanpa Cinta?&lt;br /&gt;Persahabatan dan Cinta adalah teman terbaik kerana dimana ada Cinta, Persahabatan selalu berada disampingnya. Dan dimana Persahabatan berada, Cinta selalu tersenyum ceria dan tidak pernah meninggalkan Persahabatan.Pada suatu hari, Persahabatan mula berpikir bahwa Cinta telah membuat dirinya tidak mendapat perhatian lagi karena Persahabatan menganggap Cinta lebih menarik daripada dirinya.&lt;br /&gt;?Hhemmmmm? Seandainya tidak ada Cinta, mungkin aku akan menjadi lebih terkenal, dan lebih banyak orang memberi perhatian kepadaku.? pikir si Persahabatan. Sejak hari itu, Persahabatan memusuhi Cinta. Ketika Cinta bermain bersama Persahabatan seperti selalu, Persahabatan akan menjauhi Cinta. Apabila Cinta bertanya kenapa Persahabatan menjauhi dirinya, Persahabatan hanya memalingkan wajahnya dan beredar pergi meninggalkan Cinta.&lt;br /&gt;Kesedihan pun menghampiri Cinta dan Cinta tidak sanggup menahan air matanya dan menangis. Kesedihan hanya dapat termangu memandang Cinta yang kehilangan teman baiknya. Beberapa hari tanpa Cinta, Persahabatan mulai bergaul rapat dengan Kecewa, Putus asa, Kemarahan dan Kebencian.&lt;br /&gt;Persahabatan mulai kehilangan sifat manisnya dan orang-orang mulai tidak menyukai Persahabatan. Persahabatan mulai dijauhi dan tidak lagi disukai.Walaupun Persahabatan cantik, tetapi sifatnya mulai memuakkan.Persahabatan menyadari bahwa dirinya tidak lagi disukai lantaran banyak orang yang menjauhinya. Persahabatan mulai menyesali keadaannya, dan saat itulah Kesedihan melihat Persahabatan, dan menyampaikan kepada Cinta bahwa Persahabatan sedang dalam kedukaan.&lt;br /&gt;Dengan segera Cinta berlari dan menghampiri Persahabatan. Saat Persahabatan melihat Cinta menghampiri dirinya, dengan air mata yang berlinang Persahabatan pun meluapkan seribu penyesalannya meninggalkan Cinta.&lt;br /&gt;Seringkali Cinta cuma dijadikan kambing hitam sebagai perusak sebuah persahabatan. SALAH BESAR !!! Seharusnya dengan adanya Cinta, persahabatan akan semakin menyenangkan. Buat teman-teman yang sedang menjalin Persahabatan. Penuhilah persahabatanmu dengan Cinta, berikanlah Cinta yang terbaik untuk sahabatmu.&lt;br /&gt;Buat teman-teman yang sedang mengalami guncangan dalam persahabatan, jangan salahkan Cinta! Tetapi cobalah perbaiki persahabatanmu dengan cinta karena cinta akan menutupi segala kesalahan, mengampuni dengan mudah dan membuat segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.&lt;br /&gt;Buat teman-teman yang belum mengerti arti Persahabatan, cobalah memulai sebuah persahabatan. Dengan persahabatan kalian akan semakin dewasa, tidak egois dan belajar untuk mengerti bahwa segala sesuatu tidak selalu terjadi sesuai dengan keinginan kita.&lt;br /&gt;Buat teman-teman yang sedang kecewa dengan Persahabatan. Renungkanlah;?&lt;br /&gt;Apakah saya sudah menjalani Persahabatan dengan benar??&lt;br /&gt;Dan cobalah memahami arti persahabatan buat hidupmu. Keinginan, semangat, pengertian, kematangan, kelemahlembutan dan segala hal yang baik akan engkau temui dalam persahabatan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-2736511650993188127?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/2736511650993188127/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/cinta-dan-persahabatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/2736511650993188127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/2736511650993188127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/cinta-dan-persahabatan.html' title='Cinta dan Persahabatan'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S0iXm-NDO-I/AAAAAAAAAD0/JSaLDA7K1YQ/s72-c/love.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992366131317225934.post-2970489923444962406</id><published>2010-01-08T08:26:00.000-08:00</published><updated>2010-01-23T05:47:23.901-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SERBA SERBI'/><title type='text'>10 Tips untuk Membina Persahabatan</title><content type='html'>&lt;ol style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Pikirkanlah apa yang dapat kamu berikan kepada sahabatmu bukan apa yang dapat kamu peroleh dari persahabatan. Jangan bersahabat hanya demi memperoleh kesenangan, karena jika demikian, kamu bukanlah sahabat sejati. Hargailah sahabatmu seperti kamu ingin dihargai.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dukunglah sahabatmu. Sahabat sejati selalu saling menyemangati dan ‘mendorong’ supaya mereka bersama- sama dapat menjadi yang terbaik bukannya saling menjatuhkan. Ia turut berbahagia ketika sahabatnya berhasil mencapai apa yang diinginkannya dan tidak merasa tersaingi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bersedia untuk memaafkan. Jangan biarkan ‘luka’ berkembang menjadi kepahitan karena hal ini akan menghancurkan persahabatan yang ada. Maafkan kesalahan yang diperbuat oleh sahabatmu dan jangan biarkan luka itu merusak hubunganmu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangan memandang kesalahan yang dibuatnya. Ini adalah suatu cara untuk menunjukkan betapa kita peduli terhadap dia. Jangan tinggalkan sahabatmu saat dia berbuat kesalahan. Bersabarlah dan tuntunlah dia untuk berubah. Sadarilah bahwa tidak ada orang yang sempurna.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jadilah sahabat yang dapat diandalkan dan tepatilah janji yang telah kamu ucapkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangan mencoba untuk mengontrol sahabatmu. Bersahabat bukan berarti harus selalu bersama-sama. Memang akan sangat menyenangkan bila dapat selalu bersama dengan orang yang kita kasihi. Namun ingat, sahabat kita itu bukan monopoli kita sendiri karena ia juga mempunyai teman lain selain kita. Untuk itu jangan merasa dikhianati ketika temanmu bergaul dengan yang lain, sebaliknya usahakan kamu juga dapat berteman dengan mereka. Hal ini akan membuat kita dan sahabat kita lebih menghargai satu sama lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Selalu ada disaat senang maupun susah. Bergembiralah bersama mereka saat mereka sedang bergembira namun jangan ada hanya pada saat senang saja. Ketika sahabatmu sedang kesal akan sesuatu, berikan mereka perhatian. Yang paling dibutuhkan dari seorang sahabat adalah sepasang telinga yang simpatik dan yang mau memahami perasaan mereka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menerima apa adanya sahabatmu. Jangan menuntut sahabat kita untuk bereaksi dengan cara yang samaseperti yang biasa kita lakukan. Hargailah dia apa adanya termasuk juga keputusan yang dia ambil yang mungkin tidak sesuai dengan kehendak kita.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangan jadi ‘Ember’ (mulut bocor). Belajarlah untuk menjaga rahasia sahabatmu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangan biarkan perbedaan pendapat menghancurkan persahabatanmu. Misalkan kamu sedang berdiskusi dengan sahabatmu dan waktu kamu mengemukakan pendapat yang menurut kamu benar ternyata ia tidak setuju. Bila itu terjadi, jangan terus berdebat yang hanya akan membuat kamu dongkol. Lepaskan hasrat untuk menang sendiri daripada persahabatanmu rusak karenanya.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992366131317225934-2970489923444962406?l=baktipunyacerita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/feeds/2970489923444962406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/10-tips-untuk-membina-persahabatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/2970489923444962406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992366131317225934/posts/default/2970489923444962406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baktipunyacerita.blogspot.com/2010/01/10-tips-untuk-membina-persahabatan.html' title='10 Tips untuk Membina Persahabatan'/><author><name>'Bakti' Kodrati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13006385236672030411</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_LYBCRT0zRLA/S022BL8e9KI/AAAAAAAAAFs/eM6OlOB5M68/S220/Awesome-Bakti+Kodrati.....jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
